
🌹🌹🌹🌹🌹
"Lalu, tanda-tanda apa Dok?" bingung Gill, bahkan sampai mengerutkan keningnya.
"Cepat berikan aku obat, Bran! Aku sudah tidak kuat lagi." Franklin menjatuhkan tubuh lemas nya ke atas sofa. Napasnya naik turun tak beraturan. Brandy tak tega melihat kawannya menderita seperti itu selama berminggu-minggu. Bahkan, berat badan Franklin menurun drastis.
KLEKK.
"Nyonya besar Bou!" sapa Brandy, Gill dan juga Axe. Ketiganya sontak berdiri dari duduk mereka ketika Oma Elli masuk ke dalam kamar Franklin.
"Cucuku! Kenapa sampai begini? Brandy, sebenarnya Franklin sakit apa? Apa perlu di rawat saja di rumah sakit?" cecar Elli khawatir.
"Tidak perlu Nyonya. Saya sudah mencari tau, bahwa yang di derita tuan muda bukanlah suatu penyakit," jelas Brandy tenang. Ada seulas senyum tipis yang tidaklah disadari oleh siapapun juga.
"Lalu cucuku kenapa? Katakan saja jangan berbelit-belit!" pekik Elli geram. Karena Brandy seakan menunda informasi yang akan di sampaikan olehnya.
"𝘊𝘰𝘶𝘷𝘢𝘨𝘦 𝘴𝘺𝘯𝘥𝘳𝘰𝘮𝘦/ 𝘚𝘺𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪𝘤 𝘱𝘳𝘦𝘨𝘯𝘢𝘯𝘤𝘺. Itulah yang sedang tuan muda alami," jelas Brandy dengan santai. Ia seakan tidak terlihat khawatir dengan apa yang dialami oleh sahabatnya.
𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢 ...
𝘙𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯.
𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢.
__ADS_1
𝘋𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪.
Batin Brandy menertawakan kesengsaraan yang di alami oleh sahabatnya itu.
"Apa itu? Jelaskan yang benar!" pekik Oma Elli.
"Apa yang tuan muda Franklin alami adalah, tanda-tanda dari kehamilan simpatik atau disebut juga dengan Sindrom Couvade. Semua itu terjadi ketika sang suami ikut merasakan mual muntah, bahkan tanda-tanda kehamilan lainnya. Faktor pemicunya biasanya karena stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung," tutur Brandy membuat semua yang berada dalam ruangan tersebut melongo heran.
"Siapa yang hamil? Nyonya Raisa kan--" Gill tidak meneruskan kata-katanya. Tatkala ia melihat tatapan mendelik dari Axe. Sontak Gill Paham apa yang terjadi.
𝘖𝘩,𝘝𝘺𝘯.
𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶 𝘖𝘮𝘢.
𝘖𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢.
Batin Elli semakin merasa bersalah, khawatir dan risau semua kumpul menjadi satu.
"Maksudmu, Vyn sedang hamil di luar sana?" Otak Franklin sontak membayangkan bagaimana penderitaan Vyn di luar sana. $Semua karena ulahku. Dia pasti sangat menderita sekarang. Aku saja merasa sangat sengsara dengan apa yang ku alami saat ini." Franklin menyandarkan bahunya seraya mengusap wajah kasar dengan kedua tangannya. Hingga akhirnya ia kembali merasakan sebuah rasa menyeruak yang menyerang ulu hatinya, sontak Franklin berlari ke kamar mandi.
Keringat telah membanjiri pelipisnya, napasnya terengah-engah macam habis lari marathon saja. Franklin mencengkeram pinggiran wastafel, dengan wajah menatap tajam ke arah pantulan dirinya pada cermin. Kemudian Franklin mendongakkan kepalanya dan lantas meneriakkan satu nama.
"Vinnitta!!" teriak Franklin frustrasi. Ia belum menemukan jejak Vynnitta. Akan tetapi kini mengetahui jika kemungkinan besar Vynnitta tengah hamil anaknya. Sang pewaris dari keturunan Marquise Boudouin.
__ADS_1
_______
"Ah, maaf Bu." Vyn terkesiap ketika Prita berkali-kali memanggil namanya.
"Kenapa melamun? Benarkan jika namamu adalah Vynnitta?" tanya Prita.
"Iya Bu. Nama saya Vynnitta Erriana." Entah kenapa sekejap tadi ia membayangkan wajah Franklin. Setelah mendengar pertanyaan pertama dari Prita.
"Lalu, bagaimana dengan pertanyaan saya tadi? Apa kau siap?" cecar Prita lagi.
"Maaf Bu. Saya, belum memikirkan hal lain. Selain fokus kepada kehamilan saya. Juga memanfaatkan ilmu yang saya punya serta tanaman herbal yang melimpah di desa ini. Bahkan saya ada rencana setelah melahirkan nanti. Akan membuat pusat pembuatan obat herbal dengan menggerakkan tenaga pemuda-pemudi desa ini," tutur Vynnitta panjang.
Prita hanya mengangguk mengerti seraya tersenyum kagum.
𝘗𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘟𝘪𝘭𝘰 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.
𝘒𝘢𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢.
𝘑𝘪𝘸𝘢 𝘴𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭𝘮𝘶 𝘢𝘮𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪.
𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪.
𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪.
__ADS_1
Bersambung>>>>