
Aryo dan Nayna sampai ke rumah sakit, mereka langsung masuk ke ruangan rawat Maura.
"Beb.." Panggil Nayna saat dia sudah sampai di ruangan rawat sahabatnya.
"Eehh udah sampe ya?"
"Lo sakit apa sih? Bikin gue jantungan." Celoteh Nayna sambil melihat-lihat tubuh sahabatnya.
"Cuma demam aja kok, tapi dasarnya Daddy aja yang parnoan, jadinya di bawa kesini deh."
"Lu nya aja yang gak nyadar, suami Lo parnoan karena dia khawatir sama Lo, apalagi sekarang lagi hamil gak boleh makan obat sembarangan." Ucap Nayna, dia tak bermaksud untuk membela Daniash, tapi dia pikir yang pria itu lakukan adalah langkah yang sangat benar.
"Eemmm, iya juga sih."
"Tapi, adek bayi nya baik-baik aja kan?" Tanya Nayna sambil mengusap lembut perut Maura.
"Iya, mereka baik-baik aja kok."
"Permisi, Nona. Ini es jeruk pesanan anda."
"Makasih banget ya, Om." Ucap Maura, dia langsung meminum nya. Seketika, rasa pusing di kepala nya hilang.
"Asem banget deh itu es nya."
"Seger banget, Nay." Ucap Maura, padahal sedari tadi Nayna bergidik melihat sahabatnya meminum es jeruk itu.
"Iya, seger buat Lo asem buat gue. Kalo gue sih lebih milih jus buah naga." Ucap Nayna sambil meminum jus miliknya.
"Pengen nyobain, boleh?"
"Baby, jangan pecicilan. Kalo mau kita beli, sayang!" Ucap Daniash membuat istrinya cemberut.
"Gapapa, nih cobain punya gue."
"Beneran boleh?" Tanya Maura dengan wajah berbinar.
"Boleh dong, kita dah biasa bagi makanan kan? Santai aja kali."
"Makasih, adek bayi nya gak jadi ileran deh." Celetuk Maura membuat Nayna terkekeh geli.
"Enak gak?"
"Enak banget, aku mau ini boleh ya?"
"Baby, itu punya Nayna." Ucap Daniash, dia merasa tak enak pada gadis itu, baru saja dia menyedot jus miliknya, eehh malah di minta oleh istrinya. Padahal tadi, dia kan pesan nya es jeruk.
__ADS_1
"Gapapa, di minum aja. Cuma minuman ini kok, apapun yang bikin bumil bahagia pasti gue kasih."
"Yee, makasih auntie. Baik banget deh."
"Cepet sembuh ya? Jangan keterusan." Ucap Nayna sambil mengusap rambut Maura. Dia menganggap Maura bukan sekedar sahabat dekatnya saja, tapi lebih seperti ke adik nya sendiri.
Dulu, Nayna ingin punya adik tapi sampai papa nya meninggal pun, ibu nya tak kunjung hamil juga. Jadi keinginan nya untuk punya adik tak terealisasi kan.
"Eemmm, gue cuma kecapean doang gara-gara pesta kemaren, beb."
"Gue khawatir banget tau, pas telpon nya udah di matiin, kita langsung mandi terus kesini." Ucap Nayna pelan.
"Wihh, mandi bareng nih?" Goda Maura membuat wajah Nayna merona.
"Jangankan mandi, bobo aja bareng apalagi cuma mandi."
"Eehmmm, ciee. Udah gak malu-malu lagi niuu? Enak kan?" Tanya Maura sambil tersenyum jahil. Nayna mengangguk perlahan lalu tersenyum malu-malu.
"Awalnya sakit, tapi kelamaan kok enak sampe ketagihan, hehe."
"Nah gue bilang juga apa, nikmat pokoknya. Gaya favorit Lo apa?" Tanya Maura frontal, membuat dua pria yang sedang mengobrol agak jauh dari mereka sedikit terhenyak.
