Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 74 - Drama Pasangan Bucin


__ADS_3

"Daddy.." 


"Iya baby, kenapa sayang?" Tanya Daniash, pria itu langsung terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara lirih dari sang istri.


"Perut aku sakit, Dad." 


"Lho kenapa, Bby? Pasti gara-gara telat makan deh." Ucap Daniash, dia langsung mengusap perut sang istri.


"Heem, aku lapar juga Dad." 


"Yaudah, Daddy siapin dulu ya." Maura mengangguk, dia melihat suaminya menyiapkan makanan untuk makan sang istri.


Daniash adalah suami siaga, meskipun dia mengantuk dan kelelahan karena menjaga istrinya seharian ini. Tapi, saat istrinya memanggil, dia dengan sigap terbangun dengan cepat.


Pria itu menyuapi istrinya makan dengan sup buatan sang ibu, sup buntut yang masih tersisa cukup banyak.


"Kenyang, Dad."


"Baru juga dua suap, masa kenyang sih Bby?" Tanya Daniash dengan lembut.


"Makan lagi ya? Habisin." Bujuknya, namun Maura tetap tak mau juga.


"Yaudah deh, kamu tidur lagi aja. Ini biar Daddy yang habisin." Pasrah Daniash.


"Tapi itu makanan nya bekas aku, Dad. Gak jijik?" Tanya Maura lirih.


"Kita suami istri Bby, mana ada Daddy jijik. Biasa nya juga tukeran air liur." 


"Gak gitu konsep nya Daddy ihh.." rengek Maura terdengar manja, membuat Daniash terkekeh geli.


"Ya terus gimana hmm?" Tanya Daniash membuat wajah Maura memerah.


"Malah ngeblushing, di tanya tuh." 


"Habisnya Maura bingung mau jawab apaan." 


"Udah, gak usah di pikirin. Sekarang kamu lanjut tidur lagi aja ya Bby?"


"Iya, besok mau pulang." Rengek wanita itu.


"Iya iya, kalau kata dokter sudah boleh pulang ya kita pulang, Bby." 


"Yaudah, aku bobo duluan ya Dad." Daniash mengangguk, Maura pun berbaring bersiap kembali memejamkan matanya. Sedangkan dirinya meneruskan makan. 


Para orang tua sudah pulang tadi, mereka tak menginap disini karena permintaan Daniash. Dia bisa menjaga istrinya sendiri, toh Maura bukan sakit parah, hanya pendarahan saja karena shock akibat kedatangan Herra.


Setelah menyelesaikan makan nya, Daniash memilih memainkan ponselnya, membuka beberapa email yang di kirim sekretaris nya sebelum tidur, besok dia harus ngantor mau tak mau, karena ada meeting penting yang tak bisa di wakilkan oleh Aryo.


Setelah selesai, barulah Daniash kembali melanjutkan tidurnya. Itupun tertidur di sofa, karena dia tak sanggup jika harus tidur sambil duduk. Itu akan membuat pinggang nya sakit, bagaimana dia bekerja kalau sakit pinggang?


Keesokan paginya, Amira dan Elgar datang lebih dulu ke rumah sakit. Mereka membuka pintu ruangan dengan perlahan, hati mereka menghangat saat melihat Daniash sudah duduk di kursi sambil terus memegangi tangan Maura, sepagi ini dia sudah bangun.


"Selamat pagi.." 


"Ehh Mama, pagi Ma." Jawab Daniash dengan ramah. Sedangkan Maura hanya tersenyum kecil saja.


"Sudah makan, Nak?"


"Belum, Ma." Jawab Daniash apa adanya, toh dia memang belum makan apapun pagi ini.


"Ini, mama buatin ayam lengkuas. Suka?"


"Suka dong, Ma. Apapun yang penting namanya makanan, pasti aku suka." Jawab Daniash sambil tersenyum.


"Ya sudah, makan dulu. Kamu ke kantor hari ini?"


