Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Gadis atau Janda?


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Hah? Maksudnya?" Prita bingung dengan pernyataan dari anak keduanya barusan. Bukannya Prita tak paham dengan artian dari kata bukan gadis. Namun, Xilondra ambigu hingga membuatnya mengerutkan dahi.


"Xilo! Kalau bicara sampai tuntas kenapa, jangan bikin Ibu penasaran!" pekik Prita gemas karena telah di tinggal mandi oleh putra semata wayangnya itu. Karena kakak pertama dan adik bungsu Xilondra adalah perempuan. Keduanya telah menikah dan ikut dengan suami mereka. Hanya tinggal Xilondra yang setiap di rayu oleh Prita agar mau menikah.


𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘟𝘪𝘭𝘰?


𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢?


𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩.


𝘟𝘪𝘭𝘰, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢.


Prita menarik kedua sudut bibir bibirnya hingga menciptakan sebuah lengkungan indah.


"Jadi, kamu lagi jatuh cinta sama janda kembang. Iya?" selidik Prita sambil mengeringkan rambut putranya itu.

__ADS_1


"Xilo belum tau Bu. Dia itu janda atau bukan,"


"Eh, gimana si maksud kamu?" Prita semakin bingung saja dengan penjelasan dari Xilondra.


"Beri Xilo waktu untuk menyelidikinya. Dia sangat tertutup. Namun, data yang di peroleh ketua warga di sana. Dia di tinggal suaminya tanpa kabar berita hingga kini. Ia sampai di desa ini karena ingin menenangkan diri. Bahkan, dirinya baru tau jika hamil setelah sampai di desa kita, Bu." Xilondra menoleh sebentar, mencari tau apa tanggapan dari wanita yang telah membawanya dalam kandungan selama sembilan bulan.


Prita menghela napasnya dalam sebelum ia mengeluarkan pendapatnya. Ia adalah seorang Ibu yang selalu asik dan menyenangkan untuk di jadikan tempat curhat dari anak-anaknya.


"Nak. Ibu tak pernah melarang anak-anak Ibu untuk menyukai siapapun. Seandainya kami menawarkan calon pendamping, bukan berarti keputusan berhenti di kami. Kalian tetap memiliki hak untuk memilih." Prita menjeda sebentar ucapannya. Seraya menatap dalam menembus iris pekatsang putra.


" Siapapun pilihanmu, selidiki dulu dia baik-baik. Jangan sampai masih ada ikatan dari masa lalu yang akan menjadi batu sandungan di kemudian hari. Gadis atau janda, kaya atau miskin, jelata atau terpandang sekalipun itu tak masalah. Cinta dan kebahagiaan tidak terukur dan diukur dari status sosial semata. Hanya itu pesan Ibu untuk mu, Xilondra Bagestapati," ucap Prita dengan seulas senyum yang mampu memberi semangat dan pencerahan bagi Xilondra, untuk melangkah ke tahap selanjutnya.


"Jadi, kau sudah berpikir sampai sejauh itu? Ibu jadi penasaran seperti apa dia," kata Prita.


"Spesial, Bu. Unik, tidak caper dan murahan. Rela terpanggang matahari demi mencari tanaman herbal di pinggiran hutan. Padahal, ia sedang hamil muda. Namun, itu semua tidak menghalanginya dalam bereksperimen." Xilondra bercerita dengan menerawang ke depan. Sesekali ia terlihat mengembangkan senyumnya.


𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘯𝘢𝘬.

__ADS_1


𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪-𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.


𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘯𝘺𝘢.


𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘬𝘪𝘳 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢.


𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘤𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴.


Batin Prita yang hendak bangun dari duduknya. Kemudian ia beralih menuju lemari pakaian, membuka salah satu lacinya kemudian memberikan kepada Xilo sebuah kotak beludru warna merah.


"Berikan padanya nanti, jika dia mau menerimamu dan setuju untuk menikah denganmu. Ini, cincin turun temurun. Ini termasuk perhiasan warisan tiga generasi." Prita menyerahkan kotak itu pada sang putra, yang kemudian di sambut dengan suka-cita dan senyum sumringah oleh Xilondra.


"Vyn, aku harap kau lah generasi ke-empat." Xilondra menatap cincin indah dengan ukiran batu berlian kecil diatasnya.


______


"Ternyata, Mami Jenna yang menawarkan sendiri jantungnya pada Mami Elsa?!"

__ADS_1


"Ya, dan Elsa menolaknya hingga maut menjemputnya dalam kesakitan luar biasa." Oma Elli melanjutkan ceritanya sambil menengadahkan kepalanya. Demi menahan buliran air mata yang menetes semakin banyak membasahi pipi keriputnya.


Bersambung>>>


__ADS_2