Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Terkesima Pada Pesonamu.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Tanpa Vynnitta sadari bahwa orang yang di bicarakan oleh hatinya kini tengah menatapnya terpaku. Bukannya menghampiri, Franklin justru mematung tak bergeming. Ia laksana orang bodoh yang hanya melongo, padahal target dari misinya ada di depan mata.


" Perginya semangat sekali. Katanya mau mengejar cinta sejati. Ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Tapi coba kau lihat, sasarannya tinggal di sikat dia malah membatu di tempat," bisik Brandy pada Gill yang berdiri disebelahnya.


"Mungkin tuan terkesima. Tak menyangka akan secepat ini bertemu pujaan hati yang dirindukannya," sahut Gill dengan berbisik pula. Jadilah keduanya main bisik-bisik tetangga di belakang Franklin. Bahkan sesekali keduanya terlihat terkekeh tanpa suara.


"Kalo aku jadi dia, beuuh. Langsung aja hampiri lalu peluk deh yang kencang agar tidak terlepas lagi," oceh Brandy yang kemudian disahuti decakan oleh Gill.


"Pantas saja anda jadi jomblo abadi," celetuk Gill seraya memutar bola matanya malas.


"Apa maksudmu, asisten laknat!" Brandy mengeram pelan mendapat cibiran dari Gill.


"Coba pikir saja, kalau anda yang jadi wanitanya. Apa yang akan anda lakukan? Kabur atau memberikan tamparan terlebih dahulu?" tanya Gill bermaksud menyindir. Memang dasar Brandy tak peka, ia justru serius memikirkan pertanyaan dari Gill.


'Tampan, karir sebagai dokter cemerlang, jenius dalam akademik. Tapi, bodoh dalam urusan wanita. Pantas saja membujang sampai karatan.' Batin Gill, terus menyindir Brandy dalam hatinya. Lantaran, dirinya sudah berumah tangga jadinya seenaknya saja merendahkan pria bujangan.


Franklin masih terdiam menatap sosok wanita sederhana dengan pakaian yang jauh dari kata mewah. Berbeda dengan pada saat ia bertemu Vyn pertama kalinya di mall kala itu. Disana Vyn terlihat berkelas dan dewasa. Tapi kini, wanita yang dirindukannya itu terlihat bersimbah peluh dengan pakaian casualnya. Hanya kaus berlengan panjang, celana street yang ngepas di badan. Juga topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu. Atau orang biasanya menyebut itu adalah caping. Tak lupa dengan sepatu kets dan juga tas yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Walau penampilan Vynnitta seperti itu, tak mengubah pandangan Franklin padanya. Justru Vynnitta mampu membuat pria itu membeku karena pesonanya. Franklin terkesima campur kagum dengan keadaan Vynnitta yang baginya tengah melakukan hal menakjubkan.


"Maria, apa sudah semua jamur kau ambil!" teriak Vynnitta pada asistennya itu. Suara renyahnya begitu lantang bahkan mampu menyamarkan suara deburannya air terjun yang jatuh ke sungai.


"Sudah, Kak. Kali ini aku tidak akan melewatkan satu pun jamur berharga kita!" jawab Maria berteriak sambil berlari mendekati Vyn.


"Cukup belanja kita hari ini. Kau pasti sudah lelah. Bahkan kita masih harus membersihkan jamur-jamur ini," ucap Vynnitta. Ia memang sangat memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya, apalagi yang bekerja membantunya.


"Kan ada pekerja Kak di klinik. Kenapa harus Kakak yang membersihkan? Aku akan mengajarkan mereka nanti," sahut Maria membuat sebuah senyum kepuasan terbit di wajah cantik natural Vynnitta.


"Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Vyn seraya meraih tangan Maria.


" Masih terlalu dini untuk turun gunung. Bahkan matahari baru akan naik sebentar lagi," ucap Franklin tegas, yang mana ucapannya itu mampu menghentikan langkah Vynnitta.


Ya, kedua kaki Vynnitta sontak kaku tak bergerak. Kala ia mendengar sebuah suara yang tidaklah asing tertangkap oleh indera pendengarannya. Ingin menoleh, akan tetapi hati kecilnya menolak.


"Kenapa Kak? Kok tiba-tiba berhenti?" tanya Maria bingung karena Vynnitta menampilkan raut wajah kaget secara tiba-tiba.


"Maria, jangan-jangan benar apa kata orang-orang di desa. Bahwa di bukit ini memang ada penunggunya," bisik Vynnitta sambil mengelus tengkuknya yang seketika merinding.

__ADS_1


"Ck, Kak Er. Jangan membuat ku takut kenapa. Waktu sudah mau beranjak siang. Mana ada sih hantu muncul di saat matahari terang begini," sahut Maria turut berbisik.


"Asal kau tau saja Maria. Hantu millenial tidak takut sama sinar matahari," bisik Vyn lagi.


Karena jarak Franklin yang telah mendekat, membuatnya mendengar apa yang tengah dibisiki oleh kedua wanita di depannya ini.


"Mungkin aku ini termasuk hantu tampan. Dan aku saat ini sedang mencari kekasihnya yang hilang," ucap Franklin berkata pelan di belakang tubuh Vynnitta.


"Kyaaa ... kubilang juga apa! Hantunya ada di belakangku. Bahkan aku dapat merasakan napasnya yang hangat," bisik Vynnitta, ia bahkan tak berani untuk menengok kebelakang.


"Kak, ini kan ada akar ginseng yang besar. Bagaimana kalau kita sama-sama menoleh lalu memukul hantu itu," saran Maria masih dengan berbisik.


"Sejak kapan hantu takut sama ginseng? Ini, daun kelor saja." Vyn mengambil batang daun kelor itu dan keduanya kini mulai memasang kuda-kuda untuk menyerang.


"Oke, dalam hitungan ketiga ya. 1, 2, 3 ...!"


Prakk!


Bersambung>>>

__ADS_1


"


__ADS_2