Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Empat tahun merindukanmu.


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Mommy!" pekik Alessia seraya menubruk belakang Vynnitta. Sontak kedua mata Vynnitta membelalak besar sekali.


"Aโ€“Alessia, putri Mommy," gagap Vynnitta terbata karena terlampau senang. Vyn memegang tangan kecil yang melingkar di pinggangnya, lalu ia segera memutar tubuhnya.


Gerakannya yang cepat tak mampu membuat orang-orang di belakang Alessia menyadari dirinya.


"Ale ...."


"Mommy ..."


"Kenapa Ale pergi? Kenapa tidak menunggu Mommy kembali?" lirih Vynnitta mencoba bertanya sambil memeluk erat putrinya itu.


"Maafkan Ale, hiks ...," jawab Alessia. Gadis kecil itu teramat merasa bersalah karennya lidahnya seakan kelu untuk berkata-kata. Ataukah memang kosakatanya telah habis, diumbar kala bercerita dengan Franklin tadi.

__ADS_1


"Sudah, sayang ... yang penting kita dapat berkumpul kembali," ucap Vyn seraya melerai pelukannya.


Franklin sejak mendengar suara Mommy dari Alessia telah curiga. Bahkan dadanya berdegup dengan sangat kencang. Ia merasa seperti tak asing dengan suara yang di tangkap oleh gendang telinganya.


Semua nampak jelas, tatkala Vynnitta mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang-orang berjasa yang telah membawa putrinya hingga ke tempat ini.


๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ!


๐˜–๐˜ฎ๐˜ข ...!


Kaget Vynnitta. Ia pun sontak berdiri dari jongkoknya, lalu menarik Alessia ke dalam dekapannya.


Hal yang sama ternyata juga tengah dirasakan oleh Franklin dan juga Elli. Keduanya terperangah luar biasa. Empat tahun sudah mereka mencari keberadaan Vynnnitta. Entah sudah berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk menyewa detektif swasta dan juga Kepolisian.


Tak disangka ketika bermaksud menyerah, justru takdir menemukan mereka semua, di waktu dan di tempat yang tidak diduga-duga. Elli terlihat membekap mulutnya, seraya mencengkeram erat kepala tongkatnya. Bulir air mata akhirnya lolos juga dari kelopak tuanya.

__ADS_1


Bagaimana dengan Franklin? Pria itu mematung dengan dua kelopak yang memanas. Dadanya turun naik menahan sesak. Karena ada rasa yang sekian lama terpendam, kini seakan hendak meledak. Akan tetapi harus ia tahan sedemikian rupa. Perlahan tapi pasti, buliran kristal bening yang menggenang di sudut matanya, akhirnya jatuh juga meluncur melewati rahang tegas dengan sedikit bulu halusnya. Pertanda bahwa usianya semakin matang kini.


Sedangkan Vynnitta, ia bagaikan terpaku di tempatnya berdiri saat ini. Tak bergeming dan sama sekali tak bisa bergerak. Sepertinya waktu seakan berhenti mendadak. Karena pada akhirnya hal yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi di waktu yang tidak disangka-sangka. Seketika dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat. Bahkan Vynnitta Erriana seolah susah untuk menelan ludahnya sendiri.


Tak bisa dipungkiri bahwa rasa rindu itu memang masih terpatri dengan suci di ruang hatinya yang terdalam, hingga tiada cinta yang tersisa untuk dilabuh kan pada hati yang lain. Meskipun logikanya mengatakan bahwa ia telah lama rela melepaskan Franklin, serta tidak akan pernah berharap apapun dari pria itu, juga keluarganya. Akan tetapi ternyata ikatan darah pasti akan menemukan tautan serta jalinannya meski jarak dan waktu cukup lama memisahkan mereka.


"Vynnitta ...!" pekik Elli memanggil, ketika kekuatannya kembali wanita tua itu memberanikan diri untuk membuka suara. Demi, membunuh keheningan yang melingkari mereka semua. Seketika Vynnitta kembali ke masa kini. Setelah sesaat lalu ia sempat time travel ke masa lalu.


"Oโ€“Oma," jawab Vyn lirih. Ingin rasanya ia diam dan memeluk Alessia erat. Akan tetapi, otak dan raganya tidaklah sejalan. Kaki Vyn melangkah mendekat hingga keduanya berakhir saling mendekap.


"Akhirnya kami menemukanmu ... Vynnitta ...!" Elli pun tak kuasa bertahan. Ia pun melepas tangisnya, hingga terisak hebat didalam dekapan Vynnitta.


"Maafkan, Vyn. Oma ...."


"Hiks, Vyn senang dapat melihat Oma panjang umur," ucap Vyn lirih di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2