
🌹🌹🌹🌹🌹
"Oma mau ke asrama dulu. Bagaimanapun amarah ini menggunung terhadap Raisa, akan tetapi kita harus melihat kebaikan orang tuanya di masa lalu. Semoga perbuatan baik kita padanya, terbalaskan dengan perbuatan baik terhadap Vynnitta, dimana pun ia berada," tutur Oma Elli bijak. Wanita tua pemilik Mansion dan istri dari pendiri perusahaan di mana Franklin menjadi CEO nya.
Elli mencoba ikhlas dan memaafkan Raisa, demi mengenang kebaikan dari kedua orang tuanya. Apalagi belum lama di kabarkan bahwa Mathew tiada. Pria itu dirawat di panti khusus orang dengan gangguan jiwa. Di mana Elli menjadi pendonor tetap di sana.
Perusahaan Matthew yang kecil, dengan omset puluhan juta perbulannya. Telah berantakan karena bangkrut. Semenjak Raisa mempercayakannya pada Alex.
Sampailah Citra lebih dulu ke asrama. Karena kendaraan yang dinaiki Elli lebih dulu masuk bengkel karena melindas paku yang biasa si tabur di tengah jalan.
Citra tersenyum miring tatkala melihat Raisa senang kala melihatnya. "Baguslah, ternyata ingatannya belum pulih. Aku akan dengan mudah mengajaknya ke rumah bordil." Citra bergumam pelan dengan raut wajah berseri.
__ADS_1
"Citra, benarkah kau akan mengajakku keluar dari sini?" tanya Raisa ketika mereka berdua telah berada di taman, sambil makan roti burger yang sengaja di beli oleh Citra.
"Yup. Kau mau kan keluar dari tempat ini?" pancing Citra. Ia tau jika seorang Raisa tidak akan tahan terhadap peraturan yang ketat. Sepupunya itu pasti tidak akan betah berada di tempat ini. Bahkan, Raisa telah beberapa kali melakukan tindakan kasar terhadap sesama penghuni asrama. Sifatnya yang semakin tak bisa di kontrol karena emosinya yang tiba-tiba meledak hanya karena hal sepele.
"Aku akan meminta ijin untuk membawamu ke makam suamimu itu. Nanti kau harus mendukungku dengan tangisan, bisa tidak?" ujar Citra menjelaskan rencananya. Raisa hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang dibawa oleh Citra. Maklum saja ia terlihat rakus, karena di asrama makanan terbatas dan terkontrol gizinya.
Karena itulah Raisa sangat senang jika Citra datang mengunjunginya. Citra tau bagaimana hidup Raisa sebelumnya. Karena itulah, ia sengaja memanjakan Raisa agar menurut padanya.
"Oke kita mulai sekarang saja. Makannya lanjut lagi nanti saja. Aku akan mengajakmu ke restoran, agar kau bisa makan enak sepuasnya." Citra berkata dengan senyum liciknya. Sementara itu Raisa berbinar karena akhirnya akan dapat menghirup udara luar.
"Akting mu bagus juga Raisa. Sampai mereka semua percaya dan trenyuh saking terharunya." Citra pun tergelak di depan kemudinya.
__ADS_1
"Entah lah, aku seperti telah terbiasa melakukan kamuflase seperti itu. Aneh, bahkan aku tak mengingat siapa aku sebelumnya. Apakah aku artis ini sinetron?" tanya Raisa yang mana justru membuat Citra semakin tergelak.
"Kau itu, bukan hanya artis sinetron. Tapi artis layar tancap. Hahaha ...!" Citra girang sekali bahkan ia tertawa sampai puas begitupun Raisa. Meskipun ia tak ingat siapa dirinya dan juga terhadap masa lalunya. Hanya saja sifat menindas dan curang nya tetap sama. Karenanya di asrama tak ada yang mau berteman dengannya.
"Makan lah sepuasnya. Setelah ini kau harus membantuku." Citra memesankan semua makanan favorit Raisa. Hingga kedua mata wanita itu terbelalak gembira. Akhirnya Raisa pun makan sepuasnya, hingga tanpa ia sadari bahwa ada sebuah takdir tengah menanti dirinya.
Beberapa waktu kemudian.
"Ayo, kita kedalam!" ajak Citra setengah menyeret Raisa. Berhubung perutnya senang dan hatinya juga senang, karena Citra telah membelanjakannya barang-barang bagus untuk ia kenakan. Bahkan Citra juga mengajaknya memanjakan diri di salon. Tibalah waktu langit gelap menyapa keduanya. Ke sebuah hotel berbintang, dimana kini Citra mengajak Raisa.
𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵, 𝘙𝘢𝘪𝘴𝘢.
__ADS_1
𝘒𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶.
Bersambung>>>