
🌹🌹🌹🌹🌹
GREPP!
Franklin yang telah siap, segera menangkap tubuh polos Vynnitta yang terjatuh dari aksi melayang tadi. "Kau, baik-baik saja, Vyn?" risau Franklin. Ia menatap seluruh raga Vynnitta yang tiba-tiba lemas. Mata, wanitanya itu masih terpejam. Tak lama kemudian, Vyn membuka kedua matanya.
Ia tersadar, jika raga tanpa benangnya kini berasa dalam pelukan Franklin. Meskipun, mereka baru saja melakukan penyatuan, tetap saja rasa malu itu hinggap di harinya. Membuat semburat merah merona kembali tercetak di kedua pipinya.
"A–aku, tidak apa-apa. Kau bisa melepaskan aku," pinta Vynnitta tanpa melihat kearah wajah Franklin. Ia merasa malu, karena tubuhnya mendapat sentuhan dari Franklin secara sadar. Bahkan, Vynnitta menutupi area atas dan segitiga dengan telapak tangannya yang kecil.
Tak ayal perbuatan konyol Vynnitta membuat Franklin menahan senyumnya. Ia begitu gemas dengan kelakuan wanitanya ini. Meskipun sudah memiliki seorang anak perempuan tetap saja masih polos dan lugu.
"Sudahlah, jangan malu. Aku bahkan sudah hafal semua bentuknya. Aku akan selalu membayangkannya di manapun ku berada."
CUP!
Franklin tersenyum seraya mendaratkan satu ciuman hangat di kening Vynnitta. Membuat wajah tirus itu kembali nge-blush seketika.
Hei! Udah ngapa romantisannya.
Ayang masih jauh ini belom otewe!
Hadeehh, beratnya ujian hidup otor. Hiks!
"Bi–bisa turunkan aku? Kita harus menemui Alessia diruang pengobatan," pinta Vynnitta yang mana segera di kabulkan oleh Franklin. Pria itu menurunkannya perlahan. Lalu membawanya menuju ruang kebersihan, untuk membersihkan diri.
"Hei, kau tak perlu Franklin. Ma–maksudku, suamiku." Vyn segera mengubah panggilannya saat ia melihat kode penolakan dari sorot mata Franklin.
"Biar saja. Ini adalah tugas pertama ku sebagai hamba mu," jawab Franklin tentunya dengan senyum yang tak akan lekang oleh waktu. Ia nampak bahagia dan senang hati dengan apa yang tengah dilakukannya saat ini. Di mana, saat ini Franklin tengah membasuh seluruh tubuh Vynnitta dengan waslap yang lembut dan juga air hangat yang di campur dengan ekstrak wewangian.
Akhirnya, Vynnitta pun pasrah saja. Membiarkan Franklin melakukan apapun pada dirinya. Ia pun merasa kebahagiaan tak terkira dari ini semua. Ia merasa bahwa dirinya memang pantas mendapatkan puji dan puja dari Franklin. Hohoho ... bagus Vynnitta. Manfaatkan dia!
Setelah selesai keduanya pun bergegas menuju ruangan pengobatan. NYI Laluna dan Tutu telah menunggu kedatangan Vynnitta. Sementara, Brandy dan Maria, serta Gill dan Xilondra menunggu untuk menyaksikan di ujung ruangan. Terlihat, dimana Xilondra menghela napasnya tanpa harapannya pupus sudah.
Wanita yang seberapa kuat ia inginkan dan ia perjuangkan, sejatinya memang tidak ditakdirkan untuknya. Xilondra menahan sesak yang mengumpul di dalam dadanya itu. Menyeka diam-diam sudut matanya yang telah membendung cairan kristal.
"Calon down, Bro! Nasib baik pasti sedang menuju padamu. Aku yakin itu," ucap Gill yang menyadari kegalauan hati seorang kades yang gagah nan tampan ini. Sosok sempurna, yang tak mungkin mendapat penolakan dari wanita manapun. Hanya saja nasibnya kurang baik. Sebab, begitu mencintai wanita yang hatinya telah terkunci satu sosok pada masa lalunya.
"Ya, semua adalah bagian dari rotasi kehidupan. Aku, Paham. Ini bukan masalah untukku." Xilondra memaksakan senyumnya. Gill tau itu.
Vynnitta pun melakukan ritual penyerapan racun beku sesuai arahan dari NYI Laluna. Dalam hitungan menit, racun tersebut telah terserap sempurna. Akan tetapi, proses tersebut telah meninggalkan sesuatu pada bagian tubuh Vynnitta, yaitu rambutnya.
__ADS_1
"Vyn, rambutmu!" pekik Franklin tertahan. Karena, Alessia telah kembali membuka matanya dan memanggil.
"Mommy ... Uncle ...!" panggil Alessia dengan suara khas anak kecil perempuan.
"Sayaaang ..," Vynnitta merengkuh raga yang terlihat segar bugar itu dan memeluknya erat. Begitupun, Franklin. Ia merengkuh dua raga itu sekaligus. Mengecup pucuk kepala Alessia dan Vynnitta bergantian. Membuat salah satu penonton tersedak biji rambutan. Padahal, saat ini bukanlah musim buah rambutan. Melainkan musim kedondong.
"Aku keluar!" Xilondra berpamitan pada Gill. Ia membutuhkan udara segar untuk menetapkan kewarasan pada dirinya.
"Mommy, Ale merasa sangat baik. Ale pikir, hari itu adalah terakhir melihat Mommy dan Uncle. Karenanya, ketika Uncle Gill mengajak kerja sama, Ale sangat senang," tutur Alessia yang mana hal itu membuat Vynnitta kaget bukan main.
