
🌹🌹🌹🌹🌹
Gill dan Brandy pun saling melempar tatapan tanpa satupun yang berani berkomentar. Meski dalam hati mereka terselip beberapa tanya. Anak siapa yang bersama Vynnitta itu. Kenapa matanya mirip dengan Franklin dan garis kontur wajahnya mirip dengan nyonya Elsa. Karena mereka akan melihat foto Elsa yang besar ketika pertama kali masuk ke dalam mansion.
Lagi-lagi, Franklin merasa ada yang bergejolak di dalam dadanya. Rindu dan rasa bersalah telah membuncah menjadi satu. Mendidih dalam dulang yang sama. Rasanya sungguh tidak enak ketika kau hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh.
"Masuklah Vyn, tamu ku sudah menunggumu," ajak Xilondra dengan lembut dan jangan lupa tatapan nya yang selalu hangat pada Vynnitta. Hingga siapapun yang melihatnya akan tau bagaimana perasaan pria itu pada sosok wanita cantik yang pandai meramu obat-obatan herbal itu.
'Tatapan apa itu? Apa hubungan pria itu dengan Vynnitta? Bahkan Alessia sangat dekat dengan keluarga ini.' Batin Franklin bingung dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ah, Tuan Franklin. Ternyata anda juga ada di sini!" seru Xilondra yang sebenarnya agak kaget kenapa tamunya itu bisa berdiri di muka pintu.
Mendengar nama yang tak asing sontak membuat dua kepala mendongak. Siapa lagi kalau bukan Vynnitta dan juga Alessia.
'Franklin. Dia ... dia sudah ada di sini!' Sontak Vynnitta memegangi dadanya yang berdegup cemas. Saking kagetnya ia sampai tak sadar jika sang putri, Alessia telah terlepas dari pegangannya.
__ADS_1
"Uncle tampan!" pekik Alessia seraya menubruk Franklin yang sudah memasang senyum sumringah dengan kedua tangan terbuka.
"Ale!" seru Vynnitta. Tapi terlambat, putri kecilnya itu telah masuk ke dalam gendongan Franklin.
Xilondra yang terkejut hanya dapat melempar tatapannya pada Vynnitta. Namun, Vyn mencoba mengalihkan pandangan agar tidak sejurus dengan Xilondra.
"Kak, Vyn. Itu siapa?" bisik Maria yang sudah tidak sanggup lagi menahan keinginantahuannya.
"Sepertinya, dia si hantu tampan itu," jawab Vyn sekenanya. Tapi, jawabannya itu justru membuat pertanyaan lain terlontar dari mulut cerewet Maria.
"Wauuuu, Kak. Ini sih tampan sekali. Kalau benar hantunya seperti ini Maria mau banget," ucap Maria masih dengan berbisik.
' Kenapa hari ini terjadi begitu cepat. Aku tidak sanggup kehilangan permataku. Tidak boleh. Aku telah menyerahkan mahkota berhargaku pada Franklin. Tapi, permata hatiku tidak akan kuberikan padanya. Aku harus mencari cara untuk mengelabui Franklin. Apapun caranya.' Batin Vynnitta, dengan sebuah rencana yang sudah tersusun di otaknya.
"Silahkan kalian duduk. Vynnitta dan Maria. Anda juga Tuan Franklin, Dokter Brandy dan asisten Gill. Silakan!" ujar Xilondra menunjuk kearah kursi yang telah di susun membentuk setengah lingkaran.
__ADS_1
"Alessia, bisa ikut Nek Prita dulu ya sayang," pinta Xilondra, yang mana langsung di patuhi oleh gadis kecil itu. Alessia pun berpamitan dan turun segera dari pangkuan Franklin.
"Anak yang penurut." Xilondra mengusap sekali pucuk kepala Alessia ketika melewatinya. Hingga ia mendapat hadiah sebuah senyum manis dari gadis kecil yang mampu membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati.
"Sepertinya Alessia sudah pernah bertemu sebelumnya dengan anda, Tuan Franklin?" tanya Xilondra berharap sebuah penjelasan.
"Itu ... kami--" Franklin tidak meneruskan kalimatnya ketika ia mendapat tatapan tajam dari Vynnitta.
" Baiklah, kalau begitu saya akan memperkenalkan bahwa di sebelah kanan saya ini adalah Nona Erriana atau lebih di kenal sebagai Nona Saga sang penyembuh," jelas Xilondra dengan tatapan bangga dan penuh kekaguman.
'Haiihh. Hentikan tatapan penuh cintamu itu, Xilo. ' Batin Vynnitta geram. Karena Xilondra makin kesini makin tak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Jadi, begini Nona Saga. Maksud saya mengundang anda kesini adalah. Karena Tuan Franklin menuntut penjelasan dan permintaan maafnya karena kejadian di bukit air terjun kekasih. Bisa Nona ceritakan bagaimana kronologinya? Karena saya baru mendengar dari versi Tuan Franklin yang kebetulan adalah tamu desa kita." Xilondra berkata dengan tegas. Di kala seperti ini, wibawanya mampu menyihir wanita manapun. Termasuk Vynnitta. Akan tetapi hanya menyisakan kekaguman dan rasa segan tak lebih.
"Saya, menyangka beliau adalah hantu penunggu bukit tersebut. Karenanya saya dan Maria memukulinya dengan ikatan daun kelor, lalu menendangnya hingga jatuh. Kemudian kami berdua lari tanpa menoleh lagi," tutur Vynnitta tanpa sedikit pun menatap ke arah Franklin.
__ADS_1
"Tunjukkan wajah penyesalan mu, Nona Saga." Franklin menyelipkan seringainya tanpa satu orang pun menyadari.
Bersambung>>>>