Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Masih Lanjut Sesi Ketiga


__ADS_3

Vynnitta mau tidak mau mendekap kencang pinggang kekar Franklin. Disebabkan pria ini membawa motornya dengan ngebut. Apalagi, Franklin tidak mengenakan jaket. Sehingga kemeja tipisnya yang pas body itu, membuat Vynnitta dapat merasakan bagaimana liatnya otot perut Franklin.


"Pegangan saja yang kencang! Kalau aku tidak ngebut nanti kita tertinggal mobil!!" teriak Franklin agar Vynnitta yang berada di belakang mendengar ucapannya.


"Ini juga sudah pegangan!" sahut Vynnitta dengan berteriak juga. Padahal kepalanya sudah berada di samping telinga Franklin. Membuat pria tampan berahang tegas yang membawa motornya itu meringis.


BRUGH!


"Astaga!" pekik Vynnitta kaget. Sebab, dadanya menabrak punggung kekar Franklin.


"Maaf!" Franklin berteriak kembali, sebab ia tidak mengurangi kecepatan saat ada undakan kecil di depan. Sehingga, tanpa sengaja dada empuk Vynnitta menubruk punggung kekarnya.


"Modus!" umpat Vynnitta pelan, yang hanya dapat didengar oleh para readers.


Franklin terus mengendarai motor matic milik Vynnitta itu dengan kecepatan penuh. Apalagi ketika mobil hitam miliknya terlihat sudah mulai berbelok memasuki desa tetangga. Hutan Jatiwarna berada di desa Jatiwaringin. Desa yang memiliki banyak tumbuhan atau pohon jati. Sehingga rumah-rumah di desa ini kebanyakan terbuat dari kayu dengan arsitektur pahatan dan ukiran yang indah. Kelebihan desa ini adalah pengrajinnya yang sangatlah produktif.


TIINN!

__ADS_1


Mobil Jeep di samping motor yang di kendarai Franklin seakan mengajak untuk menepi sebentar. Franklin tau siapa yang ada di dalam kendaraan tersebut. Namun, ia acuh. Franklin semakin kencang menggeber kendaraan roda dua tersebut. Ia tidak mau kehilangan jejak Alessia.


Xilondra yang geram lantas menurunkan jendela pada mobilnya. "Berhentilah! Caramu berkendara itu membahayakan!" teriak Xilondra kencang. Terpaksa ia mengeluarkan sedikit kepalanya dari dalam mobil. Ia juga menekan klakson dengan kencang beberapa kali. Sebab, Franklin tidak juga mau berhenti.


"Mana ada bahaya. Sudah jangan menganggu ku! Kau yang justru akan membuat kami dalam bahaya!" balas Franklin dengan berteriak pula. Kendaraan mereka bersisian. Franklin kesal karena Xilondra seakan memperlambatnya. " Minggir!" teriak Franklin kesal. Ingin rasanya ia menabrak saja body mobil murahan itu. Jika saja motor yang di kendarai olehnya adalah motor miliknya. Kendaraan yang hanya ada sepuluh item di seluruh dunia.


"Keras kepala! Jalan di depan sana semakin susah untuk di lalui dengan motor!" teriak Xilondra lagi. Ia benar-benar hampir kehabisan tenaga mengahadapi manusia egois seperti Franklin ini.


"Dasar laki-laki gila! Belum habis juga perdebatan kalian!" maki Vynnitta penuh amarah. Hatinya lelah menghadapi emosi seperti ini. Belum lagi memikirkan bagaimana nasib Alessia nanti. Sebenarnya, apa yang terjadi? Bagaimana bisa racun yang ia serap dari tubuh Franklin justru tertanam di tubuh putri kecilnya.


"Berhenti tuan arogan!" teriak Xilondra lagi. Kali ini ia sengaja memepet kendaraan beroda dua tersebut. Mau tak mau, Franklin pun menepi sambil menahan rahangnya yang bergemeletak.


"Lepaskan tanganmu Tuan arogan!" pekik Xilondra, seraya menepis tangan Franklin, yang mana saat ini Franklin tengah mencengkeram kerah bajunya.


"Kau!"


"Hentikan!" Vynnitta berteriak seraya mendekati kedua pria yang masih melanjutkan perdebatan mereka ini. Tanpa berpikir bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menunjukkan sisi egoisme diri sendiri. Genggaman dari Franklin yang siap mendarat di wajah Xilondra kini mengambang di udara. Dengan segenap kekuatannya, Vynnitta mendorong tubuh Franklin agar menjauh dan melepaskan Xilondra.

__ADS_1


"Kenapa kau membelanya Vyn?" tanya Franklin yang merasa dorongan Vynnitta bercampur amarah padanya. Seakan jika dirinya saja yang bersalah disini.


"Tentu saja ia membelaku!" potong Xilondra. "Niatku itu baik dan tulus, tidak sepertimu yang berlapis modus!" tuduh Xilondra yang mana hal itu memancing kemarahan dari Franklin.


BUGH!


Sebuah bogem mentah pun kini sukses mendarat di sebelah rahang kepala desa yang biasanya penuh wibawa. Namun, malam ini. Karena tak bisa mengontrol rasa cemburu dan iri hatinya. Ia telah menjadi pria bodoh yang sangat terlihat tengah memperebutkan posisi satu wanita. Tanpa melihat situasi dan kondisi yang sangat sedang tidak tepat sama sekali.


Xilondra terhuyung, berbarengan dengan jeritan dari Vynnitta. " Franklin!" Vynnitta pun segera mendekati Xilondra, membantunya hingga tak jadi terjatuh. Sebab pukulan Franklin sangatlah keras dan bertenaga. Xilondra menyeka darah yang merembes dari sudut bibirnya, senyum smirknya merekah. Mengetahui bahwa Vynnitta berada di pihaknya.


"Asshh! Sakit sekali!" keluh Xilondra seraya meringis.


"Kau berdarah!" pekik Vynnitta lagi. Ia pun mengeluarkan obat yang terselip di pinggangnya. Mengoles dengan cepat ramuan tersebut ke bibir Xilondra. Hal itu tentu saja membuat pak kades merasa semakin di atas awan. Sementara Franklin meradang melihat kemesraan di hadapannya.


" Laki-laki payah!"


SREET!

__ADS_1


BUGH!


...Bersambung ...


__ADS_2