
Daniash tengah di landa kepanikan saat ini, pasalnya tadi sekretaris nya mengabari kalau hari ini dia tak bisa masuk kerja karena istrinya akan melahirkan. Panik, ya tentu saja panik karena dia sudah berada di kantor dan dia harus pulang untuk memberitahu istrinya tentang sahabatnya itu.
Yaps, sudah dua bulan berlalu. Dan hari ini, hari yang paling di tunggu-tunggu oleh pasangan Nayna dan Aryo datang juga. Dimana, baby boy akan segera launching.
Sebenarnya, perut nya sudah terasa mulas sejak semalam. Tapi Nayna tak menghiraukan nya, karena dia berfikir mungkin ini hanya efek kekenyangan saja. Karena Nayna sangat suka makan setelah kandungan nya semakin membesar, hingga dalam waktu satu bulan saja berat badan Nayna bertambah hampir 5 kilogram.
Saat pagi hari nya, sakit di perut semakin terasa. Bahkan di iringi keluar nya cairan yang bercampur dengan bercak-bercak darah, disitulah Aryo panik dan langsung membawa istri nya ke rumah sakit.
Untung saja, dia sudah membeli mobil karena saran dari Daniash dan sekarang dia sangat bersyukur karena atasan nya itu begitu memperhatikan nya.
"Dad.."
"Sabar ya, Bby. Sebentar lagi kita sampai, tahan sedikit lagi." Jawab Aryo, pria itu mengemudikan mobil nya di atas kecepatan rata-rata karena ini keadaan darurat.
Setengah jam kemudian, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Aryo tiba di rumah sakit. Beruntung nya, Nayna langsung di tangani saat itu juga.
"Masih pembukaan lima, Nona."
"Ta-pi sakit sekali, sus." Lirih Nayna, kening nya di penuhi keringat karena beberapa jam menahan rasa sakit karena kontraksi.
"Sabar ya, Nona. Ini sakit yang biasa sebelum melahirkan." Jawab perawat itu dengan ramah. Nayna mengangguk, dia menggenggam tangan suami nya dengan erat.
"Dad.."
"Iya, sayang? Sakit ya? Maafin Daddy ya, Bby."
"Sa-kit banget, Dad." Lirih Nayna.
"Sus, bagaimana ini? Istri saya kesakitan begini."
"Ini sakit yang wajar, Tuan. Semua ibu hamil yang akan melahirkan merasakan rasa sakit yang sama seperti ini." Jawab perawat itu.
"Apa tak ada cara untuk menghilangkan rasa sakit nya?"
"Tidak ada, Tuan. Nanti setelah bayi nya keluar, sakit nya akan hilang." Jawab perawat itu dengan ramah. Suami yang khawatir melihat istrinya kesakitan seperti ini sudah sering dia temui, itu hal yang wajar.
"Nona, untuk mempercepat pembukaan sebaiknya berjalan-jalan dengan perlahan."
"Bagaimana bisa istriku berjalan-jalan di tengah kesakitan nya ini hah?" Sentak Aryo dengan emosi.
"Bukankah Tuan ingin istri anda tak merasakan sakit lagi? Kalau iya, berarti sang ibu harus segera melahirkan bayi nya."
"Lalu hubungan nya dengan pembukaan apa?" Tanya Aryo lagi.
"Proses melahirkan hanya bisa di lakukan setelah pembukaan lengkap, yaitu sampai pembukaan 10. Sekarang pembukaan nya masih 5, bukankah masih cukup lama? Untuk itu, saya menyarankan ibu untuk berjalan-jalan. Tak perlu jauh-jauh, disini saja." Jelas perawat itu dengan sabar.
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa, panggil saya di depan. Saya akan menyiapkan alat-alat persalinan nya terlebih dulu, permisi." Pamit perawat itu, lalu pergi dari ruangan.
"Dad, ayo bantu aku berjalan-jalan. Aku ingin segera melahirkan."
"Iya sayang." Aryo pun membantu istrinya berjalan-jalan. Hingga suara ponsel membuyarkan semua nya, Aryo mengangkat nya yang ternyata panggilan dari Daniash.
"Hallo, Tuan."
'Di ruangan mana? Aku kesana bersama Maura.'
"Di ruang anggrek nomor dua, Tuan." Jawab Aryo.
'Ya, aku kesana sekarang.'
Panggilan pun selesai, Aryo memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku. Pria itu kembali membantu istrinya berjalan dengan perlahan, meskipun Nayna sering berhenti karena menahan sakit mungkin.
"Dad.."
"Sabar ya sayang?"
