
🌹🌹🌹🌹🌹
"Siapa Raisa?"
Citra sontak membuka matanya dan memasang wajah melongo mendengar kalimat yang meluncur keluar dari mulut rival-nya itu.
"Kau tidak tau siapa dirimu? Jadi kau lupa Kak?" Citra menegaskan dengan tanya sekali lagi. Demi memastikan jika Raisa benar-benar tak tau siapa dirinya.
"Aku siapa? Kenapa aku ada di sini?" tanya Raisa dengan wajah bingung ke arah Citra.
"Haiihh, menyebalkan sekali! Kenapa kau sampai lupa ingatan segala. Jadi gak seru perangnya." Citra kembali memejamkan kedua matanya. Lebih baik beristirahat saja pikirnya. Daripada harus meladeni kakak sepupunya yang sepertinya mengalami gegar otak itu.
"Jadi, kau tidak ingat siapa dirimu!" Oma Elli yang baru saja masuk dan mendengar percakapan keduanya, segera mendekat lalu mencekal pergelangan lengan Raisa.
"Siapa kalian! Kenapa meneriakiku?" tanya Raisa dengan mulut bergetar. Ia benar-benar terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
" Sebaiknya kau panggil dokter, Franklin. Agar kita tau apa yang sudah terjadi padanya.
__ADS_1
Sementara itu Raisa terus meringis. Kali ini ia terlihat memegangi perutnya.
"Kenapa, sekarang perutku yang sakit," lirihnya pelan sambil meringkuk kan tubuhnya.
_____
"Istri anda mengalami gegar otak parah akibat benturan hebat yang terjadi pada kecelakaan kemarin malam. Kami bahkan sempat mengoperasi pembuluh darah yang tersumbat pada hypotalamus-nya. Bagus saja, istri anda tidak tertidur terlalu lama. Ia masih beruntung," tutur sang dokter spesialis yang menangani Raisa.
"Terimakasih atas penjelasannya Dok. Tapi, bagaimana dengan kandungannya?" tanya Franklin. Membuat kening sang dokter berkerut.
"Jadi, anda belum tau mengenai hal itu? Kalau soal itu, baiknya anda tanyakan saja dengan dokter Obgyn," jawab sang dokter dengan ekspresi penuh simpati. Menurutnya Franklin adalah suami yang menyedihkan.
"Kuatkan dirimu. Mendengar apapun nanti berita yang akan kita dengar. Karena kecelakaan itu begitu hebat. Sebuah suatu keberuntungan, mereka berdua masihlah hidup dan utuh. Semesta masih berbaik hati terhadap keduanya." Oma Elli berusaha menasihati serta menguatkan Franklin. Agar pria itu tetap tegar dan tegak berdiri terhadap hasil apapun yang akan mereka terima nanti.
______
"Jadi ...." Franklin mencoba bertahan agar tetap berdiri di atas kakinya. Meski ia telah mempersiapkan hatinya, akan tetapi batinnya seolah mendapatkan pukulan kuat. Sementara Oma Elli yang sejak awal menasihatinya, justru beliaulah yang lebih dulu histeris.
__ADS_1
"Bahkan Oma belum menyadari kehadirannya Franklin. Kenapa justru kabar ini yang sampai menusuk hati terdalam ku? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal!" Oma Elli meneriaki Franklin di sela-sela tangisnya. Sementara sang perawat tetap setia mencoba untuk menghibur Elli.
"Maafkan, Franklin. Oma ...,"
"Oh, Bou! Apakah semesta memang ingin menghabisi keturunan kita? Kenapa nasib cucuku begitu sial? Bou, katakan padaku ... kenapa?" Elli masih terus meracau dan menangis. Hingga sang perawat tak tau lagi harus membujuknya seperti apa.
"Oma, ku mohon jangan begini. Oma membuatmu semakin merasa bersalah." Franklin tak kuasa menahan buliran kristal itu untuk tidak meluncur turun. Karena genangannya tengah menyeruak, hingga memaksanya tumpah membanjiri wajah tampannya.
"Vyn ...! Maafkan Oma! Kembalilah Vyn ...," panggil Elli lirih, hingga akhirnya tubuh tuanya itu terkulai di atas pangkuan Franklin.
_____
"OMAA ....!" Vynnitta banjir peluh di sekujur wajah hingga lehernya. Ia terbangun dari tidur siangnya. Karena kehamilannya ini membuatnya selalu ingin tidur dan makan saja.
Vyn, kemudian mengatur napasnya yang terengah-engah. Tak lama kemudian ia menangis sesenggukan. Semenjak hamil, perasaanya menjadi mellow dan mudah sekali sedih. Tak ada lagi Vynnitta yang cuek dan asal bicara. Kini, ia berubah menjadi Vynnitta yang anggun, lembut dan feminim.
Mungkin pengaruh dari hormon kehamilannya, atau juga naluri sifat keibuannya yang keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Oma, Vyn rindu. Apakah oma tau? Sekarang tidak ada lagi tempat Vyn minta peluk. Hiks ....," lirih Vynnitta dalam isaknya di kamar yang sepi.
Bersambung>>>>