
🌹🌹🌹🌹🌹
"Seingat ku, mami Elsa dan Ibu Jenna saling menyayangi. Karena itu kala mendengar cerita Raisa, Frank tidak percaya sama sekali. Entah siapa yang telah membuat ricuh keadaan diantara kami. Apa maksudnya?" Franklin mengusap wajahnya kasar.
"Elsa yang Jenna menderita penyakit berat dengan diagnosa berbeda. Namun, dokter menganalisa bahwa Elsa dapat kesempatan hidup lebih lama jika mendapat donor jantung yang cocok. Pada saat itulah, Jenna--" Oma Elli menjeda sebentar ceritanya. Kejadian kala itu sempat mengguncang kewarasannya sebagai orangtua.
Setelah menghela dan menghirup napas dalam, Elli kembali melanjutkan ceritanya kembali. "Jenna, yang mengetahui diagnosa akan penyakitnya, dan tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi. maka pada saat itu dia memutuskan untuk memeriksakan keadaan jantungnya secara diam-diam. Di sanalah dia pada akhirnya menemukan jawaban bahwa jantungnya cocok bila bermaksud akan didonorkan untuk Elsa."
"Tentu saja papi dan mami mu menolak keputusan Jenna dengan keras. Mereka bahkan telah berusaha mencari donor tulang sum-sum untuk Jenna dan juga donor jantung untuk Elsa. Siapa yang menyangka Elsa yang telah lebih dulu pergi menemui ajalnya. Hingga ketika saat itu datang di samping tubuh Jenna yang sudah membiru dan kaku, Matthew menemukan secarik kertas berisi surat pengajuan donor jantung. Mark yang merasa tidak berguna karena tak juga kunjung menemukan pendonor untuk keduanya, merasa bersalah yang teramat sangat hingga kesehatannya menurun drastis. Bahkan mereka satu persatu menyusul Jenna dan Elsa, lalu meninggalkan Oma bersamamu." Elli akhirnya luruh ke dalam dekapan Franklin, kala memory nya di paksa mengingat kembali saat-saat menyedihkan itu.
"Maafkan Franklin Oma. Telah membuat luka Oma kembali basah. Franklin berjanji, akan menemukan Vyn dan menghadirkannya kembali ke sini. Karena bagaimanapun juga, Franklin harus memastikan juga bertanggung jawab padanya," ucap Franklin lirih, ia mengusap pipi sang oma yang basah kemudian menggenggam kedua tangan keriputnya.
"Berjanjilah Frank. Bawa Vyn kembali!" tegas Oma Elli dengan sorotan tajam dari kelopak mata tua-nya.
"Harus, Oma. Karena Frank takut jika--"
"Jika apa?" selidik Elli penasaran.
"Frank takut jika Vyn, hamil ...." Franklin meneruskan kalimatnya seraya menunduk takut.
BUGH!
__ADS_1
"Ah, Oma! Kenapa memukulku begitu keras? Bagaimana kalau tangan Oma patah?" sindir Frank yang mana bahunya sangatlah sakit mendapat pukulan begitu keras dari Elli.
"Jadi sekarang kau berani menyumpahi ku, hah!"
"Dasar cucu bodoh! Kau keterlaluan Frankliin!"
"Temukan Vyn, atau Oma sendiri yang akan menghabisimu! Biar keturunan Bou rata dengan tanah sekalian!" pekik Elli emosi. Ia benar-benar marah saat mengetahui bahwa Franklin telah merenggut mahkota milik Vinnitta.
𝘖𝘮𝘢𝘢 ...
𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘳𝘦𝘯𝘨𝘴𝘦𝘬𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘺𝘢𝘩.
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘢𝘯 ... 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘤𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨!
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘶.
Franklin meringis membayangkan hal yang menjadi dugaannya selama ini.
_______
"Saya sudah menyebar anak buah di penjuru kota, yang mungkin akan di datangi oleh nona Vynnitta." Gill melapor pada tuannya, Franklin.
__ADS_1
"Sebar lebih luas lagi. Perhatikan segala kemungkinan yang ada. Dia pasti telah mengganti identitasnya!" titah Franklin yang telah bekerja keras selama beberapa bulan demi mencari keberadaan Vynnitta.
"Jhonny! Kenapa kau mengganti parfummu!" seru Frank pada ahli IT di perusahaannya itu.
"Tidak tuan. Saya masih dengan parfum yang anda belikan kemarin," jelas Jhonny.
"Aku tidak suka. Kalian jangan ad yang pakai parfum atau pun deodorant!" Franklin segera mengoleskan minyak telon di antara hidungnya. Bahkan di seluruh lehernya.
"Lalu, kami pakai apa Tuan?" tanya Gill lesu.
Yah, yang benar saja pikirnya. Bisa diikuti lalat hijau mereka jika hari sudah siang.
"Pakai minyak telon seperti ini. Besok akan ku berikan untuk seluruh karyawan di sini," ucap Franklin santai sambil menghirup dalam aroma khas bayi dari minyak telon dengan botol berwarna hijau tersebut.
𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘧𝘶𝘤𝘬𝘬!
𝘉𝘰𝘴 𝘯𝘺𝘶𝘴𝘢𝘩𝘪𝘯!
𝘐𝘺𝘶𝘶𝘩𝘩𝘩 ...
𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘭𝘰𝘯 ... 𝘩𝘪𝘬𝘴
__ADS_1
Bersambung>>>