
🌹🌹🌹🌹🌹
Sampailah ketiganya, di depan halaman rumah Vynnitta. Untung saja persiapan kejutannya sudah rapi. Mana sangka jika setelah diberi tau, Franklin akan datang saat itu juga. Pikir, Gill. Franklin akan minta diantar pagi-pagi sekali. Sementara, kiriman dari kota belumlah sampai. Gill telah mengirimkan sampel rambut Alessia dan juga Franklin. With The Power Of Money, maka hasil tes DNA dapat dikeluarkan lebih cepat. Hasilnya, jika positif maka akan ia berikan sebagai hadiah untuk bos tak punya aturan seperti Franklin.
Setelah menginjak beranda rumah, Franklin merasakan aura yang begitu menyedihkan. Ia merasakan sesuatu yang lain di dadanya.
"Uhukk ... uhukkk!" Alessia terbatuk-batuk sehingga membuatnya terbangun dari tidur. Gadis itu hampir saja pulas ketika Vynnitta mendapat telepon dadakan dari Maria.
"Hei, kau ini menghayati sekali sih. Nanti saja kalau ada uncle baru akting lagi," ucap Vynnitta seraya mencubit gemas pipi sebelah Alessia, lalu meninggalkannya untuk membuat suatu hangat di dapur. Vyn berpikir jika Ale saat ini tengah latihan untuk berpura-pura sakit di depan Franklin nanti.
__ADS_1
Sejujurnya hatinya khawatir dan gundah. Ia tak berharap hubungan Alessia dan Franklin semakin dekat. Namun, jika ia menolak maka akan semakin menimbulkan kecurigaan. Vyn, benar-benar merasa serba salah. Sementara itu, Alessia terlihat memandangi telapak tangannya yang terdapat tetesan darah. Buru-buru ia membersihkan, begitu juga yang sekarang terasa keluar dari hidungnya. Setelahnya, Alessia merasa pusing dan lemas. Bahkan dadanya ikutan merasa sedikit sesak. Perutnya seakan di remas dengan kuat.
"Ale harus kuat ya. Kamu pasti baik-baik saja." gumam Alessia pelan. Setelahnya ia terjatuh di atas tempat tidur miliknya.
"Mana dia! Di mana Alessia!" teriak Franklin yang telah berada di dalam rumah Vynnitta. Kebetulan Maria telah berjaga untuk menyambut kedatangan ketiganya. Ia sengaja mematikan lampu agar terlihat dramatis.
"Ini kan sudah waktunya istirahat. Makanya setiap lampu mati," jawab Brandy karena ia melihat Maria tak kuasa menjawab. Bagaimana tidak takut, jika Franklin memasang wajah angkernya saat ini. Ini pertama kali Maria melihat raut khawatir yang teramat di wajah Franklin.
"Nyalakan--"
__ADS_1
"Kita langsung ke kamar Alessia saja, Tuan," potong Gill. Jangan sampai Franklin tau jika diruang tamu itu telah dipersiapkan kejutan untuk mendukung kekuatan pertama nanti di kamar Alessia. Maria pun mengantar ketiganya ke dalam. Sementara itu Vynnitta telah menunggu di depan kamar Alessia. Ia beberapa kali menengok keadaan putrinya yang tertidur pulas dengan selimut menutupi sebatas leher. Ia heran, bagaimana putri kecilnya bisa akting sebagus itu. Bahkan Alexa terlihat pucat sungguhan. Vyn bermaksud mendekati untuk memeriksa akan tetapi rombongan Franklin telah mendekat. Maka ia pun mengurungkan niatnya. Padahal hampir saja tangannya menyentuh kening Alessia.
" Apa yang terjadi padanya?" tanya Franklin yang pandangannya terus menatap kemana putri kecil yang imut menggemaskan tertidur. Putri kecil berwajah cantik bak boneka yang selalu mengganggu pikirannya beberapa waktu belakangan ini.
"Dia, tiba-tiba lemas. Aku sudah memberikan padanya vitamin. Sebab itu ia tertidur," jelas Vynnitta. Entah apakah kejutan seperti ini masuk akal. Sebenarnya apa rencana dari asisten jenius Franklin itu.
"Ale ...," panggil Franklin seraya berbisik. Tangannya terulur untuk mengusap kening yang mengeluarkan buliran keringat itu.
...Bersambung ...
__ADS_1