
🌹🌹🌹🌹🌹
Franklin mengumpat karena dahinya sukses mencium dasboard mobil. Gill yang kaget dengan status Vynnitta telah menginjak pedal rem secara mendadak.
Begitupun dengan Brandy, keningnya pun membentur belakang kursi mobil. Hingga memukul kepala Gill dengan kepalannya.
"Dasar asisten begajulan! Pecat saja dia Frank! Dia telah merusak hidung mancung ku!" kesal Brandy seraya mengusap hidungnya yang juga mencium belakang kursi.
"Maaf Tuan. Jangan pecat saya dong. Cicilan rumah dan mobil saya nanti gimana? Anak pertama saya juga sebentar lagi akan launching. Saya juga sudah janji mau mengajak istri saya holiday ke Dubai akhir taun nanti. Tolong jangan dengarkan dokter Brandy, Tuan!" ucap Gill, mengiba. Seraya menghadap ke arah bos nya itu. Dimana terlihat Franklin yang masih mengusap dahinya yang sedikit memerah.
"Kali ini kau ku maafkan. Cepat jalan!" perintah Franklin ketus. Ia masih kesal dengan kejadian di jamuan makan siang tadi ditambah kejadian barusan membuatnya ingin makan orang sebenarnya.
__ADS_1
"Bantu aku mendekati Alessia. Aku harus mencari tau siapa anak itu sebenarnya," ucap Franklin pada Gill.
" Baik Tuan. Saya akan membantu anda untuk menyelidiki tentang gadis kecil yang bak boneka itu. Menggemaskan. Apakah nanti anak saya akan secantik itu ya?" gumam Gill di akhir kalimat nya.
"Memang kau sudah tau jika jenis kelamin anakmu itu perempuan?" tanya Brandy dari kursi belakang. Padahal pria berambut silver panjang itu tengah sibuk memainkan ponselnya sambil senyum-senyum, tapi masih saja sibuk menguping pembicaraan di depan.
"Tentu saja, istri saya sudah dua kali USG dan hasilnya selalu sama. Saya sangat senang, karena akan ada dua bidadari cantik yang menyambut saya ketika pulang kerja. Semua lelah pasti akan hilang. Ketika senyum mereka merekah dan terlimpah hanya untuk saya," ucap Gill seraya membayangkan momen impiannya itu.
"Kau membuatku iri Gill!" celetuk Franklin. Gill dan Brandy pun langsung saling bertukar pandangan lewat kaca spion di atas kepala Gill. Lantaran Franklin mengatakannya dengan sorot mata dan juga wajah yang sendu.
"Hei, kenapa kata-kata mu seperti orang benar saja. Perasaan tadi menu makanan kita sama. Kenapa kau mendadak waras?" ledek Brandy di susul dengan kekehan gelinya.
__ADS_1
"Apakah yang kau katakan itu benar Gill? Akankah harapanku menjadi kenyataan? Jika, terbukti benar Alessia adalah putriku. Maukah Vynnitta kembali padaku?" tanya Franklin risau. Ia pun melempar pandangannya keluar jendela.
"Tentu saja, Tuan. Menurut pengamatan saya, nyonya tidak akan melepaskan putrinya, ia pasti akan mengikuti kemanapun gadis kecilnya itu pergi. Nona Alessia dapat anda gunakan sebagai senjata atau alat pemersatu. Agar nyonya Vynnitta dapat kembali pada anda. Apalagi gadis kecil itu nampaknya sudah sangat menyukai anda," ucap Gill dengan keyakinan penuh.
"Aku tidak ingin memaksakan kehendak ku pada Vynnitta. Aku ingin ia mencintai ku seperti dulu. Tapi bagaimana? Dia sudah sangat kecewa padaku," lirih Franklin seraya mengusap wajahnya kasar.
"Ya tentu saja kecewa berat. Setelah kau di buat sehat, justru kembali dengan istri bejat," sarkas Brandy di belakang. Kedua mata pria itu tetap fokus pada gadget di tangannya.
"Pak Dokter, jangan kejam begitu. Anda kan tau, Tuan Franklin memiliki alasan tersendiri," ucap Gill membela tuannya. Ia cukup tau bagaimana bimbang nya Franklin kala itu. Bahkan anak buah suruhannya, kembali dengan tangan kosong dan tubuh luka-luka. Karena kendaraan mereka hampir masuk ke pinggir jurang.
"Aku bersyukur, Raisa tidak memerintahkan orang untuk menghabisi Vynnitta kala itu," ucap Franklin yang baru saja bernapas lega karena telah menemukan pelayan berharganya. Tapi kini ia kembali diselimuti kabut sesak, kala mendapati bahwa Vynnitta memang memiliki hubungan spesial dengan kepala desa tampan nan gagah, Xilondra. Bahkan, nampaknya pria itu begitu menyayangi Vynnitta dan juga putrinya, Alessia.
__ADS_1
"Bawa kabur saja. Beres!" celetuk Brandy.
Bersambung>>>>