
🌹🌹🌹🌹🌹
" Kok bukti dari Maria sih?" tunjuk Maria seraya mengarahkan jari telunjuk ke hidungnya sendiri.
"Iya kamu. Buktikan, apakah kamu sama seperti para perawan desa ini. Apakah kamu juga ngefans sama aku?" ujar Brandy, seraya memasang senyum simpulnya dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku.
'Kenapa anda menggemaskan begini sih, tuan. Masih nanya apa aku gak ngefans. Ini lho, dadaku aja hampir meledak.' Batin Maria.
"Um, bukti apa tuh. Memangnya kurang ya, pernyataan dari Maria?" tanya Maria lagi penasaran apa maksudmu dari pertanyaan Brandy.
"Buktikan kalau kamu ngefans dan suka sama aku." Brandy dengan kepercayaan diri tingkat tingginya berkelakar.
"Caranya?" tanya Maria polos. Sebenarnya mereka berdua ini sama sekali belum pernah berpacaran, jadi wajar kalau rada susah nyambungnya. Wkwkwkwk.
__ADS_1
"Ya, gimana kek. Kamu kejar-kejar aku gitu," ucap Brandy asal.
"Kejar gimana? Biasanya yang dikejar itu pencuri sedangkan Tuan gak mencuri apapun dari aku," sahut Maria tambah heran.
"Lho, emangnya kamu gak ngerasa ya kalau aku udah mencuri sesuatu dari kamu?"pancing Brandy lagi berharap kali ini Maria nyambung akan maksudnya.
Ternyata Maria justru memeriksa kantung celana juga tas selempang kecil di bahunya. "Tidak ada yang hilang semua masih ada. Lagi pula, apa yang mau anda ambil dari saya?" Maria masih dengan ketidak- mengertiannya yang hakiki. Membuat Gill kelojotan di dalam mobil.
'Woohh, silakan kau tertawa sampai puas Gill. Lihat saja nanti pembalasanku.' Batin Brandy geram. Karena Gill memarkir mobilnya di belakang Maria sehingga ia dapat melihat aksi asisten konyol itu, sementara Maria tidak.
"Coba periksa lebih dalam lagi. Apakah hatimu masih berada disana?" tanya Brandy dengan senyum tanpa bermaksud menggoda. Namun karena senyumnya sangatlah menawan, maka Maria pun merasa tubuhnya serasa tak bertulang.
Maria berupaya tak menampakkan perasaan yang sesungguhnya. Bagaimana jika pria di hadapannya ini hanya berniat menggodanya saja. Secara Brandy adalah pria kota metropolitan, juga seorang dokter yang terkenal. Susah pasti dia sering menggoda wanita dengan cara ini.
__ADS_1
"Hati Maria itu sudah di ikat pakai rantai kapal. Jadi tidak akan semudah itu di curi orang," ucap Maria dengan senyum manisnya. Seolah santai menanggapi ucapan dari Brandy padahal hatinya sudah seperti popcorn yang meletup di atas wajan panas.
"Hemm, kalau begitu ... boleh aku minta kunci untuk membuka rantainya tidak?" tanya Brandy lagi, belum usai usahanya menggoda Maria.
"Boleh saja, tapi sayangnya Maria lupa menyimpan kuncinya dimana. Hahahha ...!" Maria tertawa dengan entengnya padahal hatinya, bersorak kegirangan. Demi apa pria secantik, eh maksudnya setampan Brandy meminta kunci untuk membuka gembok di hatinya. Bohong saja kalau tidak merasa senang. Hanya saja, Maria tetap waspada dan berpura-pura tak terbius rayuan maut pria kota.
Brandy seketika merasa waktu berhenti di tempatnya berdiri. Melihat Maria tertawa begitu lepas, membuat hatinya kembang-kempis tak karuan. 'Haih, yang merayu siapa yang tergoda siapa? Kamu sangat menggemaskan Maria. Kaulah sebenarnya sang pencuri itu.' Batin Brandy. Ia pun ikut tertawa juga. Biarlah aksi menggombalnya gagal total yang penting dirinya dapat melihat sisi ceria dan menggemaskan dari Maria.
"Kami ingin kerumah nona Saga. Ikut yuk!" ucap Brandy dengan berani menggamit lengan Maria. Sontak, sepasang mata bulat gadis muda dengan wajah cantik naturalnya itu membola. Ia terus menerus melihat ke arah tangannya yang di tuntun oleh Brandy.
'Gyaaa ... demi apakah! Bagaimana kalau para perawan desa high qualified melihat kejadian seperti ini?' tanya Maria dalam hati.
...~Bersambung~...
__ADS_1