Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Melamar Daddy


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Kau lucu dan menggemaskan. Siapa namamu?" tanya Franklin gemas. Bagaimana bisa anak seusia ini melamarnya di pertemuan pertama mereka.


"Aku Alessia, Uncle." Gadis kecil itu menjawab cepat. Raut wajah sedihnya telah menghilang entah kemana.


"Nama yang sangat cantik," puji Franklin seraya mencolek gemas hidung mancung Alessia. Membuat gadis kecil itu tersenyum malu-malu. Sungguh membuat siapapun yang melihatnya akan sangat gemas.


𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘪𝘯𝘪?


𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?


𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘳𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢.


Batin Franklin bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba hangat.


"Kita ke pusat informasi sekarang ya. Agar Alessia cepat ketemu sama Mommy." Frank pun meraih tangan mungil Alessia dan menuntunnya. Akan tetapi Alessia tak bergeming, ia justru menarik tangan Franklin. Memaksa pria itu kembali mensejajarkan diri dengannya.

__ADS_1


"Kenapa, sayang? Alessia mau di gendong?" tanya Franklin lembut seraya mengelus pipi kemerahan gadis kecil yang jelita bak boneka itu. Membuat Elli menyusut genangan yang tiba-tiba muncul di sudut pelupuk matanya. Betapa tidak, belum pernah ia melihat cucunya itu berkomunikasi dengan anak kecil sebelumnya. Elli membayangkan seandainya Franklin mempunyai seorang putri, akankah seperti ini rasanya.


Alessia sontak menggeleng menjawab pertanyaan dari uncle tampan di hadapannya. " Apa Uncle sudah memiliki anak perempuan?" tanya Alessia yang lagi-lagi membuat orang-orang di hadapannya tersenyum gemas. Anak sekecil ini, tapi pertanyaan yang dilontarkan macam orang dewasa saja.


"Belum sayang. Bahkan, Uncle belum menikah." Franklin menjawab seadanya dengan jujur. Entah kenapa, ia tak segan mengumbar kehidupan pribadinya pada gadis kecil dihadapannya.


"Kalau begitu, kebetulan sekali. Mommy juga belum menikah. Bagaimana jika Uncle menikahi Mommy agar aku punya Daddy dan Uncle memiliki anak perempuan," ucapnya seraya berekspresi sangat imut. Bahkan Alessia meletakkan jari telunjuk di masing-masing pipinya dengan sedikit memiringkan wajahnya.


Sontak Elli, Maria dan pengawal tertawa gemas melihat kelakuan Alessia. Begitu pun dengan Franklin. Entah, sejak kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini. Sangat lama sepertinya, dan sore ini adalah perdana bagi Franklin untuk kembali tertawa sekencang itu.


"Uncle benar. Bahkan kalian belum pernah bertemu." Alessia pun kembali menyambar tangan Franklin, membuat pria gagah itu sontak berdiri. Kali ini, Alessia yang menuntunnya.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke pusat informasi. Sepanjang perjalanan Alessia sekejap pun tidak berhenti untuk berbicara. Bibir mungilnya terus bercerita apa saja. Mulai dari hobinya, kesukaannya pada seni menggambar dan melukis. Juga beberapa macam makanan favoritnya.


"Uncle, Mommy Ale sangat cantik dan hebat. Bahkan Mommy dapat menyembuhkan orang sakit dengan memberinya minum jamu dari akar-akaran pohon. Uncle pasti akan menyukai Mommy-ku," ujar Alessia. Kalimatnya barusan membuat Franklin mengerutkan keningnya.


𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘳𝘰𝘮𝘰𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘮𝘮𝘺-𝘯𝘺𝘢.

__ADS_1


𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘪𝘯𝘪?


𝘈𝘪𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴.


Batin Franklin. seraya menggeleng pelan.


_________


"Apa masih jauh pusat informasinya Pak?" tanya Vynnitta dengan segala kerisauan yang bersarang di hatinya. Dadanya terus berdegup kencang membayangkan hal-hal yang ia takuti terjadi pada gadis kecilnya. Segala kemungkinan terus berputar di otak Vynnitta.


" Jadi, siapa nama anak Nona, usia dan juga jenis atau model pakaian serta warna terakhir yang ia gunakan sebelum berpisah dengan anda.


"Nama putri saya adalah Alessia. Usianya baru empat tahun, pakaiannya--"


"Mommy!!"


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2