"Iya Ma, ada meeting penting yang gak bisa di wakilkan sama Aryo. Gak lama kok, paling setengah hari." 


"Heem, yuk makan dulu." Ajak Amira, Daniash pun bangkit dari duduknya, meninggalkan istrinya sebentar.

__ADS_1


"Daddy.."


"Iya, sebentar sayang. Daddy ngambil ini dulu, kamu makan juga ya?"


"Iya Dad." Jawab Maura. Seperti biasa, pria yang beberapa hari ini berstatus suami dari putri keluarga Wijaya itu langsung menyuapi istrinya, langsung dengan tangan nya sendiri. 


"Pelan-pelan makan nya, Bby." 


"Daddy yang pelan-pelan nyuapin nya, aku kan makan nya di suapin Daddy." Jawab Maura, membuat Daniash nyengir tanpa dosa.


"Maklum sayang, dia kan sudah tua jadi pelupa, pikun." Celetuk Elgar membuat Daniash mendelik ke arah papa mertua nya itu.


"Nimbrung aja, padahal gak di ajak." Sinis Daniash, gantian kini Elgar yang mendelik pada menantu nya.


"Ckkk.."


"Sudahlah Pa, jangan cari gara-gara sama menantu mu itu." Ucap Amira.


"Dih, emang siapa yang nyari gara-gara sama pria tua itu? Papa enggak tuh, dia nya aja yang sensian." Jawab Elgar acuh, seolah tanpa salah apa-apa. Padahal semua orang tau, kalau dia lah yang memulai tapi tak mau di salahkan. 


"Kata orang, perempuan yang selalu benar kan? Lain halnya disini, hal itu tak berlaku. Disini, papa yang selalu benar." Celetuk Amira membuat suaminya itu memutar mata nya.


"Mama ini, selalu saja membela dia. Padahal dia cuma menantu, papa kan suami." 


"Iya, tapi suaminya kek gimana dulu. Mama gak bela siapa-siapa, tapi disini memang semua orang tau kalau papa yang memulai tapi tak mau di salahkan." Jawab Amira.


"Biarin aja Ma, dia kan lebih tua dari kita." 


"Mama lebih tua sih, tapi gak kelihatan tua kan? Mama masih cantik." 


"Iya iya, mama masih cantik kok. Tapi.." 


"Tapi apa?" Tanya Elgar dan Amira bersamaan.


"Lebih cantikan istri aku." Jawab Daniash membuat keduanya kompak memutar mata jengah, mendengar jawaban menantu nya.


"Kayak gak pernah muda aja ya, Dad." 


"Heem, biarin aja sayang." Daniash pun melanjutkan menyuapi istrinya makan. Perempuan itu pun menerima suapan dari tangan suaminya dengan lahap. Entahlah, makanan pagi ini terasa sangat enak. 


"Kenyang, Dad."


"Oke, Bby. Daddy belum kenyang nih."


"Tambah lagi, masih banyak ini." Daniash cengengesan, lalu menambah nasi dan lauk nya.


"Rakus."


"Papa, ihh gak baik gitu. Minta maaf." 


"Hemm, maaf."


"Yang ikhlas!" Tegas Amira membuat Elgar menghela nafas nya dengan berat.


"Maaf." 


"Gapapa papa mertua, saya sudah terbiasa dengan sindiran anda. Tapi, sumpah demi apapun, anda harus lebih bekerja keras untuk membuat saya tersinggung." Jawab Daniash panjang lebar.


"Cihh.." pria paruh baya itu berdecih lalu menyedekapkan kedua tangan nya di dada.


"Nyebelin ya, Dad?"


"Gak boleh gitu, Bby. Dia papa kamu, tapi untung aja kamu mirip mama kamu. Kalau kamu kayak bapak kamu, Daddy bakal mati muda, darah tinggi soalnya." 


"Haha, Daddy gak boleh ngomong gitu ihh. Kalau Daddy mati muda, aku sama anak-anak gimana?"


