
Setelah selesai dengan drama kedamaian mertua dan menantu itu, akhirnya dua buah kelapa muda pun mereka dapatkan meski dengan beberapa drama menghebohkan.
Kini, yang menjadi masalah adalah cara membuka nya. Kedua nya tak bisa membuka cangkang kelapa muda itu, berkali-kali mencoba namun tetap tak bisa. Akhirnya Elgar sebal dan menendang kelapa itu seperti bola.
"Paling bener emang beli di pinggir jalan!" Celetuk nya, sambil mengusap keringat di dahi nya.
"Masa kita kalah sama monyet sih, Pah? Monyet aja bisa buka kelapa, masa kita gak bisa." Ucap Daniash, masih berusaha membuka kelapa yang dia pegang.
"Lu mau di banding-bandingin sama monyet? Sial."
"Hehe, mereka kan gak bisa pake golok. Cuma pake gigi, tapi bisa kebuka. Lah kita?"
"Yaudah, akalin sendiri."
"Terus Papa mau kemana?" Tanya Daniash melihat papa mertua nya berjalan menjauh, lebih tepatnya ke parkiran.
"Beli es kelapa muda di perempatan." Jawab Elgar datar, lalu menaiki sepeda motor nya, juga helm di kepala nya.
"Sip, beliin buat menantu kesayangan mu ini."
"Males, udah akalin aja itu sampe kebuka."
"Susah, Pah."
"Minta tolong sama monyet sana." Daniash mencebik sebal mendengar ucapan papa mertua nya.
Elgar melajukan sepeda motor nya keluar dari rumah mewah nya, meninggalkan Daniash sendirian dengan kelapa.
"Sudah mah ngambil nya susah setengah mati, eehh buka nya juga susah. Emang paling bener beli aja, tinggal minum doang." Rutuk Daniash sambil melempar buah kelapa yang sudah berantakan.
"Papah kemana, Nak?" Tanya Amira.
"Keluar beli es kelapa muda, Ma." Jawab Daniash sambil menepuk-nepuk celana nya yang kotor. Akibat di pukul pakai sendal, lalu duduk di teras rumah, belum lagi betis nya terasa gatal karena tergesek pohon kelapa tadi.
"Memang nya yang tadi kalian petik kenapa?"
"Susah buka nya, Ma."
"Astaga.." Amira menggelengkan kepala nya, entah berapa kali dia di buat keheranan sendiri dengan tingkah kedua pria berstatus mertua dan menantu itu.
"Kalau ujung-ujungnya tetep beli, kenapa susah-susah ngambil tadi?"
"Tau tuh papa."
Sedangkan Maura memilih mengemil buah naga, dia memang membiasakan ngemil buah-buahan sehat. Tadi pagi ngemil melon, sekarang ngemil nya buah naga.
"Bby.."
"Hmm, dapat kelapa muda nya?"
__ADS_1
"Dapat, tapi gak bisa buka nya Bby." Jawab Daniash sambil cengengesan, membuat istrinya mendengus.
"Terus?"
"Tenang, adek bayi gak bakal ileran kok, papa lagi beli es kelapa muda ke perempatan."
"Ohh, kenapa gak Daddy yang beli? Kan yang ngidam aku."
"Hehe, tadi Daddy masih usaha buka kelapa nya tapi susah."
"Yaudah sini, berantakan banget."
"Daddy mandi dulu ya, bau keringet."
"Ya, jangan lama." Jawab Maura datar, namun tetap terselip perhatian di dalam nya.
Daniash pun mengecup singkat kening sang istri, lalu pergi ke kamar nya dengan meniti satu persatu anak tangga.
Tak butuh waktu lama, Daniash keluar dengan pakaian yang berbeda, rambut nya kelimis seperti biasa.
"Bby.."
"Hemm.."
"Ya ampun Bby, Daddy minta maaf. Jangan cuekin Daddy gini dong, gak enak banget kalo kamu ngomong nya singkat gitu." Rengek Daniash.
"Iya iya, sini Daddy nya." Maura menepuk sofa kosong di samping nya. Daniash menurut, tapi bukan nya duduk. Dia malah oleng dan merebahkan kepala nya di pangkuan sang istri, menggantikan piring berisi potongan buah yang sedang istrinya makan.
