Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Hanya Sekedar Alasan.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Uhukk!"


Franklin seketika tersedak ludahnya sendiri. Ketika Brandy mengungkapkan keinginan yang hanya berani ia simpan dalam hati. Karenanya iapun sontak memberikan tatapan menghunus ke arah dokter berambut silver itu.


Brandy hanya tersenyum membanggakan dirinya. Seakan ia baru saja membantu Franklin keluar dari kesulitannya. Padahal, Franklin sedang menahan gemas padanya. Memang itulah tujuan Franklin, akan tetapi ia ingin Vynnitta yang menawarkannya.


"Kenapa saya harus mengajak Tuan han--, em–maksud saya, Tuan Franklin makan malam?" tanya Vynnitta.


"Karena perbuatan anda, Tuan Franklin mengalami masalah pada lambungnya. Beliau jadi tidak napsu makan sejak kemarin. Bagiamana jika Tuan saya sakit? Apakah Nona ingin mempertanggung jawabkan itu semua? Bukankah anda sang penyembuh, sekalian saja obati Tuan Franklin," ujar Gill turut menyumbang bantuan agar rencana Franklin segera terlaksana.


Karena jika tidak, tuannya itu akan berputar-putar mengutarakan maksudnya. Bisa menghabiskan puluhan bab untuk sekedar menyelesaikan konflik ini saja. Lalu, kapan terungkapnya bahwa Alessia itu anak siapa. Begitulah sekiranya yang ada di pikiran asistennya Franklin itu.

__ADS_1


Mendapat tikungan lagi dari asistennya, Franklin hanya bisa berdehem pelan demi mencairkan kegugupannya. Sebenarnya ia sedang berlagak ketus dengan Vynnitta. Sementara dalam hati yang sebenarnya, telah sudah kacau balau tak karuan rasanya. Antara rindu, bahagia dan gemas tak tertahankan. Sampai-sampai, Franklin takut hal ini mampu merubah karakter pribadinya. Karena jauh dari lubuk terdalamnya, ia ingin menubruk Vynnitta dan membekapnya dalam dekapan. Lalu menangis dan tertawa secara bersamaan.


"Baiklah, jika hanya itu permintaan anda. Silakan datang ke klinik saya untuk pemeriksaan. Saya juga akan mengundang makan malam untuk semua yang hadir di sini. Anggap saja ini permintaan maaf saya karena telah membuat semuanya salah tafsir," ucap Vynnitta.


'Kenapa semuanya juga di undang? Dia kan hanya perlu bertanggungjawab padaku saja. Ah, dia pasti sengaja karena tidak ingin bertemu denganku seorang. Baiklah, tidak apa Vyn. Ini baru permulaan dan setidaknya aku dapat melihat tempat tinggal mu selama ini.


'Aku tidak akan membuat rencana mu berjalan mulus, Franklin. Setelah melihat Alessia, kau baru mengejar ku sampai kesini. Dulu, kemana saja? Kau bahkan tidak tau betapa menderitanya aku ketika hamil. Bagus saja warga desa ini sangat ramah dan baik hati, sehingga mereka tidaklah mengucilkan ku yang hamil tanpa adanya suami.' Batin Vynnitta dengan segala spekulasinya sendiri.


"Baiklah, saya rasa masalahnya selesai sampai di sini ya. Kedua belah pihak telah menemukan cara untuk berdamai dan menyetujui cara pertanggungjawabannya," ucap Xilondra lega. Meskipun dalam hatinya tersirat keanehan dari apa yang ia rekam melalui visualnya sejak tadi. Bagaimana reaksi antara Vyn dan juga Franklin.


______


"Nyonya, Prita. Saya ingin mengajak Ale pulang," ucap Vyn meminta ijin pada ibu sang kepala desa. Sementara sang kakek telah empat tahun tergeletak di atas tempat tidur. Kakek tidak ingat apapun lagi, beliau juga sudah tak mampu berbicara dan melihat. Xilondra dan Prita hanya menunggu keajaiban atau ajal yang akan menjemput sang Kakek ke alam keabadian. Vyn telah melakukan berbagai cara untuk membantu menyembuhkan penyakitnya. Akan tetapi, semesta belum memberikan jalan kesembuhan. Entah kenapa, tanda akar di tengkuknya tak pernah mampu melacak apa penyakit kakek. Seakan-akan, Kakek memiliki kekuatan tersendiri untuk membentengi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pertemuannya sudah selesai ya?" tanya Prita seraya mendekati Vyn yang tengah duduk memandangi kakek.


"Jangan menyalahi dirimu, memang belum takdirnya kakek sembuh. Lagipula, Ibu dan Xilo sudah ikhlas. Apapun ketentuan dari pemilik semesta," ucap Prita lembut kepada Vynnitta. Wanita paruh baya ini mengelus lembut rambut Vynnitta yang panjang sepunggung.


'Seandainya kau menerima lamaran Xilondra sejak dulu. Tentu Ibu akan sangat tenang. Tak perlu mengemis waktu jika ingin menemui Alessia. Ibu telah begitu bergantung pada kalian berdua, apalagi Xilo. Sebagian kebahagian kami ada pada kalian.' Batin Prita, dengan keinginan terdalamnya.


"Vynnitta, tinggallah di sini, bersama Ibu ...," pinta Prita lirih. Membuat Vynnitta seketika menengok ke arahnya.


"Nyonya, Vyn minta maaf ya. Tapi, jawabanku masih sama," ucap Vynnitta lembut seraya tersenyum tipis sambil mengusap punggung tangan Prita.


"Mommy!" Sontak panggilan dari Alessia membuyarkan keadaan canggung tersebut.


"Mari kita pulang sayang, pamit dulu ya sama Nenek,"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2