Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 112 - Keadaan Herra


__ADS_3

"Nah kan keceplosan." Celetuk Nayna membuat Maura mengernyit.


"Keceplosan apa sih?"


"Panggilan nya, kan kita dah sepakat manggil nya aku kamu, bukan Lo gue lagi."


"Gapapa lah, kirain keceplosan apaan." Maura terkekeh begitu mendengar ucapan Nayna, dia pikir keceplosan apa tapi ternyata hanya panggilan saja.


"Ayo di makan lagi salad nya, Nay."


"Iya nih, tapi setelah di makan keju itu enak juga ternyata."


"Nah lho, kata aku juga apa, keju tuh enak." Ucap Maura sambil menepuk pelan lengan sahabatnya.


Beberapa menit kemudian, Riana dan Danish keluar dari kamar dengan menggendong satu-satu cucu mereka. 


"Nah itu dia, akhirnya baby twins keluar juga." Ucap Nayna dengan wajah semringah, dia mendekat dan langsung mengambil alih baby Daviandra yang berada di pangkuan Riana, bayi tampan itu memang sangat menggemaskan.


"Uhhh, ganteng sekali keponakan aunty.." ucap Nayna sambil menggesekan hidung nya ke pipi baby Daviandra.


"Heh, jangan di gituin. Kulit baby Davi masih sensitif, Nay." 


"Hehe, maaf Ra. Habis nya gemes banget liat baby Davi." 


"Kamu juga sebentar lagi bakal punya baby boy kan, Nak?" Tanya Riana sambil mengusap pelan perut buncit Nayna.


"Iya Ma, menurut pemeriksaan USG sih begitu. Tapi kalau nyata nya keluar malah bidadari, ya aku terima aja." Cetus Nayna membuat Riana terkekeh pelan.


"Baby Ana bobo juga ya?" Tanya Nayna.


"Hmm, dia memang doyan tidur." Jawab Danish datar. 


"Sini baby Ana nya." Riana pun mengambil alih baby perempuan itu ke pangkuan nya dan menimang nya dengan penuh kasih sayang.


Dara menatap sendu kedua orang itu sedang menimang baby twins, andai saja putri nya disini, mungkin dia takkan merasa kesepian saat ini. 


Ingat kan Dara pulang ke negara ini bersama suami nya, tapi ada masalah yang membuat kedua nya tertahan di Amerika? Ya, itulah masalah nya. Perebutan Marsha, putri pertama Dara dan Nicholas yang saat ini berusia lima tahun. 


Masalah itu timbul tatkala Dara mengatakan kalau dia ingin pulang untuk menengok kakak ipar nya yang melahirkan, tapi mertua nya tak mengizinkan sama sekali. 


Permasalahan pun timbul saat itu, karena kedua orang tua Nicholas bersikukuh tak membiarkan cucu mereka untuk ikut pulang. Dan ya, akhirnya Dara dan Nicholas mengalah. Toh mereka juga takkan lama berada disini, paling hanya sekitar satu mingguan saja.


Tadi nya, Dara ingin memperkenalkan Marsha pada Maura dan juga pada baby twins. Tapi niat nya itu harus dia kubur karena mertua nya tak mengizinkan Marsha untuk ikut pada nya.


"Kenapa bengong?" Tanya Maura.


"Hmm, enggak kok kak." 

__ADS_1


"Cerita dong?"


"Enggak kok, gapapa. Udah gak usah mikirin aku, Kak." Jawab Dara.


"Kamu kangen sama Marsha?" Tebak Riana, sebagai seorang ibu tentunya dia tau rasa nya saat berpisah jauh dengan buah hati nya, apalagi ini beda negara.


"Hehe, iya Ma.."


"Sabar ya, kalian pulang kan beberapa hari lagi?"


"Iya, Ma." Jawab Dara sambil tersenyum kecil.


"Kenapa gak tinggal disini aja, Dar?"


"Pengen nya gitu, tapi Mas Nicho kan tinggal disana." Jawab Dara.


"Iya juga ya, sebagai istri yang baik harus ngikut suami."


"Gapapa, dimana pun kamu tinggal yang penting tetap hidup dengan rukun ya." Pepatah Riana, sambil mengusap kepala putri bungsu nya. 


"Iya Ma." 


