Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Rencana Baru


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Kau--" Franklin tak dapat meneruskan kalimatnya. Ia bahkan kehabisan kata-kata untuk mengumpat wanita yang masih berstatus istri sahnya tersebut.


"Kalau mau, kau bisa mengambilnya sendiri." Raisa menyelipkan tabung cairan penawar racun semaki dalam diantara dua bukit kembarnya. Bentuknya yang besar dan padat tentu akan dapat menggoda setiap kaum lelaki. Tapi, itu tidak berlaku kini dengan Franklin.


Pria itu mendengus melihat kelakuan Raisa yang semakin membuat orang ingin mencekik batang lehernya. Franklin semakin geram dan kesal. Karena Raisa terus mempermainkannya.


"Kenapa kau terus menghinakan dirimu sendiri Rai? Kau terus menjatuhkan harkat dan martabat mu sebagai wanita?" ucap Franklin tak habis pikir akan maksud Raisa.


"Tak perlu banyak bicara atau mendikteku Frank. Jika kau menginginkannya, ambillah. Jika tidak, pergi saja sana. Temani wanita tua itu!" Raisa hendak kembali duduk ke sofa. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarik bahunya.


BRUGH!


Franklin melempar tubuh Raisa ke atas sofa. Kemudian ia menduduki bagian bawah Raisa.


"Ah, kau kasar sekali Frank." Raisa mendesis, entah apa maksud dari rencananya ini.

__ADS_1


𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘬𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩. 𝘚𝘦𝘯𝘢𝘫𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮 𝘙𝘢𝘪𝘴𝘢 . 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪?


Franklin yang sudah mengunci tubuh Raisa tak tau lagi harus berbuat apa. Ia terlihat memandangi wanita di bawah kuasanya. Padahal pikirannya saat ini entah tengah terbang kemana.


"Cepat ambil dan sembuhkan wanita tua itu!" Raisa menurunkan pakaiannya hingga ini nampak penutup gunungnya itu menyembul dengan jelas.


Franklin melihat sekilas. Sungguh tak ada sedikitpun napsu kini. Ia bahkan biasa saja melihat pemandangan indah di hadapannya saat ini. Setelah mengambil napas dalam, Franklin mengulurkan tangannya ke depan dengan cepat. Kemudian, menyusupkan nya diantara bukit kembar yang seolah menantangnya itu.


"Awh! Kau kasar sekali Frank!" pekik Raisa karena Franklin dengan terburu-buru dan memasukkan tangannya dengan kasar.


Setelah mendapatkan barang yang diinginkannya. Franklin segera turun dari atas tubuh Raisa.


"Setelah ini aku ingin kita bercerai, Raisa."


DEG!


Entah kenapa terasa ada yang menghujam jantung Raisa ketika ia mendengar Franklin mengucapkan kata-kata itu.

__ADS_1


"Kau tidak bisa melakukannya. Kecuali jika kau ingin nama perusahaan mu hancur berantakan!" ancam Raisa.


"Aku bisa menjelaskannya pada dewan direksi dan media. Aku tidak ingin lebih lama lagi menjadi mainan mu!" Franklin hendak berbalik, sebelum akhirnya kalimat terakhir Raisa mampu menghentikan langkahnya seketika.


"Atas dasar apa kau menceraikan ku? Sementara kau tidak memiliki bukti apapun juga. Lain denganku. Aku memiliki bukti perselingkuhan mu dengan pelayan murahan itu. Aku akan menyerang mu balik dengan senjataku Frank!" ancam Raisa dengan seringai sinis di wajah cantiknya.


"Persetan kau Raisa! Kau wanita berhati iblis! Apa mau mu sebenarnya?" kesal Franklin. Ia tak tau lagi bagaimana harus menghadapi kelicikan Raisa.


"Mau ku, ya membuatmu menderita Franklin. Kau akan menderita bersamaku. Sekarang rencana ku berubah setelah kau sembuh dari serangan racun ku. Kau juga telah membuatku mengandung benih mu. Maka, tunggu saja aksiku selanjutnya." Raisa memasang seringainya. Entah apalagi rencananya. Karena nampaknya ia sangat kesal saat tau dirinya hamil anak Franklin. Namun, seketika itu juga ia memiliki rencana luar biasa untuk menyiksa Franklin dan juga Elli.


______


𝘋𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘰𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘫𝘦𝘳𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘺𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.


Vynitta telah menemukan sebuah rumah kecil yang akan ia sewa. Baru saja Vyn meletakkan barang-barang bawaannya. Kembali, ia merasakan sakit pada perut bagian bawahnya.


"Kenapa denganku sih? Kalau memang lapar, sakitnya tidak akan seperti ini." Vyn meringis sambil terus mencengkeram perutnya.

__ADS_1


"Kak. Kau tidak terlihat baik-baik saja?"


Bersambung>>>


__ADS_2