Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Kekuatan Asing.


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dugh!


Dugh!


Dugh!


Vyn, berkali-kali menendang serta mendorong pintu itu dengan kaki dan bahunya. Tapi, tetap saja tidak berhasil.


"Ini pasti, ada yang mengerjai ku. Mana ponselku kehabisan pulsa. Bodoh kau, Vyn! Bisa-bisanya kau lupa isi kuota." Vyn merutuki dirinya sendiri. Tubuhnya sakit karena menghajar pintu sekuat tenaga.


"Bagaimanapun, aku harus keluar dari kamar mandi. Perasaanku, mengatakan ada sesuatu yang terjadi dengan Franklin." Gumam, Vyn seraya mengedarkan pandangannya.


Sssshhhh ....


"Apa itu!" Vyn, membulatkan matanya kala melihat hewan panjang berwarna hijau dengan corak di badannya. Hewan melata dengan tubuh bersisik itu, terus mendekati Vyn.


"Ternyata benar, ada yang telah merencanakan ini padaku." Gumam Vyn, diam tak bergerak adalah solusi terbaik ketika mendapati hewan ini ada di dekat kita. Karena sensor panas pada lidahnya hanya melacak gerakan.


Sebuah tanda akar merambat di leher Vyn bersinar, seketika satu tangannya bergerak untuk menyentuh ular tersebut, ah tidak maksudnya mencekalnya.


Ketika hewan melata tersebut berada di tangannya, Vyn merasa energi lain masuk kedalam tubuhnya. Kemudian, ia meletakkan ular yang sudah berbisa itu. Vyn menyentuh tanda di lehernya.


"Apakah diriku, baru saja menyerap racun dari ular itu. Apakah ini cara yang sama ketika aku menyerap racun yang ada di dalam tubuh Franklin?" Gumam Vyn, ia mencerna dan menelaah sendiri apa yang tengah terjadi padanya setahun belakangan ini.


Vyn, kembali mengedarkan pandangannya. Ia tenang karena ular itu hanya melingkar di sudut ruangan yang sempit itu.


"Bagaimana ini, ada jendela kecil dan juga tinggi. Siapa yang telah merencanakan ini padaku, kenapa kejadian hari ini bertubi-tubi. Tidak mungkin semuanya terjadi karena kebetulan." Vyn , masih bergumam sendiri. Hatinya semakin risau, hingga tanda di lehernya mengeluarkan sinar, hingga menjalarkan panas ke lengannya.


" Ada apa denganku? Kekuatan apa ini? Apa sekarang aku harus mendorong pintunya? tadi saja, tidak berguna sama sekali. Karena, pintunya bukan dari aluminium. Melainkan, terbuat dari stainless.


Kekuatan itu semakin menekan pangkal lengannya. Vyn, pun mengikuti nalurinya. Ia menarik kedua tangannya kebelakang, lalu mendorong ke depan dengan kuat.


๐˜ฝ๐™ง๐™–๐™ ๐™ !

__ADS_1


๐™‹๐™ก๐™–๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ!


"WHAT!!" Vyn, melongo sambil menatap kedua telapak tangannya. Karena, pintu itu bukan hanya terbuka, melainkan lepas dari engselnya.


"Iโ€“ini gak salah kan! Kenapa aku bisa sekuat ini!" Vyn terperangah sesaat. Kemudian ia segera ingat keadaan Franklin.


"Bodo amat ah, yang penting aku selamat dan bebas." Vyn, pun keluar dari toilet rumah sakit dengan berlari. Hingga, ia menabrak bahu seorang tukang bersih-bersih.


"Maaf, gak sengaja. Maaf, aku buru-buru." Setelah membantu petugas itu bangun, Vyn pun kembali berlari. Ia ingin segera sampai di kamar perawatan Franklin.


"Baโ€“bagaimana dia bisa bebas? Aku sudah mengunci pintu itu dari luar." Kemudian, petugas pembersih itu pun masuk ke toilet. Seketika, kedua bola matanya hampir menggelinding keluar saking kagetnya.


"Siโ€“siapa gadis itu sebenarnya ...?" Sang petugas tersebut, meluruhkan tubuhnya yang lemas ke atas lantai kamar mandi, sembari menatap pintu yang tergeletak dengan bekas penyok di tengah.


_________


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Seluruh tubuhnya sangatlah dingin." Vyn kini menatap raga gagah itu terdiam kaku. Raut wajah Franklin sesekali mengernyit pertanda pria itu menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Lakukan seperti yang tadi, cepatlah! Dia sudah sangat kesakitan!" ujar Brandy. Pria itu nampak khawatir atas apa yang terjadi dengan Franklin.


