Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 97 - Nayna Hamil


__ADS_3

Daniash tersenyum saat istrinya sedang meminum jus mangga buatan ibu nya, terlihat binar cerah di wajahnya. Padahal hanya jus mangga, tapi bisa membuat mood perempuan itu membaik setelah berdebat dengan suami nya di kamar.


"Sayang.."


"Kenapa? Mau minta, ngambil aja di dapur." Ketus Maura, seolah tak ingin membagi jus miliknya pada sang suami.


"Hehe, mau minta punya ayang."


"Enggak, Daddy mah suka nya minta punya aku."


"Dikit aja Bby."


"Gak mau, ini punya aku." Jawab Maura, dia menjauhkan gelas dari sang suami.


"Bby.."


"Ngalah dong, sana tinggal ngambil di dapur, apa susahnya?" Ucap Riana melerai. 


"Hmmm ya sudah." Lirih Daniash, lalu pergi ke dapur untuk mengambil jus mangga.


"Daddy.." panggil Maura dengan suara manja nya.


"Apa?" Jawab pria itu singkat.


"Kupas terus potongin melon mahal itu dong, hehe."


"Iya istriku." Jawab Daniash tersenyum kecil, lalu kembali melanjutkan niat nya untuk pergi ke dapur.


Maura tersenyum kecil, meskipun sepertinya Daniash kesal karena dia menolak membagi jus mangga nya, tapi saat dia meminta nya membawakan buah yang tadi dia beli, pria itu mengiyakan dengan kata-kata mesra.


Jadi, beginilah rasanya di cintai sebegitu besar nya? Pria itu selalu meratukan nya dengan berbagai cara dalam berbagai hal pula. 


Tak lama kemudian, Daniash kembali dengan sepiring buah melon di tangan nya.


"Ini, Bby. Sisa nya Daddy simpan di kulkas, buat besok." 


"Iya Daddy, makasih." Ucap Maura, Daniash mengangguk. Dia pun meminum jus mangga nya tanpa sedotan, membuat bibir nya belepotan oleh jus dan es krim.


"Ihhh, udah mau jadi Daddy beneran masih aja belepotan minum nya." Maura membersihkan ujung bibir suaminya dengan tissu. 


"Hehe.." Daniash hanya cengengesan mendengar sang istri mengomel. 


"Kita coba buah melon mahal yang di impor langsung dari Jepang ini, seenak apa sih sampai harga nya jutaan." Ucap Maura sebelum menyuapkan sepotong buah melon itu.


"Gimana, Bby? Enak?" Tanya Daniash penasaran. 


"Eehmm, rasa melon aja Dad. Beda nya ini lebih manis, kayak gula. Daddy mau coba?" 


Daniash mengangguk, Maura menusuk potongan buah melon itu dengan garpu dan menyiapkan nya pada sang suami. 


"Enak kan?"


"Hmm, iya Bby. Kalau seenak ini, gak rugi walaupun harga nya jutaan." Jawab Daniash sambil terkekeh.


"Mau lagi, Dad?"


"Enggak sayang, kamu aja habisin ya. Lain kali, kalau kamu mau ngemil mending beli nya yang ini, lebih manis dan premium." Saran Daniash.


"Lama-lama Daddy bangkrut kalo aku beli nya buah begini, mahal Dad." 


"Gapapa, Dad. Masih ada uang di papa mu." Jawab Daniash, membuat Maura tergelak.


"Iya deh, ini lebih manis dan lebih enak."


"Iya sayang." Jawab Maura sambil mengacak rambut istrinya.

__ADS_1


"Mama nyobain dong, katanya manis."


"Nih, Ma. Cobain deh enak banget." Ucap Maura sambil menyodorkan piring buah nya. Riana mencoba satu potong dan benar saja, rasanya memang enak. Tapi kalau membeli nya sering-sering, mungkin harus berfikir beberapa kali terlebih dulu.


"Iya sih enak, benar ya ada harga ada barang." 


"Heemm, iya Ma." 


"Yaudah, habisin melon nya biar Dede bayi nya sehat." 


"Kapan jadwal pemeriksaan lagi, Bby?" Tanya Daniash. 


"Besok, Dad." 


"Tapi, besok Daddy harus kerja Bby. Gimana?"


"Periksa nya di temenin Mama aja ya?" Ucap Riana.


"Aku periksa sama Mama aja, Daddy kerja aja yang semangat." 


"Yaudah, tapi harus sama supir ya?"


"Iya Daddy." Jawab Maura sambil tersenyum manis.


Meninggalkan sejenak pasangan yang tengah berbahagia, lain halnya di rumah pasangan suami istri lain. 


"Daddyhh.." Teriak Nayna saat dia terjatuh dari tangga. 


"Sayang.." Aryo berlari sekuat tenaga, dan untung nya dia masih sempat menolong istri nya. 


"Untung saja, ngapain naik tangga segala hah? Kamu ini ceroboh sekali, Bby!" 


"M-maaf, Dad."


