Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 125 -


__ADS_3

Maura tersenyum di dekapan ibu mertua nya, ya beberapa menit yang lalu mereka sudah sampai di rumah keluarga Kim. Rumah tempat Daniash di besarkan selama puluhan tahun.


"Mama kangen sama kamu, sayang." Ucap Riana, sambil mengusap lembut kepala sang menantu. 


"Maura juga, Ma."


"Kalian kesini mendadak, jadi Mama gak sempet masakin makanan favorit kalian." 


"Gapapa kok, Ma. Makan seadanya aja." Jawab Maura. 


"Kamu agak berisi ya, apa kamu makan dengan baik, sayang?" Tanya Riana, sama seperti Amira, dia langsung ngeuh dengan perubahan tubuh sang menantu.


"Maura lagi hamil, Ma." Jawab Daniash membuat Riana menganga.


"Sayang, apa benar?" Tanya Riana antusias. Maura mengangguk pelan, jujur saja dia takut dengan reaksi yang akan di tunjukkan oleh ibu mertua nya.


"Wahh, selamat sayang.." Riana kembali memeluk tubuh berisi Maura, sambil menepuk-nepuk punggung perempuan itu. 


"Mama seneng banget, sayang."


"Beneran, Ma? Mama gak keberatan aku hamil lagi?" Tanya Maura.


"Keberatan apa nya? Mama kan gak gendong kamu, sayang." 


"Kali aja gitu Mama keberatan sama berita kehamilan aku gitu."


"Enggak sama sekali, justru mama bahagia kalau kamu hamil lagi. Sudah berapa minggu?" Tanya Riana sambil mengusap perut rata sang menantu.


"Enam minggu, Ma."


"Wahh, selamat ya sayang. Sehat selalu, dan di lancarkan saat persalinan nanti." Ucap Riana, wanita itu mengecupi wajah Maura dengan sayang. 


"Mama tau gak, Maura hamil kembar lagi dong." Daniash ikut nimbrung.


"Hah?" Riana kembali menganga, dia cukup terkejut dengan ucapan mendengar putra nya.


"Kenapa Ma?"


"B-agaimana bisa kembar lagi?"


"Tanyain aja sama Daddy, Ma." Jawab Maura lirih. 


"Kenapa hmm?"


"Tidak apa-apa kok, Ma." 


"Bener? Apa kamu takut sesuatu?"


"Maura takut mama sama papa keberatan dengan kehamilan nya lagi, soalnya Davi sama Anna masih kecil." Bukan Maura, tapi Daniash yang menjelaskan ketakutan istri nya. Tadi saat di perjalanan, Maura sempat mengeluhkan hal ini pada nya. 


"Gapapa kok, sayang. Biar sibuk nya sekalian nanti, kamu lagi hamil muda jangan banyak pikiran ya?"


"Iya, Ma." 


"Kamu mau makan apa hmm? Mama masakin pokok nya." 


"Maura pengen malatang." Jawab Maura sambil tersenyum, karena malatang buatan ibu mertua nya sangat enak. 


"Siap, kebetulan mama habis belanja kemarin. Yuk masuk, sayang. Ayo Hanin, Mira, masuk." Ajak Riana. Mereka semua pun masuk ke dalam rumah besar keluarga Kim. 


"Papah kemana, Ma?" Tanya Daniash karena dia tak melihat keberadaan sang papa disini. 


"Main golf sama teman-teman nya." 


"Ohh, teman-teman lansia kali ya Ma?" 


"Iya, gak mungkin kalau papah mu main sama bujangan." Jawab Riana sambil terkekeh geli. 


"Mama, ada salad buah?" Tanya Maura, membuat Riana terkekeh. Dari dulu, Maura sangat menyukai salad buah, apalagi di kehamilan baby twins. Seperti nya hamil yang sekarang juga begitu.


"Ada dong, kebetulan kemarin Mama baru bikin. Soalnya Dara juga suka."


"Ohh iya, Dara kemana ya?"


"Di rumah nya sama Marsha, mereka kan tinggal disini sekarang." 


"Wahh, nanti kita mampir ya, Dad?" Ajak Maura pada suami nya.


"Iya, nanti. Kamu istirahat dulu sana, jangan kecapean, ingat kamu lagi hamil." 


"Heem, bawel nya kambuh deh." Ucap Maura sambil memutar mata nya. 


"Ya kalau gak mau di bawelin, kamu nya harus nurut, Mom."


"Iya paksuami." Jawab Maura sambil mengunyel-unyel pipi suami nya.