"Aโ€“aku, harus menciumnya lagi?" ragu Vyn, kedua pipinya kesemutan.


"Baiklah! Kau, tidak perlu berteriak begitu!" bentak Vynnitta. Dirinya jadi emosi, seenaknya saja Brandy menyuruhnya mencium, di kira semudah itu.


Di bentak Vyn, Brandy menciut.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข... ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Vyn ...," suara Franklin lirih.


" Tuan, aku disini." Vyn,semakin mendekati kepala brangkar. Bahkan, mata mereka kini saling mengunci.


"Keluar!" titah Franklin pada Brandy.


"Heh, aโ€“aku?" tunjuk Brandy bingung.

__ADS_1


"Sekarang." Ucap Franklin dingin, ia bahkan melirik Brandy dengan cahaya mata yang membuat Dokter itu pucat seketika.


"Kunci, pintunya." Ucapnya lagi.


"Bโ€“baik." Brandy pun keluar dengan tergesa.


"Matanya, kenapa matanya seakan mengisyaratkan sesuatu, ah ini membingungkan." Gumam Brandy, ia segera menutup pintu serta menguncinya.


"Tuan, apa yang ... Emmphhh!" Vyn tidak meneruskan kata-katanya. Karena, bibirnya telah dibungkam oleh ciuman dari Franklin. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Tautan keduanya semakin memanas, hingga bulir keringat sedikit demi sedikit, keluar dari pori-pori tubuh Franklin.


"Ssshh ...," desis Vyn, ketika dadanya bertabrakan dengan dada bidang Franklin. Pria itu kini, mendekapnya semakin erat. Seperti tidak ingin melepaskannya sedetik pun.


" Vyn, aku ingin lebih dari ini, tubuhku membutuhkanmu," bisik Franklin lirih. Matanya menatap sendu kepada gadis di atas tubuhnya ini.


"Apa yang kau maksud, Tuan!" Kedua mata Vyn, sontak membola, ketika tangan Franklin memberi remasan ke dadanya.


"A-aku, hanya minta ini. Tubuhmu membuatmu lebih baik, Vyn. Aku mohon ...," pinta Franklin dengan wajah memelas yang membuat Vynnitta tak tega. Ia mencintai pria itu. Sejak oma memintanya menjadi pelayan pribadi Franklin. Meski pun, pria itu sering ketus serta bersikap dingin padanya. Entah apa, yang telah membuat Vyn jatuh cinta pada si polar bear, Franklin Marquise.


"Aโ€“aku malu, Tuan. Belum pernah, ada lelaki yang melihat tubuhku." Vyn bicara sembari menunduk.


"Kau harus membantuku, Vynnitta. Harus!" Franklin membalik posisi mereka berdua. Hingga kini gadis yang polos itu, telah berada di bawah kungkungannya.


"Tuan, aku akan membantumu. Aku hanya ingin kau terbebas dari racun itu. Kau tidak boleh tiada, tidak boleh." Vyn, memejamkan matanya. Membiarkan, Franklin melakukan apa yang ia inginkan dan butuhkan.


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜๐˜บ๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ต๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ง๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ง๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜™๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ..


Franklin terus menyesap benda di hadapannya, menempelkan wajahnya pada tubuh yang setengah polos itu. Hingga, sesuatu menjadi sesak di bawah sana.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ... ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข! ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ... ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ... ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Franklin semakin menenggelamkan dirinya diantara kedua tonjolan benda padat tersebut. Bagaikan seorang bayi yang kehausan, dirinya menyesap kuat dan rakus kedua puncak yang berwarna pink itu.


๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ,๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด ๐˜™๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.


Vyn, tak terasa meluruhkan air matanya. Hatinya sangat sakit, ketika dirinya hanya dianggap sebagai obat. Sebagai penawar racun. Tak ada tempat kosong untuk cintanya yang tulus. Majikannya ini sudah cinta buta. Serta mengabaikan perasaannya yang benar-benar murni.

__ADS_1


Keduanya sudah berkeringat, apalagi Franklin. Vyn, hendak mendorong raga tegap itu dari atas tubuhnya. Ia tahu, racun di dalam tubuh Franklin sudah menurun drastis. Kini, hanya tersisa sekitar lima belas persen. Tapi, kenapa pria itu masih asik bermain di atas pusarnya?


Bersambung>>>>


__ADS_2