Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Terkapar Di Rumah Sakit


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Sebaiknya Oma ikut Franklin ke rumah sakit. Nanti akan aku jelaskan sambil jalan." Franklin pun berlalu menahan debaran khawatir di dadanya. Ia merisaukan keadaan Raisa, terutama janin yang berada di dalam kandungan istrinya itu.


Sesampainya di rumah sakit.


"Bagaimana bisa kau baru mengatakannya pada Oma. Seandainya Oma tau, aku sudah mengurung istrimu itu agar tak keluar rumah. Kau tau Frank, dia mengandung calon penerus keluarga Bou. Bisa-bisa kau bersikap lunak padanya!" sarkas Elli tajam. Wanita tua itu benar-benar kecewa terhadap cucu satu-satunya itu.


Untuk menangani perusahaan memang kemampuan Franklin tidak dapat di ragukan lagi. Akan tetapi jika sudah menyangkut rumah tangga dan juga Raisa. Franklin teramat lemot alias loading lama.


Sudah tau istri nakalnya hamil keturunan calon pewaris yang sangat di harapkan. Karena itulah Kakek Bou menikahkannya dengan Raisa. Karena kakek Bou tak ingin harta warisannya jatuh ke tangan orang lain. Setidaknya Bou sudah menganggap Matthew keluarga sendiri. Mereka telah saling mengenal lama. Karena Matthew dan sang istri yang bernama Jenna, adalah sahabat dari Elsa dan Mark, yaitu kedua orang tua dari Franklin. Mereka satu universitas juga mengelola bisnis yang sama bertahun-tahun.


Franklin dan Raisa terlahir di minggu yang sama. Karenanya demi mempererat persahabatan, keduanya telah di jodohkan sejak kecil.


"Oma, katakan pada Frank. Kenapa Raisa mengatakan jika Opa Bou sengaja ingin mendonorkan hati ibu Jenna untuk mami Elsa?" tanya Frank, penuh selidik. Setidaknya ia harus tau cerita dari versi Oma Elli.

__ADS_1


"Dari mana kau dapat cerita seperti itu Frank?" Oma Elli terkesiap dengan pertanyaan sang cucu. Wajah keriputnya seketika memucat.


"Raisa yang menceritakannya padaku. Dari sanalah awal dendam kesumatnya membara hingga menimbulkan api kebencian di dalam hatinya yang lembut," jelas Franklin, seraya menelisik kebenaran dari sang oma.


"Apa! Jadi, itu penyebab kegilaan Raisa selama ini!" kaget Elli, terlihat ia mencengkeram tongkatnya semakin erat.


" Karena itu, ceritakan lah padaku yang sebenarnya Oma," ucap Franklin memohon.


Sementara Elli, malah menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu yang terletak pada koridor rumah sakit. Perawat yang menemaninya lantas ikut duduk juga di sampingnya.


"Frank ...," Elli menguatkan hatinya, karena ia akan kembali menguak kisah yang terjadi sepuluh tahun yang lalu itu.


_____


"Euughh ...," rintih Raisa, sepertinya ia baru saja tersadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Awwh!" Raisa mencoba bergerak, tapi ia tak kuasa. Seluruh badannya sakit. Apalagi kepalanya. Ia pun meraba dan merasakan jika kepalanya dibebat perban.


"Akh ... kenapa sakit sekali ...!" Raisa merintih kencang sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya. Ia merasa seperti tengah di tusuk-tusuk dengan paku payung.


"Hei! Sebaiknya Kakak jangan berisik! Masih lebih baik kau dari pada aku!" Citra berteriak dari samping brangkar Raisa. Ternyata mereka hanya terpisah oleh gorden rempel berwarna hijau tersebut.


"Si–siapa kau? Apa yang terjadi?" tanya Raisa terbata dan kaget. Ia pun sontak menengok ke sebelah brangkarnya.


"Entahlah. Aku hanya ingat kita tengah balapan malam itu. Aku ingin menyingkirkan mu dari lintasan. Akan tetapi, aku salah perhitungan. Aku pun ikut celaka karena kendaraan kita berdua bertabrakan dan terguling di atas sirkuit." Citra bertutur dengan suara yang lemah dan mata yang masih terpejam.


Ia sendiri mengalami patah tulang pada satu pergelangan kakinya. Karena posisinya yang terjepit kala itu. Bahkan dokter harus mengamputasi beberapa jari kakinya yang hancur.


"Ba–balapan? Ki–kita?" Raisa memutar bola matanya bingung. Kemudian ia kembali meringis dan semakin erat mencengkeram kepalanya.


"Raisa, apa kau--"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2