
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kakak, kenapa matanya bengkak gitu?" tanya Maria heran.
"Benarkah?" Vyn yang kaget, buru-buru mengeluarkan kaca kecil di dalam tas nya.
𝘏𝘢𝘪𝘩𝘩 ...
𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘰𝘮𝘱𝘳𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪.
Vyn hanya nyengir menanggapi pertanyaan kepo Maria. Karena tidak mungkin ia menjawab jika sejak siang hingga malam ia terus menangisi seseorang. Ia tak ingin kebodohannya akan nampak di mata orang lain.
𝘏𝘶𝘶𝘩𝘩 ... 𝘒𝘢𝘬 𝘝𝘺𝘯.
𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪𝘮𝘶.
Maria, berdoa dengan tulus dari dalam hatinya. Ia berharap Vynnitta menjalani kehamilannya dengan bahagia. Karena baginya dan juga warga di sekitar. Vynnitta adalah wanita yang baik. Ramuan obat-obatan herbalnya dapat menolong warga sekitar.
__ADS_1
"Kak, ini aku menemukan temu ireng!" seru Maria sambil mengangkat tanaman jenis umbi akar tersebut.
"Wah, ini tanaman yang sangat langka di kota. Aku menemukan obat bagi masalah lambung kebanyakan warga sekitar sini!" pekik Vyn girang. Ia yang kini sudah ada di sisi Maria, kembali mencari tanaman obat langka tersebut.
"Ini ada lagi Kak!" Maria kembali berteriak girang ketika ia menemukan kembali tanaman itu di sela-sela semak.
"Wah, kau sangat jeli Maria!" Vyn segera menghampiri Maria kemudian mengambil tanaman yang sudah di cabut dan mengumpulkannya di keranjang.
"Aku akan menanamnya nanti."
"Aku bantuin ya Kak!"
"Permisi, apa aku mengganggu kalian?" tanya seorang pria gagah dengan wajah kharismatik nya. Ia terlihat menenteng bungkusan cukup besar. Ia pun meletakkan helm di atas jok motor berbodi besar itu.
Mendengar suara yang di kenal dan begitu familiar di indera pendengarannya akhir-akhir ini. Vyn sontak menoleh ke belakang. Sehingga, ia segera mendapat sambutan senyum lembut dari orang nomer satu di desa itu.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢, 𝘭𝘢𝘨𝘪-𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘮𝘶𝘮.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢?
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮.
__ADS_1
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯.
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘢𝘱.
Vynnitta, meringis dalam batinnya. Ingin membalas senyum pun ia ragu. Tak membalas pun ia merasa sungkan serta kurang sopan.
Sementara itu Citra hanya menundukkan kepalanya tanda menghormati pria yang memiliki jabatan penting di desa Cenderawasih itu.
"Tadi saya ke rumah, tapi tak ada sahutan. Karenanya, saya mencari mu di kebun. Ini." Xilondra mengangkat kantung merah yang dibawanya. Mau tak mau Vynnitta menerimanya dengan tak enak hati. Ia teramat malu dan merasa tak pantas mendapat perhatian begitu besar dari Xilondra.
"Terimakasih, Pak. Seharusnya tidak perlu repot begini," ucap Vynnitta sedikit menundukkan wajahnya. Entah kenapa, Vyn tak kuasa menatap mata dari pria dihadapannya ini.
"Loh, kok? Pak lagi ...," protes Xilondra membuat Vynnitta menunduk semakin dalam.
"Maaf. Saya tidak mau menjadi warga yang lancang terhadap pemimpinnya," kilah Vyn. Ia benar-benar tak nyaman ketika berhadapan dengan kepala desa Cenderawasih yang good looking ini. Apalagi ketika ia tau, bahwa Xilondra telah menolak beberapa perawan di desa itu. Vyn semakin merasa rendah diri.
"Kau bukan sekedar warga ku. Tapi--"
"Maaf, Pak. Tolong jangan meninggikan saya. Samakan saja saya dengan warga yang lainnya. Apa yang saya lakukan saat ini, hanya sebatas yang saya paham dengan niat memanfaatkan tumbuhan herbal yang tumbuh di desa ini. Saya, hanya berusaha membuat ilmu yang saya punya dapat bermanfaat untuk diri saya dan juga sekitar." Vyn memotong kalimat yang hendak terlontar dari bibir tipis Xilondra. Membuat pria itu menarik senyumnya, hingga level ketampanannya bertambah tiga kali lipat.
Bersambung
__ADS_1