
🌹🌹🌹🌹🌹
"Tidak, jika terdapat keluarganya disini, dan itu--" Franklin membusungkan dada serta memasang wajah penuh kemenangan. Ia merasa dirinyalah yang lebih berhak dari siapapun untuk mengurus keadaan Alessia. Terlebih setelah ia mengetahui kenyataan dari Vynnitta jika Alessia adalah putrinya sendiri. Terbukti, karena Alessia mengidap penyakit yang sama dengannya. Anehnya racun itu tidak dapat diserap oleh Vynnitta. Bagaimanapun Wanita itu berusaha keras. Kekuatan akar menjalar seakan tak berefek sama sekali.
Hal itulah yang membuat Vynnitta begitu histeris, sebab dirinya seakan merasa Dejavu. Ia tak ingin lagi melihat penderitaan akibat racun beku itu. Begitupun dengan Franklin, pria itu begitu terpukul dan sedih lantaran ia tahu bagaimana rasanya. Bagaimana penderitaan Alessia. Bagaimana raga sekecil itu harus menanggung rasa sakit luar biasa. Bahkan, bisa membuatmu tak sadarkan diri akibat rasa tak kuasa dalam menahan sakit.
Terbesit ratusan tanya, sejak kapan Alessia menderita penyakit yang kemungkinan besar menurun dari sel genetiknya. Ketika penyatuannya malam itu dengan Vynnitta, tak disangka menumbuhkan benih yang akan menanggung penyakit yang sama dengannya. Franklin kembali teringat kebenciannya terhadap Raisa. Jika saja mantan istrinya itu tidak menyimpan dan melampiaskan dendam yang salah padanya, tentu saja ini semua tidak akan terjadi. Alessia tidak akan menanggung kesakitan yang teramat menyiksa seperti ini.
__ADS_1
Tanpa sadar, Franklin telah menyalahi takdirnya. Ia tidak menyadari bahwa ikatan tanpa benang yang terjadi antara dirinya dan Vynnitta kala itu, adalah lantaran karena racun mematikan yang menggerogoti tubuhnya. Tanpa hubungannya dengan Vynnitta, tentunya tidak akan ada Alessia, bukan?
Kebencian mendalam terhadap mantan cinta pertamanya itu telah berakar. Franklin terlanjur menyalahkan Raisa sepenuhnya, terhadap takdir buruk yang menimpa dirinya. Memang, dendam dan cinta buta akan menutup mata hati dari kebenaran. Menutup dari kenyataan bahwa semua hal yang terjadi telah digariskan oleh sang pemilik semesta.
"Siapa keluarganya? Maksudnya diri mu kah?" tanya Xilondra dengan nada sindiran. Ia bahkan tertawa sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum terbukti jelas. Kau tidak bisa membuktikan apapun tanpa hasil dari yang berhak menentukan. Kau tidak berhak melabeli Alessia dengan apapun. Bahkan kau tidak mengetahui seluk beluk perkembangannya. Bagaimana ia di dalam kandungan. Bagaimana ketika ia dilahirkan. Apa kau tidak malu, tiba-tiba datang dan mengakui dirimu sebagai keluarganya?" sarkas Xilondra begitu menohok Franklin. Xilondra menyembunyikan senyum kemenangan, ia bukanlah tipe orang congkak, yang menertawakan kekeliruan orang lain. Sekalipun itu adalah rivalnya sendiri. Sontak, kalimat yang di ucapkan Xilondra, membuat pria dengan rahang mengeras serta raut wajah dinginnya itu seketika merasa bumi bergetar di bawah pijakannya.
__ADS_1
'Sial! Apa yang dikatakan olehnya sebagian besar adalah benar. Bagaimanapun, aku tidak bisa mengakui Alessia hanya dengan sabab perkiraan semata. Gill, seharusnya pria itu sudah mencurigai hal ini sejak lama bukan?' batin Franklin, mengiyakan kata-kata Xilondra meski hanya dalam hati. Sifat arogannya masih mendominasi. Tentu saja, ia tidak akan terang-terangan membenarkan pendapat dari kades yang telah menjadi rivalnya mulai saat ini. Sebab, Franklin semakin yakin jika Xilondra berkeinginan besar memiliki Vynnitta.
"Meski belum terbukti secara tertulis, namun hubungan darah dan ikatan batin tidak dapat di pungkiri. Terbukti, dengan keberadaan ku di desa ini. Bahkan, jarang antara kota dan desa Cenderawasih ini sangat jauh. Kalau bukan karena jalinan tak kasat mata ini, kami belum tentu sampai ke desa mu yang terpencil," dalih Franklin. Bagaimanapun, sisi arogannya menolak untuk kalah. Ia merasa lebih berhak dari siapapun terhadap Vynnitta dan Vynnitta.
"Hentikan!"
...Bersambung ...
__ADS_1