"Iya iya, Daddy gak kemana-mana kok. Cuma mau kerja aja sebentar lagi, nungguin Aryo jemput." 


"Hati-hati kerja nya ya, Dad." 

__ADS_1


"Tentu saja Bby." Daniash tersenyum manis, sambil membelai wajah cantik istrinya.


Setelah selesai dengan makan nya, Daniash pergi ke kamar mandi dan kebetulan juga, saat itulah Aryo datang untuk menjemput sang atasan.


"Permisi, tuan dan Nyonya, nona Maura, apa tuan ada?" Tanya Aryo ramah.


"Daddy lagi di kamar mandi, Om." 


"Ohh baiklah, saya tunggu disini saja." Aryo duduk di sofa sambil menunggu Daniash keluar dari kamar mandi. 


Tak lama kemudian, Daniash keluar dengan wajah datar nya. Rambutnya sedikit basah, juga wajahnya.


"Sudah datang rupanya, kenapa telat?" Tanya Daniash.


"Emm, maaf tuan. Semalaman saya tak tidur karena menunggui calon ibu mertua di rumah sakit, jadi bangun nya sedikit kesiangan, hehe." 


"Ibu nya Nayna kenapa om?" Tanya Maura penasaran.


"Koma, Nona. Pembuluh darah nya pecah dan telat di bawa ke rumah sakit." Jawab Aryo.


"Hah? Astaga, terus Nayna gimana sekarang, Om?"


"Di rumah sakit, kemarin sempat histeris tapi sekarang sudah membaik, makanya saya bisa pergi bekerja, Nona." Jawab Aryo pelan.


"Ya ampun Nayna, pasti dia merasa sendirian sekarang. Aku akan kesana menemani nya."


"Baby, ingat kesehatan mu dan anak-anak kita." Peringat Daniash.


"Tapi Nayna sendirian, Dad. Teman macam apa aku ini? Tak ada disaat dia sedang terpuruk." 


"Daddy tau, tapi kamu harus ingat kesehatan kamu juga sayang, kamu tidak sendirian sekarang. Ada nyawa lain yang bersemayam dalam rahim kamu, Bby. Jadi, menurutlah." Ucap Daniash.


"Apa yang di katakan suami mu benar, sayang." 


"Kalau saja kamu sehat, Daddy gak larang. Tapi keadaan kamu saja lemah begini, lalu kamu ingin menemani Nayna? Tolong, jangan berbuat hal yang akan merugikan kita." 


"Iya-iya Daddy."


"Bilangin sama Nayna, maaf aku gak bisa kesana ya, Om?"


"Baik Nona, tentu. Akan saya sampaikan nanti." Jawab Aryo sambil tersenyum.


"Kalau begitu, Daddy ke kantor dulu ya?"


"Iya Dad, kalo udah selesai langsung kesini ya?" Pinta Maura.


"Tentu saja, memang nya Daddy mau kemana lagi? Istri Daddy kan disini." Jawab pria itu, dia mengusap lembut wajah sang istri, lalu mengecup pipi dan kening istri cantiknya.


"Kali aja kepincut banci kaleng di lampu merah."


"Kamu pikir Daddy ini pria apaan, sayang? Daddy masih doyan lubang buaya." Daniash menjawil mesra hidung sang istri, membuat Maura tergelak. Sedangkan Elgar memutar mata nya jengah melihat drama pasangan suami istri itu.


"Hehe, Daddy.." 


"Yaudah, Daddy pergi dulu ya Bby." 


"Dari tadi nyebut mau pergi, tapi gak pergi-pergi juga." Celetuk Elgar.


"Isshh papa nyebelin." 


"Sudah, jangan begitu. Daddy kerja dulu ya Bby." 


"Hati-hati pak suami, semangat kerja nya."


"Iya dong, pasti sayang." Daniash pun pergi di ikuti Aryo di belakang nya, lalu menutup pintu ruangan dengan perlahan.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2