
🌹🌹🌹🌹🌹
SYUUTT ....
Raga Vynnitta yang membawa Alessia pun merosot ke dalam rumah jamur. Giliran Franklin yang maju, ia ingin tau bagaimana Vynnitta tiba-tiba meluncur ke dalam tumbuhan berbentuk jamur raksasa itu. Kenapa ia merasa seperti isekai ke dunia para Smurf. Franklin mendapat arahan yang sama dari kurcaci imut, LuLu.
"Jadi, begini cara Vynnitta masuk." Franklin yang sudah siap pada posisi untuk meluncur melihat ke bawah di mana terdapat lorong di sana.
Ia pun meluncur layaknya bermain di water boom. Luncuran yang berkelok ini, entah akan berujung dimana. Franklin hanya khawatir memikirkan dua wanita yang di sayangnya. Tibalah ia, di ujung seluncuran. Mendarat di atas jamur empuk yang serasa bagaikan spring bed. Raga Franklin memantul pelan, lalu kedua kakinya menjejak ke atas tanah dengan mulus. Lantas ia mengedarkan pandangannya di tempat luas nan terang itu. Tentu saja, untuk mencari dua sosok wanita yang telah memenuhi hatinya.
__ADS_1
"Halo, tampan. Apa kau mencari kak Vynnitta?" tanya kurcaci imut lainnya yang tiba-tiba muncul di belakang Franklin. Membuat pria tampan itu terkesiap sekejap. Sebelum, Franklin mengangguk, kurcaci itu telah menggamit tangannya dan menuntun menuju tempat di mana Alessia dan Vynnitta berada sekarang.
Baru selangkah Franklin berjalan, anggota yang lain menyusul turun dari seluncuran. "Apakah jauh dari sini?" tanya Franklin. Kurcaci imut itu menggeleng seraya tersenyum. Kedua mata bulatnya menunjukkan betapa kagum dirinya. Sepertinya dia kurcaci genit.
"Kalau begitu, aku akan menunggu kawan-kawanku." Franklin mengabaikan tatapan penuh binar dari kurcaci imut di hadapannya. Yang mana tinggi mereka hanyalah sebatas pinggangnya saja. Tidak lebih tinggi dari Alessia.
"Dimana kak Vynnitta?" tanya Maria pada Franklin yang mungkin tidak di sadari oleh yang lainnya. Bahwa sejak masuk hutan, Brandy tak lepas menggenggam tangannya.
"Namaku, Lala," sebut kurcaci itu sambil mengedipkan mata.
__ADS_1
"Kita ikuti, Lala!" ajak Franklin pada semua. Termasuk Xilondra. Pak kades berjalan perlahan, ia sudah tidak bersemangat seperti tadi. Bukan apa, hanya saja ia tau di mana batasan dirinya. Xilondra telah menyayangi Alessia seperti anaknya sendiri. Ia tidak mungkin membuat anak itu sebagai jembatan untuk meraih posisi yang ia inginkan. Sebab, Xilondra paham. Ia pun bisa meraba dari beberapa adegan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa, posisi Franklin tetap tak tergantikan. Hanya saja, sisa kekecewaan membuat Vynnitta mengorbankan rindu dan cintanya.
Xilondra, berubah pasif. Ia dengan segenap kerelaan, memberi jalan kesempatan untuk bertanggung jawab sepenuhnya kepada Franklin. Biarkan pria itu melakukan tindakan sesuai keinginan hatinya. Toh, bila Xilondra tetap memaksakan diri. Maka ia macam pecundang yang hanya bisa memancing di air keruh. Dan, itu semua, bukanlah gayanya.
Kini mereka berempat telah sampai, di sebuah ruangan yang luas dan sangat rapi. Tidak menyangka di dalam bawah tanah ada bangunan dan ruangan yang sangat sejuk. Padahal, mereka tidak menggunakan ventilasi maupun AC. Entah, tekhnologi apa yang membuat ruangan ini tidaklah pengap.
"Apa itu, pria yang kau maksud, Cu?" tanya NYI Laluna pada Vynnitta. Mereka terlihat duduk di atas pembaringan yang beralaskan anyaman. Sementara Alessia tengah rebah dan memejamkan matanya. Keadaannya sangatlah lemah. Franklin reflek menghampiri.
"Franklin, apa kau si manusia yang hidup meskipun telah dirasuki oleh racun beku?"
__ADS_1
Baru saja Franklin hendak membuka mulutnya, NYI Laluna susah lebih dulu menanyainya. Membuatnya yang gugup hanya bisa mengangguk pelan. Pasalnya, wanita yang dipanggil NYI Laluna oleh Franklin ternyata mirip dengan ....
...Bersambung ...