"Baby, gak baik bahas gituan."
"Yaudah, kita di luar ya. Kalo ada apa-apa panggil aja."
"Heem." Jawab keduanya kompak. Setelah kedua pria itu pergi keluar, dua wanita yang sudah beranjak dewasa itu kembali membahas tentang hal pribadi.
"Jadi, gaya favorit Lo apa, Nay?"
"Di atas sih, gue suka di atas. Tapi dari belakang juga enak, intinya semua posisi juga enak. Kalo Lo?" Balik tanya Nayna.
"Gue suka sambil nunggiing, enak banget."
"Sakit anjir, itu nya masuk sampe mentok gitu."
"Awalnya juga gitu, pas nyobain di atas juga sakit, tapi kelamaan enak kok. Cobain deh." Ucap Maura antusias.
"Nanti aja deh, gue nya lagi mode males gak mau kerja, maunya di kerjain aja."
"Idihh, jadi Lo nya rebahan aja gitu?" Tanya Maura dan Nayna mengangguk pelan.
"Haha, jadi Daddy Lo kerja sendiri dong."
"Iya, biarin aja. Setelah pertama kali waktu itu, si Daddy jadi nafsuaan deh. Dulu, mau gue goda Daddy mati-matian pake lingerie segala, nah sekarang gak usah di goda si Daddy pasti langsung nerkam gue."
__ADS_1
"Tapi lu suka kan hmm? Ayo ngaku." Tanya Maura sambil memainkan alis nya naik turun.
"Haha, suka dong. Gue lebih suka Daddy yang agresif, kalo waktu itu kan si Daddy jadi kayak gak normal, soalnya gue goda mati-matian dia gak kegoda sama sekali."
"Ngakak gue, Nay. Ada-ada aja sih Lo."
"Lo tuh yang ada-ada, gara-gara Lo cerita tentang gituan jadinya gue pengen." Ketus Nayna membuat Maura semakin tergelak.
"Lo nya aja lemah iman, kegoda sama godaan gue."
"Tapi, kalo Lo gak cerita hari itu gue gak bakal sepenasaran itu, Ra."
"Nyesel Lo?" Tanya Maura.
"Kagak, nyesel nya kenapa gak dari dulu tau rasanya senikmat itu."
"Dihh anjir, gue kira Lo nyesel."
"Kagak lah, itu emang kesalahan tapi bukan buat di sesali, tapi harusnya sih di perbaiki." Ucap Nayna lirih.
"Punya masalah Lo, Nay? Cerita dong."
"Enggak kok, gue gak ada masalah apa-apa."
"Yaudah, kalo Lo belum mau cerita gapapa. Tapi inget, kita sahabatan udah lama ya. Gue nunggu saat Lo mau cerita ke gue." Ucap Maura sambil tersenyum.
"Iya, Ra. Gue masih ragu aja kalo sekarang, gue gak mau terlalu baper atau gimana, tapi lihat nanti aja ya."
"Heem, by the way Lo masih kuliah kan?"
"Masih dong, sepi bener gue kuliah sendiri tanpa Lo, Ra."
"Gue juga pengen nya kuliah lagi, tapi Daddy gak ngebolehin karena sekarang gue lagi hamil." Keluh Maura lirih.
"Gue ngerti alesan Daddy Lo membatasi kegiatan Lo, gak usah ngerasa di kekang atau Lo ngerasa Daddy Lo terlalu posesif, dia lakuin semua itu demi kebaikan Lo juga, beb."
"Iya iya, Nay. Lo kayak ibu-ibu nasehatin anak nya dah, lucu banget."
"Hahaha, gini-gini gue juga cikal bakal ibu-ibu rempong kang gosip ini." Celetuk nya, lalu keduanya tertawa.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
komen dong gaes, biar author nya semangat nulis. komen next aja atau lanjut gapapa 🥺
__ADS_1