
"Sore cantik." Sapa Aryo ramah pada gadis nya.
"Sore juga, Dad. Sudah selesai kerja nya?" Tanya Nayna, tersenyum kecil pada sang Daddy.
"Sudah dong, gimana Mama? Sudah ada perkembangan?" Aryo duduk di samping Nayna.
"Masih belum, Dad." Lirih Nayna, nyaris tak terdengar. Untung nya, telinga nya masih sangat baik, jadi bisa mendengar suara lirih gadisnya.
"Sabar ya, Bby? Kita hanya bisa berdoa, semoga saja mama cepat sehat seperti sedia kala."
"Heem, Dad."
"Sudah makan, sayang?" Tanya Aryo, tangan nya merangkul mesra pundak Nayna.
"Belum, Dad."
"Kok belum sih? Kalau kamu sakit gimana hmm?"
"Belum lapar, Dad." Jawab Nayna sambil menundukan kepala nya.
"Jangan bohong, kamu kan hobi makan. Ayo makan dulu, kita makan di cafe yang baru buka di ujung jalan. Kata nya makanan nya enak-enak lho, ada makanan ala Korea juga."
"Serius, Dad? Mau dong."
"Yaudah ayok, Bby." Ajak Aryo, tapi lagi-lagi Nayna berbalik dan menatap sendu sang ibu yang terbaring lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
"Mama gimana?"
"Nanti bisa di titipin sama dokter atau perawat yang berjaga, kita gak lama kok cuma makan doang."
"Ohh yaudah." Pasrah Nayna, keduanya pun pergi dari ruangan rawat itu. Aryo menyatukan jemari besar nya dengan milik Nayna.
"Permisi, sus."
"Iya, Nona?" Tanya perawat yang kebetulan lewat.
"Saya nitip mama saya di ruangan itu ya, sus?"
"Baik nona."
"Saya gak lama kok, mau makan dulu. Setelah makan saya langsung kesini lagi."
"Baik Nona." Jawab Perawat itu dengan ramah.
Nayna dan Aryo pun kompak mengangguk pelan, lalu pergi menjauh dari rumah sakit.
"Bby, kamu tau gak kalau Nona Maura pendarahan? Hampir saja kegu.."
"Apa? Pendarahan kenapa, Dad?" Tanya Nayna dengan ekspresi panik nya. Pasti dia sangat khawatir setelah mendengar keadaan sahabatnya.
"Kata tuan Daniash, nona Maura mengalami shock, karena kedatangan mantan istrinya."
"Herra maksud Daddy?" Tanya Nayna lagi. Aryo mengangguk.
__ADS_1
"Aisshh, wanita itu gak ada habis-habisnya bikin gara-gara. Kasian banget Maura nya, tapi kandungan nya baik-baik aja kan, Dad?"
"Iya, kandungan nya baik-baik aja, Bby."
"Aaahh syukurlah kalau baik-baik saja." Nayna mengusap dada nya, merasa lega sekaligus tenang.
"Jadi, gagal pulang dong?"
"Iya, harus di rawat lagi sampai pendarahan nya sembuh. Tapi sepertinya, besok juga bisa pulang."
"Syukurlah kalau begitu, Dad. Aku lega mendengar nya." Ucap Nayna.
"Tadi juga dia ngotot pengen nemenin kamu disini, tapi di larang sama Tuan Daniash karena keadaan nya yang belum stabil."
"Padahal aku baik-baik aja kok, dia harus sembuh dulu."
"Iya Bby, mungkin dia ngerasa gak enak karena gak ada saat kamu di kondisi begini."
"Gapapa kok, aku cuman belum terbiasa aja sama keadaan saat ini." Lirih Nayna.
"Udah, jangan sedih-sedih sayang. Kita makan dulu ya? Sudah sampai."
Nayna mengangguk, keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe yang baru saja grand opening itu.
"Kamu mau makan apa, Bby?" Tanya Aryo sambil membuka buku menu.
"Wah, aku mau sup odeng sama toppoki aja Dad."
"Itu saja?" Tanya Aryo lagi.
"Sup odeng nya dua, toppoki pedas satu, steak medium rare saus lada hitam nya satu, melon bingsu sama jus mangga." Ucap Aryo, waiters itu mencatat semua pesanan pelanggan nya.
"Baik Tuan, tunggu sebentar ya." Aryo dan Nayna mengangguk kompak.
"Bby.."