"Sayang, mau salad nya sekarang?" Tanya Riana pada menantu nya.

__ADS_1


"Mau, Ma." 


"Yaudah, mama ambilin dulu ya." Riana pun pergi ke dapur untuk mengambil salad untuk menantu kesayangan nya. Sedangkan Maura mengajak kedua buah hati nya bermain, meskipun baby Anna sedikit rewel karena ini bersama Daddy nya, tapi Daddy nya malah kebelet. 


Tak lama kemudian, Riana datang dengan membawa tiga kotak salad buah di tangan nya.


"Ini sayang, yuk makan dulu." Maura pun mengangguk dan membuka kotak salad lalu memakan nya dengan lahap. 


"Kalian makan juga." Ucap Riana sambil mendorong pelan dua kotak lain nya ke arah Hanin dan Mira.


"Terimakasih nyonya." 


"Sama-sama." Jawab Riana dengan senyum manis nya. 


"Kamu nginep disini, sayang? Biar papah juga tahu kabar nya langsung dari kamu."


"Tapi Daddy besok kerja, Ma."


"Gapapa, berangkat aja dari sini." Bujuk Riana. Padahal, sama seperti Amira dia sangat senang saat menantu nya menginap disini. Dengan begitu, dia akan merasa punya teman dan tidak kesepian lagi karena ada cucu-cucu nya.


"Aku terserah Daddy aja, Ma." 


"Gimana?" Tanya Riana pada putra nya.


"Yah, boleh saja. Toh sama-sama tidur kan." Jawab Daniash, kedatangan pria itu langsung di sambut oleh rengekan baby Anna yang ingin di pangku oleh nya. 


"Mom, jangan gendong Davi. Inget kamu lagi hamil, kemana Hanin sama Mira? Kok malah kamu yang gendong sih." Ketus Daniash, baby Davi langsung di ambil alih oleh Riana. 


"Lagi makan, Dad. Kasian, mereka belum makan pasti kecapean juga ngurusin baby twins yang lagi aktif-aktif nya."


"Ya itu kan sudah tugas mereka, sayang. Daddy bayar mereka mahal lho." 


"Tapi mereka juga sama manusia, Dad. Punya rasa capek, butuh istirahat juga." 


"Hmmm ya sudah, iya." 


"Lho, kalian kapan datang?" Tanya Danish yang baru saja datang dengan menggendong tas besar berisi peralatan golf di punggung nya.


"Ehh papah, sudah pulang pah?" Sapa Maura ramah, dia berdiri dari duduknya lalu memeluk ayah mertua nya.


"Papah bau keringet, hehe."


"Gapapa kok, udahan main golf nya Pah?"


"Sudah, capek. Sudah tua lah, maklum." 


"Ohh begitu ya, yaudah deh." 


"Bukan gendut, tapi lebih berisi aja." Ucap Daniash dengan cepat, sebelum istrinya badmood.


"Iya, sedikit berisi. Kamu ngasih makan apa?" Tanya Danish.


"Biasa aja, nasi, bakso, sama yang lain nya aja."


"Padahal gak ketemu nya cuma seminggu doang, tapi kok perubahan nya.."


"Iya, soalnya Maura lagi hamil, pah. Jadi wajar aja lebih berisi." Jawab Daniash.


"Hah, hamil?"


"Iya, Pah. Udah enam minggu, berarti sebulan setengah." 


"Wahh, papa mau punya cucu lagi dong. Selamat ya, jangan kecapean, perbanyak istirahat." Ucap Danish sambil mengusap kepala menantu nya dengan lembut.


"Papah tau gak, kalau Maura hamil nya twins lagi dong."


"H-ah? Kembar?" Tanya pria paruh baya itu dengan wajah heran nya.


"Iya, kembar. Cuma belum keliatan aja jenis kelamiin nya."


"Selamat ya sayang, sehat-sehat terus sampai waktu nya nanti ya." 


"Iya Pah." Jawab Maura, setidaknya papah mertua nya tidak menolak kehamilan nya, justru malah sebaliknya. 


"Papah kamu sudah di kasih tau?" 


"Sudah, pah." Jawab Maura.


"Hmm baiklah kalau begitu, malam ini kita makan-makan di luar untuk meratakan kehamilan kamu, bagaimana?" 


"Mau pah mau, Maura mau makan steak Wagyu A5." 


"Jangankan A5 sayang, A10 juga ayo." Jawab Danish sambil mencubit kecil pipi cabi menantu cantik nya.


