Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Pak Kades VS Franklin


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


PRANGG ...!


"Astaga! Bagaimana bisa aku menjatuhkannya." Elli kaget karena telah menjatuhkan gelas yang terletak di dekatnya tadi. Pikirannya sedang menerawang entah kemana, hingga ia tak sengaja menyenggol benda itu hingga terlempar dari meja ke lantai.


"Oma! Ya Tuhan! Anda tidak apa-apa kan?" Perawat Elli yang bernama Mira datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. "Apa yang Oma butuhkan. Biar nanti saya yang ambilkan," ucap Mira penuh kekhawatiran. Padahal dia baru tinggal sebentar saja karena tidak tahan ingin buang air kecil. Hanya saja, belakangan ini Elli sering sekali melamun. Mungkin wanita tua ini merasa kesepian serta merindukan kehadiran cucu kesayangannya.


"Apakah, Oma ingin menelepon tuan muda?" tanya Mira.

__ADS_1


"Kau benar Mira. Tiba-tiba perasaan ku tidak enak. Aku ingin bicara dengan cucuku. Sambungkan aku dengannya cepat!" pinta Elli dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.


Setelahnya Elli pun menelpon Franklin. Ternyata berita yang ia dapatkan sungguh mencengangkan. Kini cucunya itu tengah berada di jalan menuju hutan Jatiwarna.


"Ya Tuhan! Selamatkan lah Alessia, jika memang dia adalah keturunan dari keluarga Bou. Berikan, kesempatan pada keluarga ini agar memiliki penerus." Doa Elli tulus. Wanita tua itu memejamkan kedua matanya dengan telapak tangan yang memegang dadanya.


Tanpa Elli sadari sebelum Franklin menerima teleponnya. Sempat terjadi kegaduhan pasal di mobil mana Alessia dan Vynnitta akan ikut. Keributan itu bermula ketika dua pria tampan gagah ini memperebutkan posisi sebagai pria sejati.


"Siapa lagi, tentu saja kau!"tunjuk Franklin dengan tatapan matanya yang hendak menerkam.

__ADS_1


"Seharusnya anda berkaca tuan muda. Siapa yang tengah menjadi pahlawan kesiangan saat ini." Xilondra berkata dengan senyum miring meremehkan. Tamunya ini mulai terlihat menyebalkan. Apalagi setelah Xilondra mengetahui bahwa tebakannya selama ini adalah benar. Franklin adalah masa lalu Vynnitta. Pantas saja sikap keduanya sangat aneh. Satu hal yang tidak ia sangka-sangka adalah kenyataan bahwa Alessia itu darah daging dari Franklin.


"Jangan begitu sombong Pak kepala desa. Jangan karena kau yang selama ini dekat dengan Vynnitta, lalu merasa di atas angin sekarang. Wanita itu milikku, dan Alessia adalah anakku. Aku akan membawa mereka ke kota dan memberi kehidupan yang lebih baik setelah ini. Menyingkirkan. Sebaiknya jangan mencampuri urusan kamu!" usir Franklin pada Xilondra, yang mana hal itu membuat pria bertubuh tegap nan gagah itu tersulut emosi.


"Atas dasar apa kau mengusirku? Wahai tamu yang terhormat! Bagaimanapun, aku adalah aparat tertinggi desa ini, dan apapun yang terjadi terhadap warga desa Cenderawasih adalah bagian dari tanggung jawab ku. Kau yang sebaiknya harus mendengarkan setiap instruksi dari ku!" tunjuk Xilondra ke arah Franklin dengan jari telunjuk yang mengacung ke depan.


"Ck. Kepala desa." Franklin menoleh ke arah Gill yang berada tak jauh darinya. Memberi kode untuk melakukan sesuatu, namun asistennya itu menggeleng pelan. Ia tidak setuju jika saat ini para pria dewasa justru adu kekuatan. Bukankah seharusnya mereka memikirkan bagaimana cara membawa Alessia secepatnya.


"Tidak berguna!" geram Franklin sangat pelan, kearah Gill.

__ADS_1


"Ya, siapapun anda. Sayalah yang berwenang di desa ini. Terlebih dalam menangani setiap hal yang terjadi pada warga saya," ucap Xilondra penuh percaya diri. Terbersit sedikit keyakinan bahwa kesempatan untuknya masih tersisa. Sebab ia melihat jika hubungan keduanya teramat buruk. Xilondra tidak akan menyerah dengan kenyataan yang ia temukan malam ini.


.... Bersambung ...


__ADS_2