Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Bukan Keracunan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Bu, kenapa begini?" tanya Xilondra ketika keduanya telah berada didalam mobil.


"Lupakan saja dia. Sebelum kau terluka, Xilo." Prita berkata sambil menatap putranya itu.


"Bagaimana Ibu bisa menduga seperti itu? Ibu sadar tidak? Jika sikap Ibu tadi mungkin telah lebih dulu melukainya," sesal Xilo. Karena ia dapat menangkap raut sendu itu dari Vynnitta.


"Benarkah? Ibu, hanya kaget. Ketika melihatnya tadi sekelebat bayangan itu muncul," ucap Prita kaget, tersirat sedikit penyesalan dari ekspresinya.


"Apa yang Ibu lihat? Memang Ibu memiliki indera keenam macam Kakek?" cecar Xilo penuh selidik.


"Entahlah. Ibu hanya tiba-tiba melihat sekelebat bayangan. Di belakang wanita itu terdapat orang yang sangat hebat. Takdirnya bukanlah di sini. Dia hanya lewat sesaat, karena itu hentikan rasa cintamu sebelum terlalu besar!" ucap Prita penuh penekanan.


"Bayangan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Aku tidak ingin menduga-duga ataupun berandai-andai. Xilo hanya mengikuti apa kata hati. Karena hatilah yang tau tempat mana yang nyaman untuknya berlabuh.


" Tidak, Xilo! Hentikan sekarang sebelum akhirnya kau mengalami kekecewaan dan terluka. Karena Ibu lah yang akan merasakan tiga kali lipat dari setiap penderitaan mu nantinya," ucap Prita lirih memohon.


"Bu, tolong. Dukung, restui dan doakan saja Xilo. Hanya itu, Bu. Hasilnya, tidak ada yang tau. Ijinkan Xilo menjemput bahagia," kata Xilo tegas. Tekadnya sudah bulat, meskipun sang Ibu tiba-tiba berubah pikiran.


"Xilo, Ibu hanya--"


"Jangan takut, Bu. Aku akan menghadapi apapun tantangannya. Apapun hasilnya nanti, aku akan terima dengan lapang dada. Untuk saat ini, biarkan Xilo mencoba memperjuangkan apa yang menjadi titik kebahagiaanku." Xilondra tersenyum penuh semangat membuat Prita menghela napasnya pasrah.


Xilondra mengeluarkan kotak beludru itu dalam sakunya. Lalu ia menoleh dan tersenyum pada Prita.

__ADS_1


"Ibu ikut. Sekalian mau periksa." Prita pun keluar lebih dulu dari dalam mobil. Seketika senyum Xilondra mengembang dengan sempurna.


"Apa itu tadi ibunya Xilondra?" tanya Vyn pada Maria. Sementara yang ditanya mengangguk dengan ekspresi kaget yang belum juga hilang.


"Kenapa wajahmu kayak ketakutan gitu sih, Maria?"


"Ah, tidak Kak. Aku cuma kaget saja," jawabnya jujur.


" Kenapa ka---"


"Vyn!" Vynnitta memutus kalimatnya lalu menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


"Maaf, tadi Ibu ku sedikit merasa mual. Bisa tolong di lihat keadaannya," ucap Xilondra menjelaskan, agar Vyn tidak salah paham.


" Jadi, wanita tadi adalah ibumu? Ah, baiklah aku akan memeriksanya." Vynnitta pun segera menghampiri Prita.


"Tak apa Bu," jawab Vyn tenang.


"Ibu katanya mau di periksa? Boleh saya lihat tangannya?" pinta Vyn seraya meraih telapak tangan Prita.


Vyn meringis sedikit, saat tengkuknya mengalirkan kuasa ke setiap sendi tangannya. Hingga sinyal itu masuk ke otak Vyn, mencipta sebuah informasi mengenai data riwayat penyakit yang di derita oleh pasien.


"Ibu, perbanyak minum air putih ya. Karena terdapat pengentalan darah yang mana suka membuat Ibu pusing," jelas Vyn.


"Sebentar ya, saya akan meracik herbal untuk menormalkan darah Ibu kembali. Karena tensinya cukup tinggi." Vyn pun berlalu ke lemari penyimpanan obat. Ia pun meracik obat dengan cekatan.

__ADS_1


"Boleh saya tau, berapa usia kehamilan mu?" tanya Prita, seraya hendak mengelus perut buncit Vynnitta.


"Sudah lewat trisemester pertama. Karenanya masa mengidam saya sudah selesai," jelas Vyn tetap tersenyum.


"Berapa usiamu? Kau terlihat masih sangat muda,"


"Baru dua puluh lima tahun hari ini, Bu."


"Jadi, hari ini adalah ulang tahunmu?"


"Emh, itu benar, Bu." Vyn menunduk malu seraya memasukkan obat racikannya ke dalam kantung khusus.


"Apa kau siap jika ada yang pria yang melamar mu?"


"Uhukk! Apa?!"


_______


"Huwerrrkkkk!"


"Dok, tolonglah cepat. Ini sudah kesepuluh kalinya tuan Franklin mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Aku sudah memberinya obat pereda mual juga obat lambung. Kenapa tidak ada efeknya?" heran Brandy.


"Apa tuan keracunan?"

__ADS_1


"Tidak, ini bukan tanda-tanda keracunan. Tapi--"


Bersambung>>>>


__ADS_2