
🌹🌹🌹🌹🌹
Hari-hari yang di lalui Frank amatlah berat. Apapun telah ia lakukan demi mengurangi gejala couvage sindrom yang ia derita. Namun, semuanya nihil. Tak ada satu obat pun yang dapat menghentikan mual muntah yang ia alami.
Berat tubuhnya menurun, wajahnya sayu. Meski kadar ketampanannya tak berkurang karena hal itu. Akan tetapi kinerjanya menjadi terganggu. Belum lagi para anak buah yang ikut bekerja bersamanya juga ikut pusing di buatnya.
Banyak hal yang berubah di kantor. Mulai dari dekorasi yang mana awalnya berwarna gelap maskulin. Kini ia hendak mengubahnya menjadi colourful dan ceria. Juga beberapa pewangi di kantor dan di rumah yang juga ikut kena di ganti. Karena Franklin menginginkan semuanya serba beraroma terapi menenangkan. Seperti aroma lavender, jeruk dan juga cemara.
Tak ada lagi parfum dan deodoran mahal kelas dunia. Semua justru berakhir di tempat sampah. Karena Franklin menginginkan semua karyawannya beraroma minyak telon macam dirinya. Bisa terbayang bagaimana sengsara dan menyebalkan kala bekerja bersamanya.
"Apakah ini yang kau rasakan Vyn. Lalu, siapa yang berada di sisimu? Menemanimu melewati semua ini?" gumam Franklin yang baru saja menghabiskan rujak mangga sepiring sendirian.
"Siapa yang akan menuruti segala keinginanmu?"
______
__ADS_1
"Xilondra ...!" sapa Vyn seraya meringis. Karena, lagi-lagi pria itu membawakannya keperluan selama hamil.
"Kamu tidak perlu selalu repot begini. Aku bisa memerintahkan salah satu pekerja untuk berbelanja," ucap Vyn tak enak hati. Pasalnya, Xilondra dan dirinya belumlah memiliki ikatan hubungan apapun. Meskipun kasak-kusuk ramai membicarakan kedekatan keduanya.
"Sekalian aku ke kota. Aku membelikan mu susu yang tidak ada di desa ini. Juga madu yang kau butuhkan, ada di dalam mobil. Satu kerat," ucap Xilondra selalu dengan senyum yang terpatri. Hingga wajah mempesonanya perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Vynnitta.
"Kamu sangat baik. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Xilo." Vyn berkata dengan seulas senyum penuh ketulusan. Perhatian Xilondra selama ini cukup membantunya merasa nyaman dan aman di tempat asing ini sendirian.
Manakala itu Vyn tidaklah sengaja berhenti di desa ini. Ketika bus yang ditumpanginya saat itu berhenti di pinggiran desa, yang sangat asri dan mempesona dengan keindahan perbukitannya. Karena merasa damai, akhirnya Vyn yang pada saat itu masih bingung akan singgah kemana. Akhirnya memutuskan untuk tinggal di desa ini.
"Kalian lah sumber kebahagiaan ku, Vynnitta. Kau dan anakmu," ucap Xilondra lembut menyentuh kalbu. Tangannya terulur bermaksud mengelus perut buncit Vyn.
Namun, Vynnitta sontak memundurkan tubuhnya. Ia tak ingin lebih dalam lagi menerima segala perhatian dari Xilondra.
"Xilo, maaf ... aku--"
__ADS_1
"Aku tidak peduli masa lalumu, Vynnitta. Mari bersama merangkai masa depan yang tenang dan bahagia. Bersamaku ...," ucap Xilondra dengan lirih penuh harapan penuh.
Mendengar kalimat penuh makna yang di lontarkan oleh Xilondra. Seketika hatinya menghangat. Vyn merasa berharga. Akan tetapi sekali lagi logikanya berpikir. Pria dihadapannya ini terlalu sempurna untuknya yang telah memiliki cacat dan cela. Ia tak ingin memanfaatkan setiap kebaikan Xilondra.
"Xilo, kau terlalu tinggi menempatkan ekspektasi kebahagiaanmu padaku. Kau terlalu sempurna dalam segi apapun. Kau sangatlah pantas memperoleh lebih daripada aku. Aku adalah barang rusak, sedangkan kau adalah barang yang masih terbungkus segel rapat. Aku terlalu tak tau diri jika menerima kebaikanmu sejauh itu," ungkap Vyn berusaha tegar dan tak menjatuhkan air matanya. Sungguh ia terharu akan setiap perlakuan tulus Xilondra.
"Kau terlalu banyak bicara, Nona. Apa kau tidak lapar?" goda Xilondra seraya mengangkat tangannya yang menenteng makanan bulat-bulat berkuah segar itu.
"Xilo, ini--" Vyn tidak dapat meneruskan kalimatnya karena mulutnya kini penuh dengan air liur.
Seketika kedua matanya pun ikut berbinar.
Aduh, bisa aja akang Xilondra ngerayu bumilnya.
Bersambung>>>
__ADS_1