"Enggak kok Bby, cuma kepanasan doang tadi."
"Maaf ya.."
"Maaf kenapa? Kamu bikin salah apa sama Daddy?"
"Udah nyusahin Daddy, gara-gara pengen kelapa muda."
"Gapapa sayang, harusnya Daddy yang minta maaf gak bisa ngasih apa yang kamu mau. Padahal, ini pertama kali nya kamu ngidam pengen sesuatu."
"Daddy kan udah usaha."
"Iya, tapi ujung-ujungnya tetep papa yang beliin."
"Gapapa, toh sama aja kan? Udah, gak usah di pikirin Dad." Maura mengusap rambut sang suami dengan lembut.
"Cieee, udah akur aja. Gak jadi tidur di ruang tamu dong." Goda Elgar yang baru saja datang dengan menenteng dua kantong kresek berisi es kelapa muda.
"Hehe, Papah. Ada kelapa muda nya?"
"Ada, nih. Sekalian, papa beliin jajanan juga biar kamu gak bad mood."
__ADS_1
"Makasih papa, ngerti banget deh apa kesukaan anaknya."
"Heemm, kamu memang putriku."
"T-api Pah, Maura gak boleh makan es." Ucap Daniash.
"Ya, papa tau. Jadinya, khusus untuk Maura gak di pakein es. Kurang pengertian apa mertua mu ini hmm?"
"Hehe, makasih Pa." Elgar hanya mengangguk, lalu mengeluarkan satu bungkus kelapa muda dari dalam kresek.
"Punya kamu, papa pesenin dua buah kelapa, biar puas makan nya."
"Papa, makasih banget ya." Ucap Maura, sambil menatap sang papa dengan sendu.
"Sama-sama putri cantik ku, ayo di makan es nya keburu bad mood lagi."
"Iya Pah." Maura pun memakan es kelapa muda itu dengan lahap, terasa menyegarkan saat melewati tenggorokan nya. Harusnya terasa lebih nikmat jika di tambah es, tapi demi kandungan nya dia harus menahan keinginan nya.
"Huhh, seger nya. Makasih grandpa, adek bayi gak bakal ileran lagi."
"Sama-sama calon cucu, grandpa."
Daniash menatap istrinya dengan sendu, harusnya dia yang memberikan keingan istri nya, tapi sekarang malah papa nya yang memberikan nya. Padahal, tanggung jawab seorang ayah sudah dia ambil alih di hari pertama setelah dia mengucap janji suci di depan pendeta hari itu.
"Udah, gak usah sedih. Maura ngidam bukan cuma hari ini doang, besok-besok kalau istrinya ada mau, harus cepat tanggap. Kamu harus tau, mood ibu hamil itu gampang berubah, jadi sebaiknya kau harus gerak cepat sebelum istrimu merajuk seperti tadi."
"Iya Pa, makasih nasehat nya."
"Ya, sama-sama. Meskipun aku pecicilan, tapi aku bisa bijak juga."
"Hahaha, papa ini ada-ada aja." Ucap Maura sambil terkekeh pelan. Elgar hanya membalas kekehan putri nya dengan senyum tipis. Dia selalu senang saat melihat putrinya tertawa lepas.
Selama ini, putri nya jarang tertawa selepas itu mungkin karena rasa tertekan nya, tapi sekarang? Lihatlah, banyak perubahan yang dia lihat dari sosok putrinya setelah dia bersama Daniash.
'Putriku sudah bersama pria yang tepat, syukurlah aku bisa tenang.' Batin Elgar, dia tersenyum kecil saat melihat kemesraan pasangan itu.
"Papa, kok natap Maura nya gitu banget. Kenapa? Maura tau kok, kalau Maura itu cantik."
"Kamu ini terlalu percaya diri, sayang. Tapi, kamu memang cantik kan papa sama Mama yang bikin."
"Heemm, perut Maura kenyang isi kelapa muda nih sampe buncit begini. Begah banget rasanya." Ucap Maura membuat Daniash terkekeh.
"Kalau pun gak kenyang sama kelapa muda, perut kamu memang buncit sayang. Kan ada adek bayi disini."
"Eehh, iya juga ya. Aku kok lupa ya." Ucap Maura sambil cengengesan.
"Kamu ini Bby." Maura tersenyum lalu memeluk suaminya.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