Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Persepsi Yang Menyakiti Hati


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Vynnitta terkesiap seketika, namun dalam sekejap ia mampu mengubah keterkejutannya dengan air muka uang nampak tenang. Sayangnya, Franklin tidak melewatkan perubahan raut wajahnya tadi. Sehingga kecurigaannya ternyata tidak meleset. Franklin hanya membutuhkan kejujuran dari Vynnitta. Maka, ia akan membereskan semuanya, dan membawa wanita yang dicintainya ini kembali ke kotanya.


" Atas dasar apa kau menanyakan hal itu, Frank? Kau pikir, berhubungan satu malam bisa langsung jadi hanya dalam waktu beberapa pekan?" elak Vyn dengan kekehannya, ia masih berusaha menutupi kenyataan yang terjadi.


"Bisa saja, setelah kepergian mu beberapa waktu kau hamil. Karena, Raisa juga hamil karena hubungan kami pada malam setelah kejadian antara kita. Aku--" Franklin merasa berat mengatakan hal ini sebenarnya, ia seakan kembali mengorek luka hati Vynnitta. Meski saat itu sah saja baginya menyetubuhi istrinya sendiri.


"Jadi, kalian berdua sudah memiliki seorang anak?" tanya Vyn tercekat. Kerongkongannya bagaikan menelan duri. Ia tidak menyangka jika hubungan Franklin dan Raisa telah mendapatkan keturunan. Ia semakin yakin untuk menyembunyikan status Alessia. Toh, Franklin telah memiliki penerus yang dapat menyelamatkan keturunan keluarga Bou.


"Tapi--"


"Selamat untuk mu. Ini obat untuk mengompres luka didahimu. Sekarang kembalilah, karena diantara kita sudah tak ada lagi yang harus di selesaikan. Semoga kau dan keluargamu bahagaia. Tolong, sampaikan salam ku pada Oma Elli. Aku sangat merindukannya," potong Vyn seraya menyerahkan obat oles racikannya pada Franklin. Kemudian ia berlalu ke arah pintu keluar. Vyn menundukkan sedikit tubuhnya, sebagai tanda penghormatan.


"Vyn, aku belum selesai bi--"


"Aku masih banyak urusan!" Vyn mematahkan ucapan Franklin lagi. Kemudian ia berjalan keluar klinik, lalu masuk dengan cepat ke dalam rumahnya. Menutup pintu dan membiarkan Franklin terpaku di halaman.


"Kenapa Frank? Kau membuatnya marah ya?" tanya Brandy yang tiba-tiba muncul dengan hidung yang sudah ditempel plester. Sementara, Maria menatap miris pada nasib kakak angkatnya itu. Ia mendapat bocoran kisah Vyn dan Franklin dari dokter Brandy. Pantas saja, Vynnitta terlihat murung semenjak pulang dari kota ditambah lagi setelah pulang dari rumah pak kades.

__ADS_1


"Dia, pasti salah paham. Aku bahkan belum selesai bicara." Franklin berkata dengan jakun naik turun menahan sesak. Ia tetap menatap lurus pada pintu yang tertutup itu. Sementara, di belakang sana terdapat raga yang terguncang. Bahunya naik turun dengan kedua tangan yang membekap mulutnya sendiri.


Vyn terisak, ketika pikirannya menelaah kata-kata Franklin sesaat tadi. Entah kenapa hatinya terasa sakit ketika mengetahui hubungan Franklin dan Raisa sangat bahagia. Mereka berdua telah memiliki keturunan. Franklin mendapat anak dari wanita yang sangat dicintainya, Raisa. Sementara dirinya sudah tidak ada harapan, sejak dulu memang tidak ada. Begitulah persepsi yang menari di dalam kepala Vynnitta.


"Kenapa aku begini? Kenapa aku merasa sangat sedih dan kecewa? Aku memang bodoh, sejak dulu bahkan aku tidak memiliki harapan apapun. Apalagi sekarang. Lagipula, kesalahpahaman di antara kami telah selesai. Aku juga berhak bahagia dan keluar dari bayang-bayang keluarga Marquise Boudouin." Vyn bergumam di sela Isak tangisnya. Ia mengeluarkan semua sesak di hatinya hingga terduduk lemas di atas lantai.


"Aku tidak perlu sedih begini. Aku memiliki Alessia sekarang. Ia milikku, ya ... Ale adalah milikku seorang dan selamanya. Kami berdua pasti bahagia." Vyn menghapus kasar air matanya. Ia kembali menguatkan jiwa raganya untuk menerima kenyataan sesuai persepsinya sendiri.


"Kita kembali saja dulu. Jangan memaksa hati seorang wanita. Sebab, semakin di tekan maka ia akan semakin menjauh. Anda pernah main layangan tidak, Tuan?" tanya Gill ambigu di akhir kalimatnya. Membuat Franklin dan Brandy menoleh kearahnya bersamaan.


"Apa itu?" tanya Franklin dengan wajah polos.


"Pantas saja anda payah. Sudah saya duga, anda pasti belum pernah main layangan," ledek Gill yang kemudian mendapat toyoran kepala dari Brandy.


"Siapa yang meledek. Saya hanya ingin Tuan, mengambil filosofi dari permainan rakyat jelata itu," kilah Gill membela diri dengan membenarkan opininya.


"Kita kembali saja. Tidak pantas berdebat di pekarangan orang lain!" ajak Franklin yang kemudian berlalu lebih dulu ke mobil. Brandy menoleh dan ternyata Maria masih ada di sana memantau mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Sehingga dirinya mendapat sambutan yang sama dari Maria.


"Ciee ... ada yang nemu gebetan nih!" sindir Gill seraya terkekeh, bahkan ketika dirinya sudah beranda di depan kemudi.

__ADS_1


"Siapa yang dapat gebetan?" tanya Franklin, namun kepalanya menoleh dan menatap penuh selidik ke arah Brandy.


"Liatnya biasa saja, bisa kan?" ucap Brandy seraya mengibaskan ujung rambutnya ke depan untuk kembali ia mainkan.


"Hentikan kebiasaan buruk mu itu! Kau ini kan laki-laki!" omel Franklin ketika melihat aksi gemulai Brandy di hadapannya langsung.


"Ck, sudah kebiasaan. Tidak semudah itu menghilangkannya," dalih Brandy yang langsung menyilangkan tangannya di depan dada.


"Besok potong saja rambut panjang mu itu!" titah Franklin yang sontak membuat kedua mata Brandy berkaca-kaca.


"Kuncir aja sih, Tuan. Mungkin pak dokter sayang sama rambut panjangnya," bela Gill pada Brandy yang membuat pria di sampingnya ini tersenyum lega. Setidaknya ada solusi agar rambutnya tidak dipangkas.


"Percuma. Nanti di belakang kita dia akan memainkan lagi rambutnya. Sampai kapanpun tidak akan ada wanita yang akan jatuh cinta padamu!" sarkas Franklin, yang mana membuat keduanya mendengus.


"Kau tidak tau saja. Jika tadi Maria hampir saja mencium ku. Untung atas bibirku ini luka, katanya ," adu Brandy yang seketika membuat Franklin dan Gill terkekeh tak percaya.


"Lihat saja nanti. Aku pasti akan segera jadian dengan adik angkatnya nona Saga." Brandy yang kesal karena tanggapan dua orang kawannya itu, terus membuang pandangannya keluar jendela seraya memajukan bibirnya.


"Baiklah. Aku tunggu kabar baiknya, silverprince!"

__ADS_1


"HAHAHAHA ....!"


Bersambung>>>


__ADS_2