
🌹🌹🌹🌹🌹
"Anda seharusnya beruntung karena bertemu dengan nona Saga. Tapi, kenapa jadinya begini ya." Sang pemandu wisata dari desa Cenderawasih menggaruk kepala meskipun tak gatal. Karena dia sebenarnya bingung dengan kejadian di depan matanya sesaat tadi. Biasanya nona Saga akan sangat ramah bahkan terhadap pria-pria pengagum nya.
Franklin hanya memasang wajah batunya. Keras dan tanpa ekspresi. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana training miliknya. Seraya menatap jauh kebawah bukit dimana tadi Vynnitta berlari turun. Ada setitik harapan bahwa wanita itu akan tersadar dan kembali naik ke atas.
"Ternyata pria tampan juga bisa menakuti wanita cantik," kelakar sang pemandu wisata. Hingga ia menelan ludahnya kasar dengan penuh sesal. Karena dirinya yang tiba-tiba mendapat tatapan tajam dari Franklin.
'Aura pria ini kuat sekali. Tatapannya begitu menusuk hingga ke jantung. Bikin ngeri saja.' Batin sang pemandu wisata yang mendadak merinding.
"Gill, ganti pemandu nya." Setelah mengatakan kalimat yang membuat asistennya itu melongo, Franklin pun segera masuk kedalam sungai. Sebelum itu, ia telah membuka atasan dan juga celana training nya. Hingga menyisakan boxer yang membungkus senjata tempur yang telah lama berhibernasi itu.
Franklin berjalan semakin ke ujung, hingga mendekati tumpahan air terjun pasangan kekasih itu. Ia membiarkan air terjun jatuh menimpa bahunya yang kokoh. Hingga air mengalir deras melewati dada bidang dan juga perut kotak delapannya.
"Aiihh, dia mandi tapi tidak mengajak kita. Ayo Gill, kita susul dia!" ajak Brandy seraya menanggalkan seluruh pakaiannya. Eittss, Jangan piktor dulu ya gengs. Pusaka keramat tetap pakai sarung kok. Meskipun mereka sesama jenis. Rasa malu itu tetap dan haruslah dijaga.
Gill pun mengiyakan ajakan Brandy. Airnya terlihat segar sekali. Sang pemandu wisata bertugas menjaga pakaian ketiganya agar tetap bersih dan kering. Dia memang di bayar untuk itu, jadi tidak boleh mengeluh. Terutama Franklin, bukanlah orang yang perhitungan dalam membayar jasa seseorang.
__ADS_1
Franklin memberi kode agar Brandy dan Gill tidak mendekat ke arahnya. Keduanya ia perintahkan lewat bahasa mata dan gerakan tangan agar mencari sudut lain untuk menikmati air terjun. Ia tak ingin fokus menenangkan dirinya terganggu aksi slengean kedua orang itu.
_______
"Mommy, kenapa lama sekali?" Rajuk Alessia karena Vynnitta pulang lambat lima belas menit. Kebetulan tadi di jalan ia bertemu dengan Xilondra. Seperti biasa, pria selalu ada saja yang diberikan setiap harinya. Entah untuk Vynnitta ataupun untuk Alessia.
"Lalu mana uncle Hero-nya?" tanya Alessia sambil celingukan ke belakang Vynnitta. Karena biasanya pria yang dipanggil uncle Hero itu akan ikut kerumah dan menemaninya melukis.
"Uncle Hero cuma sekilas lewat dan memberikan ini untuk kita." Vyn menunjukkan kantong kresek yang di pegang nya.
Vyn pun membukanya setelah ia mencuci kedua tangannya terlebih dahulu. Kedua mata bundar Alessia pun terbelalak ketika melihat apa isi kantong yang diperuntukkan bagi dirinya.
"Kuas dari kayu mahoni!" pekik Alessia girang. Karena kuas buatan tangan langsung ini tidak akan ditemukan di toko manapun kecuali dari para pengrajin di desa sebelah.
"Kau sangat menyukainya ya?" gemas Vyn kepada ekspresi putrinya itu. Bagaimana bisa anak sekecil ini sudah mengerti barang etnik yang unik dan bernilai seni tinggi.
"Mirip tongkat sihir ya Mom. Ale sudah mirip Hermione belum?" tanya Alessia sambil mengayunkan kuasnya dengan gaya penyihir yang sedang menyihir.
__ADS_1
"Hermione itu kan keriting sedangkan kamu, berambut lurus dan hitam. Tapi bagi Mommy, Ale adalah keajaiban. Meskipun kamu bukan seorang penyihir. Ale sudah mampu menyihir setiap hati untuk dapat menyayangi Ale dengan tulus. Contohnya, seperti uncle Hero," tutur Vynnitta dengan penuh syukur dan rasa bangga.
"Ale sayang uncle Hero, Mommy. Uncle Xilondra adalah super Hero-nya Alessia," ucap Alessia dengan mata penuh kekaguman.
'Xilo. Kau sungguh pandai mengambil hati putriku. Ia sangat mengidolakan mu. Sampai kapan kau akan menyerah? Aku tidak ingin membuat kau semakin dalam tenggelam dalam kekecewaan nantinya. Karena apa yang aku takutkan akan segera terjadi.' Batin Vyn dengan segala kerisauannya.
_______
"Bagaimana traveling hari ini Tuan Franklin?" sapa Xilondra yang sengaja mengunjungi turis lokal yang menginap di rumah besar sebagai tamu kehormatannya.
"Sangat menyenangkan, meski ada sebuah insiden salah paham yang melibatkan ku dengan salah satu warga anda," sahut Franklin.
"Benarkah? Katakan dengan siapa, biar saya mengurus untuk meluruskan salah faham ini," tegas Xilondra.
"Kalau begitu, undang nona Saga untuk meminta maaf padaku," kata Franklin dengan sebuah senyum penuh arti.
Bersambung>>>
__ADS_1