"Sekarang, kita makan yuk? Baby twins biar sama nanny nya dulu." 


"Ayo Ma, kebetulan nih Maura udah laper, hehe." 


"Nitip dulu baby twins ya, kami makan dulu."


"Baik, Nyonya." Jawab Hanin dan Mira bersamaan.


"Duh, aku kok jadi gak enak ya numpang makan doang."


"Lho kok gitu, gapapa dong Nay." Ucap Maura.


"Iya, gapapa kok lagian mama tuh seneng kalau kamu main kesini, sering-sering aja ya." 


"Hehe, iya deh." Jawab Nayna, dia pun makan dengan lahap. Begitu pun dengan Maura, dia memang ibu menyusui jadi bawaan nya pengen makan terus.


Sedangkan di perusahaan, Daniash dan Aryo tengah berkutat dengan segudang pekerjaan yang membuat kedua nya tenggelam dalam pekerjaan hingga lupa waktu.


"Udah siang nih, Ar. Pantesan udah laper." Ucap Daniash pada sekretaris nya itu.


"Iya tuan, kita makan siang dulu?"


"Pesan saja, nanti biar office boy yang nganter. Pokok nya aku gak mau kalau harus lembur, males banget." 


"Ya sama tuan, saya juga tak mau lembur. Saya ingin tidur sambil memeluk istri saya." Jawab Aryo, dia pun mengambil ponsel nya dan menelpon resepsionis untuk memesan kan nya makanan.

__ADS_1


"Tuan, mau makan apa?"


"Steak medium." Jawab Daniash. Aryo pun mengangguk dan mengetikan pesan itu pada resepsionis yang bertugas di bawah.


"Minum nya, Tuan?"


"Cola." Jawab Daniash singkat, tanpa menatap Aryo, dia fokus dengan laptop nya.


Sambil menunggu makanan pesanan nya datang, Aryo juga memilih bekerja dulu untuk meringankan pekerjaan nya nanti. Toh, mau di kerjakan sekarang atau nanti sama saja, dia juga yang mengerjakan nya.


Sekitar 15 menit kemudian, seorang petugas kebersihan datang dengan membawa makanan pesanan Aryo dan Daniash. Kedua nya pun langsung makan dengan lahap, karena memang perut mereka sudah keroncongan sejak tadi.


"Tuan.."


"Hmmm.." Daniash hanya menjawab dengan deheman saja.


"Maaf nih, apa tuan tau kabar terbaru Nyonya Herra?" Tanya Aryo, membuat Daniash menatap sinis ke arah sekretaris nya itu.


"Tidak, lagi pun wanita itu sudah bukan urusan ku." 


"Eemm, baiklah tuan." 


"Memang nya ada apa?" Tanya Daniash, meskipun dia mengatakan kalau wanita itu bukan lagi urusan nya, tetap saja Dia merasa sedikit penasaran dengan kabar terbaru nya.


"Saat ini, Nyonya Herra lumpuh." 


"What? Lumpuh?" 


"Iya Tuan, dia menjadi korban tabrak lari beberapa minggu yang lalu."


"Lalu?"


"Seperti nya syaraf kaki nya ada yang putus dan menyebabkan kelumpuhan secara permanen." 


"Dari mana kau mendapatkan kabar seperti ini, Ar?" Tanya Daniash.


"Ada tuan, dari seseorang."


"Hmmm, mungkin inilah yang di namakan karma di bayar instan, Ar." Jawab Daniash, kedua mata nya menatap lurus ke depan. Dia cukup prihatin dengan keadaan mantan istrinya, tapi biarkanlah anggap saja ini sebagai balasan atas perbuatan nya dulu. 


"Iya tuan, semua orang bisa bermain dengan drama, tapi tidak dengan karma." 


"Kau benar, Ar. Itu sebanding dengan perbuatan nya dulu, bahkan dengan apa yang sudah dia lakukan pada Maura, hingga membuatnya hampir keguguran waktu itu. Aku takkan pernah memaafkan wanita itu, bahkan untuk alasan apapun."


"Jika saja saat itu terjadi sesuatu pada Istri dan anak-anak ku, aku tak segan menghabisi nyawa wanita itu." Ucap Daniash, kedua mata nya menyalak tajam. Terlihat jelas kalau dia tengah di selimuti amarah saat ini.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2