"Daddy tanya, ngapain kamu naik tangga segala hah?" Tanya Aryo ketus, dia menurunkan istrinya dari pangkuan. Pria itu menatap istrinya dengan tajam, kalau saja dia tak cepat-cepat datang dan menolong istrinya, pasti saat ini Nayna sudah mencium lantai.


"Kan Daddy udah bilang, Daddy benerin setelah cuci motor. Kenapa kamu gak sabaran sih? Tidak semua permintaan kamu harus Daddy lakukan saat itu juga, Bby!" Tegas Aryo membuat kedua manik mata Nayna berkaca-kaca. 


Melihat hal itu, Aryo terkejut lalu meraih istrinya ke dalam pelukan nya.


"Maaf sayang, maaf kalau Daddy menyakiti mu."


"Hikss.. Daddy bentak aku.." 


"Iya, Daddy minta maaf ya sayang? Habisnya kamu keras kepala sih, kan udah Daddy bilang nanti di benerin. Kenapa malah di benerin sendiri, Bby?"


"Tadinya, aku mau ngeringanin kerjaan Daddy." Lirih Nayna.


"Itu bukan tugas kamu, sayang. Tugas kamu cuma diam, melayani kebutuhan Daddy."


"Iya, Nayna minta maaf sama Daddy." 


"Gapapa, jangan keras kepala lagi ya? Kalau kamu nya gak nakal gitu, Daddy pasti gak bakal marah sama kamu, sayang. Coba aja bayangin, kalau tadi Daddy gak sempet nangkap kamu gimana?" Cerocos Aryo panjang lebar.


"Iya Daddy, maafin ya?"


"Iya, Daddy maafin kok. Kita masuk ya?" Ajak Aryo.


"Tangga nya belum di balikin." 


"Gapapa sayang, cuma tangga doang." Jawab Aryo, lalu membawa istrinya masuk karena hari sudah cukup sore.


"Dad.."


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Kok pusing ya?" Lirih Nayna sambil memegangi kepala nya. 


"Pusing kenapa? Kamu belum makan kan?"


"Udah kok, tadi aku makan sama sayur sup. Terus ngemil anggur, Dad." Jawab perempuan itu semakin lirih. 


"Sayang.."


"Yang…" Aryo panik saat merasakan tubuh istrinya semakin melemah, dan di detik berikutnya dia tak sadarkan diri.


"Sayang, kamu kenapa? Ya ampun, jangan bikin aku khawatir, yang." Ucap Aryo sambil menepuk-nepuk pipi istri nya pelan.


Aryo menggendong istrinya ke kamar, lalu memanggil dokter yang kebetulan rumah nya berada tak jauh dari rumah yang saat ini mereka tinggali.


Aryo mengetuk pintu dengan cepat, keringat membanjiri keringat nya, namun dia tak peduli.


"Ohh, Pak Aryo. Ada apa?"


"Tolong periksa istri saya, dok. Dia pingsan saat ini." 


"Baik, sebentar ya. Masuk dulu?"


"Tidak, dok. Cepatlah, ini darurat." Dokter itu mengangguk dan mengambil beberapa alat kesehatan nya dan memasukan nya ke dalam tas kecil. 


"Kenapa tidak menelpon, bukankah saya sudah kasih nomor telpon saya?" Tanya dokter itu. Sial, dia lupa kalau dia punya nomor ponsel dokter ini. Saking paniknya, dia tak mengingat apapun lagi dan segera berlari ke rumah dinas dokter itu.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya keduanya sampai di rumah Aryo. Pria itu membawa dokter ke kamar yang di tempati Nayna.


"Silahkan dok." Dokter itu pun mengeluarkan alat kesehatan nya dan mulai memeriksa keadaan Nayna dengan perlahan.


"Istrimu sedang hamil, Pak Aryo." 


"H-ah, apa?" Tanya Aryo.


"Istrimu hamil, untuk memastikan nya sebaiknya di cek menggunakan testpack."


"Hah, masa hamil?"


"Ya kalau anda dan istri sering berhubungan tanpa pengaman, kemungkinan hamil kan tetap bisa terjadi." Jawab dokter itu sambil mengemasi kembali alat-alat nya.


"Apa dokter punya alat nya?"


"Tidak, beli saja di apotik. Banyak."


"Baiklah, jadi hasil pemeriksaan anda?"


"Istri anda sedang mengandung, begitu menurut saya." Jawab dokter itu lagi dengan jelas dan padat.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih ya dok." 


"Ya sama-sama."


"Jadi berapa?"


"Tak usah, Pak. Hanya pemeriksaan biasa, tanpa membeli obat." Jawab Dokter itu sambil tersenyum. 


"Ohh iya, selamat ya Pak."


"T-terimakasih dokter." 


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya." Aryo mengangguk dan mengantar dokter itu hingga keluar. 


Setelah dokter nya pergi, Aryo masuk kembali ke dalam kamar. Pria itu tersenyum manis sambil menggenggam tangan sang istri, hatinya berbunga. Jantung nya berdebar tak karuan, apa benar istrinya hamil? Itu artinya dia akan menjadi seorang ayah? Aaahh hal itu sangat membahagiakan.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1



__ADS_2