"Papah, jangan cubitin pipi istri aku dong. Nanti bertambah cabi." 


"Dih posesif nya suami mu ini, sayang." Ucap Danish sambil merangkul mesra pundak menantu nya.

__ADS_1


"Papah, ihhh.." 


"Haha, senang nya lihat suami mu cemburu." 


"Papa.." Riana mendelik melihat tingkah suami nya, membuat pria paruh baya itu cengengesan, lalu langsung mendekat ke arah sang istri. 


"Hehe, Mama.."


"Bagus ya, genit sama menantu. Gak di kasih jatah seminggu, baru tahu rasa."


"Mama, maafin dong."


"Enggak, minggir sana. Ayo sayang, kita ke dapur." Ajak Riana pada menantu nya, Maura pun ngikut-ngikut saja bersama mertua nya. Meninggalkan Daniash dan papah nya di ruang tamu.


Daniash tersenyum smirk ke arah sang papah, sedangkan papa nya hanya mendelik ke arah putra nya itu. 


"Apa?"


"Haha, kasian gak dapet jatah nanti malem. Siapa suruh godain istri anak sendiri." 


"Kau seperti nya sangat puas ya melihat papa mu ini menderita hmm? Dasar anak durhakim." Ucap sang papa membuat Daniash tertawa. 


"Tentu saja aku sangat puas, siapa suruh genit sama istri aku." 


"Dih, siapa yang genit? Papa gak suka brownis kali, gak kayak kamu. Papah lebih suka yang usia nya di atas papa."


"Begitu kah? Bukankah aku lebih muda dari kamu, Mas? Ohh jadi.."


"Mama, enggak gitu."


"Awas nanti kalau ke kamar, gak bakal Mama bukain pintu!" Ketus Riana sambil melengos pergi.


"Mama.." Danish langsung menyusul istri nya ke arah dapur. 


Daniash tertawa melihat papah nya begitu ketar ketir saat istrinya merajuk. Ya sama-sama sih seperti dirinya sendiri, sebelas dua belas lah ya, sama-sama suami takut istri.


"Kenapa, Dad?" Tanya Maura, wanita itu datang sambil membawa cemilan di dalam toples.


"Enggak kok, Mom. Apa itu?"


"Kacang mete goreng, Dad. Enak gurih, mau?" 


"Enggak, buat mommy aja. Baby Davi sama Anna kemana ya?" Tanya Daniash, karena tak melihat keberadaan dua bayi gembul itu.


"Tidur siang sama nanny nya, Dad." 


"Kita gak tidur siang juga, Mom?" Tanya Daniash dengan genit. 


"Males, mendingan ngemil. Kamu mah ngajakin ngamar tuh bukan tidur, tapi malah yang lain. Iya kan? Aku tau modus kamu." Ketus Maura sambil mendelik, sedangkan Daniash hanya cengengesan saja. 


"Ayok, Mom. Satu ronde, enak deh di siang hari begini."


"Enggak, capek Dad. Kamu tuh setiap hari minta jatah aja, gak ada libur nya. Apa gak capek?" Tanya Maura, dia heran dengan suami nya yang seolah tiada bosan nya untuk meminta hal itu.


"Enak soalnya, jadi gak bakalan bosen walaupun mau setiap jam."


"Gila, setiap jam. Itu jatah apa penyiksaan hmm?"


"Hehe, sehari dua kali atau tiga kali aja kayak minum obat. Yuk?" Ajak Daniash.


"Enggak, Dad."


"Ayolah.." bujuk Daniash.


"Mamaa, tolong.." Teriak Maura membuat Daniash gelagapan.


"Sayang, kok teriak sih."


"Ya habisnya kamu maksa sih, nanti malam aja ya Dad? Aku capek, plis." 


"Kenapa sayang?" Tanya Riana.


"Eehh enggak kok, Ma." Jawab Daniash buru-buru.


"Bohong, kamu maksa istri kamu ya?" Tanya nya dengan curiga, membuat Daniash nyengir.


"Ingat, istri kamu lagi hamil muda. Gak boleh terlalu sering berhubungan, apalagi ini siang hari, panas terik gini mau bergulung selimut."


"Tapi kan, Ma.."


"Udah, sayang. Kamu ikut mama aja yuk." Ajak Riana, Maura pun mengikuti langkah mama mertu nya saja dari pada di hajar oleh suami nya.


"Sayang.."


Maura berbalik lalu menjulurkan lidah nya mengejek suami nya.


"Awas aja nanti malem." Gumam Daniash sambil menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2