
๐น๐น๐น๐น๐น
"VyโVynnitta." Franklin tergagap mendapat pertanyaan mendadak dari Elli.
"Iya, Vyn. Pelayan kesayangan Oma. Pelayan pribadimu. Kemana dia? Kenapa Oma tak melihatnya semenjak pulang ke Mansion ini?" tanya Elli penuh selidik.
"Itu, Vyn ... dia di usir oleh Raisa." Franklin berkata lemah. Ia malu terhadap sang Oma. Bagaimanapun Elli yang telah membawa Vynnitta kedalam Mansion ini.
" Keterlaluan! Kenapa Rai mengusir pelayan terbaik Oma!" Elli marah dan tak terima. Ia yang mengetahui segala permasalahan Vynnitta. Merasa bertanggung jawab terhadap gadis itu.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช.
๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฎ๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ...
๐๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ง๐ข๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข .
๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ข๐ช๐ด๐ข.
Batin Franklin dengan segala penyesalannya.
"Panggil lagi dia kesini! Siapapun tak berhak mengusir Vyn! Oma yang membawa gadis itu ke dalam Mansion!" tegas Elli menatap Franklin tajam.
๐๐ข๐ณ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐๐บ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
__ADS_1
"Maafkan Franklin, Oma. Aku, tidak dapat memanggilnya lagi kesini," ucap Franklin lirih. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya, takut ketika melihat raut kecewa Elli.
"Kenapa tidak bisa? Kalau begitu, antar Oma ke tempat Vyn berada!" titah Oma tegas tak mau di bantah.
Namun, Franklin memberanikan dirinya. Apapun yang terjadi sudah menjadi konsekuensinya. Ia lelaki, maka harus berani mengatakan yang sebenarnya.
"Aku, bahkan tidak tau Vyn pergi kemana Oma."
"Apa!" Oma Elli sontak berdiri, menampilkan raut wajah kaget juga tak terima.
"Oma, ku mohon jangan marah. Dengar dulu penjelasan Frank, Oma."
"Cepat katakan apa alasanmu Franklin Marquise!" Oma Elli benar-benar marah. Karenanya ia memanggil Franklin berikut nama lengkapnya.
"Begini, Oma. Kala itu anak buahku di hadang orang suruhan Raisa. Mereka kehilangan jejak Vynnitta. Sepertinya gadis itu pergi menggunakan kendaraan darat. Karenanya, kala itu tim ku kesulitan melacaknya," jelas Franklin dengan alasan yang nyata. Ia memang telah membuat tim untuk melacak Vyn. Hanya saja kasus penculikan Elli membuatnya tak fokus memikirkan Vynnitta.
๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐๐บ๐ฏ๐ฏ๐ช๐ต๐ต๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ต๐ถ.
"Oh, Franklin. kenapa bisa terjadi seperti ini? Kenapa kau tidak bisa membela gadis itu. Kau bahkan banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu mengurus mu ketika Raisa melupakanmu demi pekerjaannya," ujar Elli mengembalikan seketika ingatan Franklin.
Ketika awal kedatangan gadis itu ke Mansion. Bagaimana perlakuan dirinya terhadap Vynnitta. Tetap saja Vyn, tulus dalam mengurusnya. Bahkan, ternyata Vyn menyimpan perasaan padanya. Hal itu semakin membuat Franklin tenggelam dalam penyesalan.
"Dimana kau Vyn. Oma merindukanmu." Gumam Elli, seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Wanita tua itu membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Elli menangisi kepergian Vyn serta ketidak jelasan keadaan gadis itu.
"Oma ...,"
__ADS_1
"Aku pasti akan menemukannya." Franklin berucap dengan yakin. Padahal tak ada sedikit pun jejak yang terlihat.
"Kau menemukannya Frank. Atau Oma tak mau lagi berbicara padamu!" Elli bangkit berdiri, lalu berlalu ke atas. Diikuti seorang perawat yang menuntunnya.
๐๐ข๐ช๐ฉ๐ฉ. ๐๐ฎ๐ข ...
๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐บ๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฎ๐ถ.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ.
๐๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ช๐ข ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ- ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐๐ฎ๐ข.
๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ค๐ถ๐ค๐ถ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
______
"Uhukkk!"
"Pelan-pelan Kak. Buburnya masih agak panas memang. Tapi, percayalah. Setelah makan bubur buatan ibu, Kakak pasti akan membaik," ucap Maria dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Terimakasih. Bubur buatan ibumu sangatlah enak. Aku bahkan tak sabaran memakannya," jelas Vynnitta kemudian terkekeh.
"Umpttt." Seketika Vynnitta membekap mulutnya, kala ia merasakan gejolak yang berasal dari perutnya. Sontak ia pun berlari ke kamar mandi.
"HUWERRKK!!"
"Kasian, Kak Vyn. Seharusnya ada suami siaga yang mengurusnya."
__ADS_1
Berssmbung>>>>