
🌹🌹🌹🌹🌹
"Maksud anda istri dan anak begitu?" sahut Franklin balas bertanya.
"Ya, bisa di bilang begitu," jawab Xilondra.
"Sama seperti anda. Saya masih sendiri, single, jomblo, " celetuk Franklin sekenanya.
"Tentu saja tidak, Tuan. Karena saya akan segera mengakhiri masa lajang dan kesendirian ini. Bukankah begitu, sayang?" tanya Xilondra pada Vynnitta, yang mana membuat wanita itu langsung tersedak.
"Uhuk ... uhuk!" Mendapat pertanyaan yang menohok dari Xilondra, membuat makanan itu tersangkut di antara tenggorokannya. Dua pria di hadapannya serempak menyodorkan gelas berisi air. Vynnitta yang merasa perih tenggorokannya, asal saja meraih gelas tanpa melihat siapa yang memberikannya.
Xilondra tersenyum getir ketika Vynnitta menerima gelas dari tangan Franklin. Sebaliknya, justru senyum kemenangan tercetak di wajah rivalnya yang menjadi tamu di desanya itu.
'Haih, Vynnitta. Tanpa saingan saja sangat susah mendapatkan hatimu. Kini, aku malah harus bersaing dengan pria dari masa lalumu. Atau, jangan-jangan dia adalah ayah biologisnya Alessia?' Batin Xilondra.
'Aduh, tenggorokan ku jadi perih. Franklin, kenapa dia mengatakan jika statusnya single? Apa dia telah berpisah dengan Raisa?' Batin Vyn menerka-nerka.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Xilondra dengan kekhawatirannya. Namun, ia justru mendapat tatapan penuh tanya dari Vynnitta.
"Sudah lebih baik. Hanya sedikit perih di tenggorokan," jawab Vyn tanpa ekspresi. Ia sungguh kaget, karena Xilondra pandai memanfaatkan kesempatan. Bahkan seenaknya mengumbar panggilan sayang padanya.
"Apa kau kaget dengan ajakan ku yang mendadak ini. Tak usah di pikirkan. Jika kau sudah siap aku akan melamar mu secara resmi. Agar aku dapat melindungi mu, dari gangguan pria lain," ucap Xilondra bermaksud menyindir pria yang berada disebelahnya.
'Sial. Kenapa pria ini tau- tau ingin melamar Vynnitta. Aku tidak bisa membiarkan itu semua terjadi.' Batin Franklin geram.
'Kau benar-benar ya, Xilondra. Memanfaatkan keadaan ku yang tersudut.' Batin Vyn seraya melirik Xilondra. Akan tetapi pria itu hanya tersenyum dan memasang wajah malaikatnya.
__ADS_1
Vyn tidak dapat menjawab apapun ia hanya bisa mengangguk. Dirinya bagaikan memakan buah simalakama. Berharap lepas dari Franklin, tapi justru terjebak dengan Xilondra yang sudah sejak lama tergila-gila padanya.
Xilondra pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali ini. Ia sadar jika Vynnitta membutuhkan status segera. Agar dapat terlepas dari pria masa lalunya.
'Izinkan aku untuk egois kali ini saja. Karena memilikimu bagaikan angan belaka. Sekian lama aku telah tenggelam dalam pesona cinta dan harapan yang tak kunjung bertepi. Kali ini akan ku ikat hatimu agar tak dapat di miliki oleh pria selain aku. Aku tak peduli siapa dia dan siapa kamu dulu. Yang aku lihat kau saat ini dan nanti harus ada di sampingku.' Batin Xilondra yang telah memutuskan untuk sekali lagi memperjuangkan Vynnitta sekuat tenaga. Ia tidak akan menyerah dan membuat penantiannya sia-sia. Vynnitta lah kebahagiaan dan masa depannya.
"Jika sudah selesai, kalian boleh pergi. Karena saya masih ada pekerjaan. Maaf, bukan mengusir. Akan tetapi, pertemuan kita cukup sampai di sini saja," ucap Vynnitta, ia mendadak pusing tujuh keliling. Karenanya ia membubarkan saja para tamu nya itu.
"Baiklah, aku akan kembali lagi malam nanti," ucap Xilondra.
"Tidak perlu. Aku akan sibuk sampai malam!" tampik Vynnitta lantang.
Xilondra pun menghela napasnya pelan, meskipun begitu senyumnya tetap terpatri di wajah kharisma yang penuh wibawa itu.Ia mengerti, jika Vynnitta butuh waktu untuk menerima lamarannya kali ini.
Sementara Franklin hanya menyimak saja. Ia memiliki rencana, tapi akan ia lancarkan secara gerilya. Tekadnya sudah bulat untuk kembali merebut hati Vynnitta. Misinya harus berhasil dalam membawa wanita itu kembali ke mansion nya. Apapun tantangannya, Franklin akan libas sekuat tenaga.
"Saya berharap kita bertemu lagi," ucap Franklin sebelum ia berbalik dan pergi ke arah di mana mobilnya terparkir.
"Hei kalian!"
Dugh Dugh!
Franklin memukuli samping kendaraan roda empatnya. Agar anak buahnya itu segera terbangun dari tidur siang cantik mereka.
"Aih kau! Kenapa kau lama sekali!" pekik Brandy yang terkesiap hingga hampir jatuh dari duduknya. Ia pun menyeka sekilas cairan yang merembes dari sudut bibirnya.
"Kau mengotori mobilku!" omel Franklin seraya menarik Brandy agar keluar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Gill! Bangun atau ku pulangkan kau sekarang juga!" teriak Franklin yang seketika mengagetkan Gill yang tengah berlayar di pulau mimpinya.
"Haih, maaf Tuan. Kami kekenyangan jadi mengantuk," jelas Gill seraya menguap lebar.
"Tutup mulutmu Gill!" teriak Franklin. Ia paling tidak suka melihat orang yang menguap tapi tak menutup mulutnya. Bukan lantaran tidak sopan saja, akan tetapi juga bisa membahayakan dirimu sendiri.
"Memang siapa yang memberi kalian makan?" heran Franklin yang telah berada di kursi sebelah Gill yang siap mengemudi.
"Tuh, gebetannya Pak Dokter yang bawain. Mana enak dan lezat. Bisa-bisa timbangan saya naik nih kalau begini terus," oceh Gill, yang seketika mendapat timpukan dari belakang kursi.
Pletuk!
"Sakit!" Gill memekik seraya mengusap belakang kepalanya.
"Berhenti atau kalian berdua ku tendang keluar!" ancam Franklin yang seketika membuat keduanya terdiam.
" Gimana, Tuan. Temu kangennya lancar?" tanya Gill ketika mobil yang ia kendarai berjalan mulus di atas tanah pedesaan. Di kanan-kiri mereka masih menghampar sawah yang baru berwarna hijau.
"Vyn, sudah punya calon suami."
Ckiiiitttt ....!
Dugh!
"Sial kau Gillete!"
Bersambung>>>
__ADS_1