
🌹🌹🌹🌹🌹
"Anda mau kemana Pak Dokter?" tanya Gill pada Brandy yang tengah mematut dirinya di depan cermin panjang.
"Kemana lagi? Jika bukan demi, tuanmu itu. Aku tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti ini," ketus Brandy membuat Gill mencebikkan bibir bawahnya.
"Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Apa kau ragu terhadap pengorbanan ku ini?" cecar Brandy padahal Gill tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menimpalinya.
"Kenapa usaha bisa disebut pengorbanan?" heran Gill, sebenernya ia bermaksud menyindir saja.
"Usaha ku mendapat kan informasi, bukankah akan berakhir dengan mengorbankan kesucian ku nantinya!" sarkas Brandy membuat kening Gill seketika melipat.
"Kesucian ... apa maksudmu, Pak Dokter?" Gill menjadi bingung dengan kalimat ambigu yang dilontarkan oleh Brandy.
__ADS_1
"Iya, kesucian. Tentu saja kesucian ku. Kau tau kan jika Maria sangat bernafsu ingin mencium ku. Bukankah dengan begitu maka kesucian ku akan ternoda. Aku tidak akan menjadi laki-laki polos lagi," ucap Brandy polos membuat Gill seketika terbahak sambil memegangi perutnya.
PLETAK!
Sebuah pukulan menggunakan alat pelurus rambut itu mengenai bahu Gill kencang. "Aih, panas tauk!" pekik Gill merasakan sedikit hawa membakar dari benda tersebut di punggungnya.
"Lagian rambut sudah lurus masih saja di begitukan," gerutunya sambil memanyunkan bibir.
"Diam kau. Penampilan bagiku adalah hal paling penting dan teratas. Memangnya kau, mencukur saja malas!" sindir Brandy sembari mengarahkan alat pelurus rambut itu ke jambang dan janggut Gill yang sudah lumayan lebat bulunya.
"Alasan saja!" dengus Brandy yang kali ini tengah menyemprotkan minyak wangi brand LN dengan harga fantastis. Sebab wanginya akan tercium dari radius satu mile. Percaya tidak?
Bahkan sekalipun orangnya sudah tidak di tempat, akan tetapi aromanya tetap masih tertinggal menusuk indera penciuman.
__ADS_1
"Hais, baunya!" ejek Gill seraya menutup hidungnya karena wangi yang begitu menyengat. Sepertinya Brandy memang sengaja ingin mengusir asisten dari sahabatnya itu.
"Saya tunggu di mobil saja. Kalau sudah beres cepatlah turun!" seru Gill seraya keluar dari kamar. " Heran, laki-laki tapi dandannya melebihi istriku kalau mau pergi kondangan," sungut Gill sambil menuruni tangga. Ternyata di bawah, ia berpapasan dengannya si empunya rumah.
"Halo, Tuan Gillette. Sepertinya anda terburu-buru sekali. Sampai harus berlari ketika turun?" sapa Bu Prita ramah. Namun tetap saja tersirat sebuah kekepoan dari pertanyaannya.
"Ah iya ... eh tidak. Kami berdua ingin menemui seseorang. Lebih tepatnya, saya hendak mengantar Pak Dokter bertemu dengan salah satu gadis berkualitas di desa ini" jelas Gill, yang sontak membuat Prita memasang raut wajah kaget campur haru.
"Boleh tau gadis itu siapa. Mungkin kami bisa membantu untuk mendekatkan kalian," tawar Prita. Membuat ide seketika keluar dari hypotalamus Gill. Pria itu menyunggingkan senyum penuh arti.
"Maaf, Bu Prita. Saya lihat, anda begitu dekat dengan gadis kecil milik nona Saga." Gill menjeda dulu kalimatnya sambil memperhatikan eskpresi wanita paruh baya ini.
"Itu benar. Memangnya ada apa ya?' selidik Prita, ia takut keceplosan ketika berbicara mengenai hubungan Vyn dan Alessia.
__ADS_1
"Em, anda pasti tau dong kapan waktu kelahiran nona Alessia?"
Bersambung>>>]