"Heemm, Iya Daddy. Aku tak sabar ingin melihat bayi kita, Dad."
"Iya, kamu nya harus kuat ya? Daddy percaya, kamu pasti bisa melewati semua ini."
"Iya Daddy." Nayna kembali berjalan-jalan, saat pintu terbuka menampilkan Daniash dan Maura yang menampakkan wajah khawatir nya.
"Hai, Ra.." balas Nayna dengan sedikit senyum nya.
Maura meletakan paperbag yang entah berisi apa, dia mendekat dan membingkai wajah sahabat nya yang di penuhi keringat.
"Sakit?"
"Iya, Ra." Jawab Nayna lirih.
"Aku bawa air gula, waktu itu aku juga di kasih sama Mama biar ada tenaga pas ngeden nanti."
"Boleh, Ra." Maura pun mengambil air gula merah hangat yang tadi sempat dia buat sesaat setelah suami nya mengabari kalau sahabat nya tengah berada di rumah sakit.
"Di minum dikit-dikit aja."
"Makasih banget, Ra."
"Sama-sama, Nay. Udah pembukaan berapa?" Tanya Maura.
"Kata perawat tadi baru pembukaan lima, jadinya aku di saranin buat jalan-jalan dulu."
"Iya, aku juga waktu itu udah pembukaan tujuh masih di suruh jalan-jalan, biar cepet nambah pembukaan." Jelas Maura.
__ADS_1
"Mules nya semakin cepet ya, Ra."
"Iya, apalagi kalau udah pembukaan sembilan atau sepuluh, sampe aku mau nafas aja rasa nya tuh sesek gitu."
"Semoga aku di cepetin lahiran nya."
"Iya, biar gak sakit lagi ya.." Maura mengusap punggung dan pinggang sahabatnya.
"Panas banget, Nay. Udah sakit banget?" Tanya Maura, Nayna menganggukan kepala nya.
"Om, panggilin dokter dong. Aku curiga udah penuh deh pembukaan nya."
Aryo menganggukan kepala nya dan berlari secepat mungkin keluar dari ruangan perawatan untuk memanggil dokter.
Setelah beberapa menit berlalu, Aryo kembali masuk dengan seorang dokter wanita yang membawa tas besar berisi alat-alat untuk persalinan.
"Ra.."
"Jangan takut, Nay. Aku doain dari luar ya?" Ucap Maura, dia mengusap kening sahabatnya.
"Doain aku ya, Ra."
"Pasti, aku doain dari luar sana. Semangat bestie." Nayna mengangguk samar, Maura dan Daniash pun keluar dari ruangan meninggalkan Nayna bersama Aryo.
Dokter itu pun memakai sarung tangan dan kembali mengecek pembukaan nya.
"Sudah pembukaan sempurna, bisa melahirkan sekarang juga, Nona. Bersiap ya."
"Baik, dok."
"Tuan, silahkan pakai ini." Ucap suster pendamping mengulurkan pakaian steril, Aryo segera memakai nya dan kembali mendekati brankar tempat istrinya berbaring.
"Semangat sayang, kamu pasti bisa." Bisik Aryo, Nayna pun mulai mengeden mengikuti arahan dokter.
"Wah, kepala nya sudah terlihat Nona, ayo semangat, sedikit lagi." Seru dokter itu menyemangati sang ibu yang tengah berjuang itu.
Nayna pun kembali mengeden sekuat tenaga, hampir setengah jam kemudian suara tangis turut meramaikan ruangan itu. Tangis yang nyaring hingga membuat tangis Nayna pecah, begitu juga Aryo. Namun sekuat tenaga, dia menahan nya. Dia harus terlihat tegar di depan sang istri.
Aryo menggendong bayi laki-laki yang sangat tampan itu setelah di bersihkan, sedangkan Nayna harus kembali berjuang menahan rasa sakit. Karena terjadi robekan yang cukup besar, hingga membuat dokter harus menjahit bekas jalan lahir nya.
"Aaahhh Dok, sakit.." Teriak Nayna, membuat Aryo menatap istrinya dengan sendu. Setelah berjuang dengan rasa sakit akibat kontraksi selama berjam-jam, kini dia harus kembali menahan rasa sakit karena jarum pancing yang mengoyak inti miliknya.
Bayangkan saja bagaimana sakit nya, di jahit hidup-hidup tanpa suntikan penghilang rasa sakit.
"Attarazka Haidar Mahessa." Gumam Aryo, sudah lama dia menyiapkan nama itu untuk putra nya, dia juga sudah membicarakan tentang nama ini bersama istrinya, dan Nayna menyetujui nya.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1