"Iya Daddy, kenapa?"
"Untuk pertanyaan mu hari itu, ya Daddy siap."
"Hah? Benarkah, jangan becanda Dad."
"Daddy serius, sayang. Kalau ibu mu sudah sadar dari koma nya, Daddy akan langsung meminta restu untuk menikahi mu."
Jantung Nayna berdetak lebih kencang, hati nya berdebar kencang karena ucapan pria di depan nya.
"Dad, ini serius?"
"Husshh, iya sayang Daddy serius lho ini."
"Syukurlah, akhirnya."
"Kamu senang?"
__ADS_1
"Banget dong, Dad. Akhirnya perasaan aku terbalas setelah sekian lama."
"Maafin Daddy, membuat kamu menunggu ya Bby?"
"Gapapa, Dad. Karena Daddy worth it untuk di tunggu." Jawab Nayna sambil tersenyum manis.
"Kamu ini ada-ada aja, Bby." Aryo tersenyum juga melihat tingkah gadis nya.
"Fakta nya kan gitu, Daddy pria yang pantas di tunggu."
"Iya, terserah kamu saja, Bby." Ucap Aryo pasrah.
Tak lama kemudian, makanan yang di pesan pun datang. Nayna langsung makan dengan lahap, bahkan tak terlihat kepedasan sama sekali. Padahal di lihat dari warna nya saja, sudah bisa di pastikan kalau makanan ala Korea itu pedas.
"Gak pedes, Bby?"
"Enggak kok, enak Dad. Cobain deh." Nayna bersiap menyuapi Aryo dengan toppoki nya. Pria itu menerima nya, lalu mengunyah nya. Seketika itu, wajah nya memerah karena kepedasan.
"Bby, pedes banget itu." Ucap Aryo sambil meminum jus nya hingga habis setengah nya.
"Pedes? Menurut aku enggak kok, Dad."
"Pedes banget itu, Bby. Lain kali, jangan pesen makanan ini lagi, gak baik buat kesehatan."
"Iya Dad." Pasrah Nayna, keduanya pun kembali makan. Sesekali, Nayna iseng mengambil potongan daging di piring Aryo, tapi sejauh ini pria itu hanya membiarkan, terlihat tak keberatan sama sekali.
Di rumah, Maura akhirnya di perbolehkan pulang setelah di nyatakan sembuh, keadaan nya sudah sangat stabil. Jadi, dia bisa di bawa pulang. Maura sangat senang, akhirnya dia bisa menghirup udara rumah kembali. Meski di rumah suaminya, alias rumah mertua nya.
"Daddy.." Maura tersenyum saat melihat suaminya pulang dengan wajah kuyu nya.
"Baby, bagaimana keadaan mu?"
"Seperti yang Daddy lihat, aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik, Dad." Jawab Maura sambil tersenyum, dia langsung menggelayut manja di lengan suaminya.
"Apa kata dokter?"
"Tak ada apa-apa, Dad. Aku baik-baik saja dan sudah sembuh, hanya saja jangan terlalu kelelahan." Jelas Maura.
"Hemm, Daddy kangen sama kamu Bby."
"Kangen? Kita kan setiap hari ketemu, kok kangen?" Tanya Maura.
"Kangen aja pokoknya." Ucap Daniash sambil mencium bibir istrinya singkat, karena sebuah suara mengganggu kegiatan nya menyosor para sang istri.
"Heh, jangan berbuat disini. Sana di kamar, bucin gak tau tempat." Ketus Danish, membuat putra nya mendelik sebal karena kesenangan nya terganggu.
"Daddy sih.." Maura menepuk pelan lengan suami nya, bisa-bisa nya dia berbuat seenaknya. Padahal posisi mereka berada di ruang tamu saat ini, bukan di kamar. Karena, Danish dan Riana membawa menantu mereka pulang sebelum Daniash pulang kerja. Tentu nya setelah izin lewat telepon.
Niat hati, apalagi Elgar ingin sekali mengerjai menantu tua nya itu, dia ingin membawa Putri nya pulang ke rumah tanpa harus meminta izin terlebih dulu pada Daniash, agar dia kelimpungan mencari istrinya.
Tapi niat itu tak terealisasi, karena Amira tak setuju. Padahal Danish dan Riana setuju-setuju saja, kapan lagi bisa mengerjai menantu tua nya itu kan? Inilah satu-satunya kesempatan, tapi kesempatan itu terbuang sia-sia.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