"Sejak kapan Ale merasakan sakit seperti itu? Bagaimana bisa Ale tidak menceritakan pada Mommy?" tanya Vyn dengan raut sesal yang kentara.
"Tidak usah dipikirkan ya, Sekarang kan Ale sudah sehat. Ale senang, Uncle tampan ada di sini juga. Setidaknya, sakit Ale ada hikmahnya," ucap anak perempuan yang belum genap lima tahun usianya. Akan tetapi, dari cara bicaranya menunjukkan betapa dewasa jalan pikirannya.
"Panggil, Daddy pada pria tampan yang kini ada di belakangmu," ucap Vynnitta, yang mana hal itu membuat kedua mata indah Alessia membola dengan bentuk mulut yang juga hampir sama bundarnya.
"Benarkah! Ale punya Daddy?" pekik Alessia tak percaya. Anak itu senang bukan kepalang sehingga ia berbalik dan langsung menubruk Franklin, hingga keduanya terjatuh di pembaringan.
"Daddy! Ale punya, Daddy!" pekiknya girang bukan main.
"Hiks, kenapa banyak yang menabur bawang sejak kemarin. Aku lelah menangis," sungut Maria sambil mengusap mata dan bawah hidungnya.
"Setelah ini, kau hanya akan melihat kebahagiaan di sekeliling mereka. Juga, pada setiap lembar hidupmu ke depan. Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha dan berjuang untuk membuktikannya," ucap Brandy, yang kini merangkul maria dari samping.
"Ikut, aku. Kita akan menikah, dan kau akan menjadi nyonya Brandy. Menanti, selalu kepulangan suami tampan mu ini dengan senyum dan pelukan. Bagaimana? Apakah tawaranku sudah cukup menggiurkan?" tanya Brandy yang mana hal itu membuat Maria melongo lantaran kaget. Sesaat kemudian ia tersadar.
" Tentu saja aku mau!" jawab Maria antusias. Mereka pun berpelukan tanpa memikirkan nasib Gill yang merana karena jauh dari pasangannya.
"Dasar kalian jawab gak ngotak! Udah seneng aja, lupa sama teman sendiri. Xilondra juga keluar lagi. Terus, aku harus peluk siapa dong ini!" Gill, menggaruk kasar rambut ikalnya itu.
Kasian kau Gill!
Sabar ya, bentar lagi pulang ketemu deh sama ayank.
" NYI, terimakasih atas semuanya. Kami ijin pulang. Entah kapan kita akan bertemu lagi." Vynnitta memegang erat tangan NYI Laluna, membuat senyum indah merekah di wajah paruh baya wanita berpakaian macam gipsi itu.
"Kau cukup berjanji akan bahagia dengan keluargamu. Itu, sudah lebih dari cukup bagiku. Tetaplah, jaga kerahasiaan keaslian hutan ini. Hanya itu pintaku pada kalian semua," ucap NYI Laluna.
"Kami berjanji NYI, akan menjaga rahasia ini hingga nyawa tak lagi bersemayam," sahut Franklin yang sejak tadi ingin menanyakan sesuatu namun ia tahan.
"Jangan berpikir macam-macam, tuan tampan. Aku tidak ada hubungannya dengan orang-orang di duniamu. Pergilah, yang kau lakukan sudah benar. Jaga, cucu dan juga cicit ku dengan baik. Atau, aku akan menyeret mu kesini untuk ku jadikan makanan para Guardians!" ancam NYI Laluna yang mana hal itu lantas membuat Franklin merinding.
__ADS_1
Mereka semua pun menunduk dan memejamkan mata sambil saling berpegangan erat. Pada saat itulah, bumi seakan berputar si sekitar mereka. Ketika, mata terbuka maka apa yang mereka lihat tadi hilang tanpa bekas.
" Mommy, kita kembali. Ini pekarangan rumah kita!" pekik Alessia senang.
"Ale bisa jaga rahasia kan?" tanya Vynnitta yang kemudian diangguki dengan cepat oleh Alessia.
"Kenapa rambut Mommy seperti Om Dokter?" tanya Alessia yang sejak di hutan Jatiwarna ia tahan.
"Apakah ini efek samping dari serapan racun tadi. Sehingga, merubah warna rambutmu menjadi putih seperti ini?" tanya yang sejak tadi juga telah bersarang di kepala Franklin. Kini ia keluarkan.
"Aku tidak apa, ritual tadi hanya mengubah warna rambut ku saja." Vyn, berkata dengan tenang agar tidak ada lagi yang berpikiran macam-macam. Ia akan memastikan, bahkan berjanji pada dirinya sendiri. Mulai detik ini , ia akan bahagia. Juga membahagiakan orang-orang yang berada di sisinya. Selama, nyawa itu masih bertengger dalam jiwanya.
"Kita masuk sayang!" ajak Vynnitta pada alessia putrinya.
"Daddy, tidak di ajak?" rajuk Franklin yang di tinggal di belakang.
"Mom!"
"Ah, ya ampun. Mommy lupa!" gelak Vynnitta yang hampir saja menutup pintu depan.
"Baru sehari lho!" protes Franklin lalu berjalan cepat dan kembali memeluk dua wanita sumber kebahagiaannya ini.
Gais ....
Huwaa ....
Mereka udah HEPI ...
Itu artinya, kisah novel ini dengan berat hati, otor tamatkan. Hiks ...
Terimakasih ...
Banyak ... banyak ... banyak. ..
Pokoknya sampe tumveh ... tumveh deh luber ucapan makasih dari otor buat kalian pembaca setia novel ini.
Lope sangat ...♥️♥️♥️♥️
Pokoknya, jangan bosen untuk terus ikutin karya otor selanjutnya yaa ...
See you ... on the next story ...!
__ADS_1
Much Love end big hug for you gais ...!
...TAMAT...