
๐น๐น๐น๐น
Dugh!
Dugh!
Dugh!
Vyn, berkali-kali menendang serta mendorong pintu itu dengan kaki dan bahunya. Tapi, tetap saja tidak berhasil.
"Ini pasti, ada yang mengerjai ku. Mana ponselku kehabisan pulsa. Bodoh kau, Vyn! Bisa-bisanya kau lupa isi kuota." Vyn merutuki dirinya sendiri. Tubuhnya sakit karena menghajar pintu sekuat tenaga.
"Bagaimanapun, aku harus keluar dari kamar mandi. Perasaanku, mengatakan ada sesuatu yang terjadi dengan Franklin." Gumam, Vyn seraya mengedarkan pandangannya.
Sssshhhh ....
"Apa itu!" Vyn, membulatkan matanya kala melihat hewan panjang berwarna hijau dengan corak di badannya. Hewan melata dengan tubuh bersisik itu, terus mendekati Vyn.
"Ternyata benar, ada yang telah merencanakan ini padaku." Gumam Vyn, diam tak bergerak adalah solusi terbaik ketika mendapati hewan ini ada di dekat kita. Karena sensor panas pada lidahnya hanya melacak gerakan.
Sebuah tanda akar merambat di leher Vyn bersinar, seketika satu tangannya bergerak untuk menyentuh ular tersebut, ah tidak maksudnya mencekalnya.
Ketika hewan melata tersebut berada di tangannya, Vyn merasa energi lain masuk kedalam tubuhnya. Kemudian, ia meletakkan ular yang sudah berbisa itu. Vyn menyentuh tanda di lehernya.
"Apakah diriku, baru saja menyerap racun dari ular itu. Apakah ini cara yang sama ketika aku menyerap racun yang ada di dalam tubuh Franklin?" Gumam Vyn, ia mencerna dan menelaah sendiri apa yang tengah terjadi padanya setahun belakangan ini.
Vyn, kembali mengedarkan pandangannya. Ia tenang karena ular itu hanya melingkar di sudut ruangan yang sempit itu.
"Bagaimana ini, ada jendela kecil dan juga tinggi. Siapa yang telah merencanakan ini padaku, kenapa kejadian hari ini bertubi-tubi. Tidak mungkin semuanya terjadi karena kebetulan." Vyn , masih bergumam sendiri. Hatinya semakin risau, hingga tanda di lehernya mengeluarkan sinar, hingga menjalarkan panas ke lengannya.
" Ada apa denganku? Kekuatan apa ini? Apa sekarang aku harus mendorong pintunya? tadi saja, tidak berguna sama sekali. Karena, pintunya bukan dari aluminium. Melainkan, terbuat dari stainless.
Kekuatan itu semakin menekan pangkal lengannya. Vyn, pun mengikuti nalurinya. Ia menarik kedua tangannya kebelakang, lalu mendorong ke depan dengan kuat.
๐ฝ๐ง๐๐ ๐ !
__ADS_1
๐๐ก๐๐๐ฃ๐๐!
"WHAT!!" Vyn, melongo sambil menatap kedua telapak tangannya. Karena, pintu itu bukan hanya terbuka, melainkan lepas dari engselnya.
"Iโini gak salah kan! Kenapa aku bisa sekuat ini!" Vyn terperangah sesaat. Kemudian ia segera ingat keadaan Franklin.
"Bodo amat ah, yang penting aku selamat dan bebas." Vyn, pun keluar dari toilet rumah sakit dengan berlari. Hingga, ia menabrak bahu seorang tukang bersih-bersih.
"Maaf, gak sengaja. Maaf, aku buru-buru." Setelah membantu petugas itu bangun, Vyn pun kembali berlari. Ia ingin segera sampai di kamar perawatan Franklin.
"Baโbagaimana dia bisa bebas? Aku sudah mengunci pintu itu dari luar." Kemudian, petugas pembersih itu pun masuk ke toilet. Seketika, kedua bola matanya hampir menggelinding keluar saking kagetnya.
"Siโsiapa gadis itu sebenarnya ...?" Sang petugas tersebut, meluruhkan tubuhnya yang lemas ke atas lantai kamar mandi, sembari menatap pintu yang tergeletak dengan bekas penyok di tengah.
_________
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Seluruh tubuhnya sangatlah dingin." Vyn kini menatap raga gagah itu terdiam kaku. Raut wajah Franklin sesekali mengernyit pertanda pria itu menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Lakukan seperti yang tadi, cepatlah! Dia sudah sangat kesakitan!" ujar Brandy. Pria itu nampak khawatir atas apa yang terjadi dengan Franklin.
"Aโaku, harus menciumnya lagi?" ragu Vyn, kedua pipinya kesemutan.
"Baiklah! Kau, tidak perlu berteriak begitu!" bentak Vynnitta. Dirinya jadi emosi, seenaknya saja Brandy menyuruhnya mencium, di kira semudah itu.
Di bentak Vyn, Brandy menciut.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข... ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ณ๐ข๐ค๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ญ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ณ๐ข๐ค๐ถ๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข.
"Vyn ...," suara Franklin lirih.
" Tuan, aku disini." Vyn,semakin mendekati kepala brangkar. Bahkan, mata mereka kini saling mengunci.
"Keluar!" titah Franklin pada Brandy.
"Heh, aโaku?" tunjuk Brandy bingung.
__ADS_1
"Sekarang." Ucap Franklin dingin, ia bahkan melirik Brandy dengan cahaya mata yang membuat Dokter itu pucat seketika.
"Kunci, pintunya." Ucapnya lagi.
"Bโbaik." Brandy pun keluar dengan tergesa.
"Matanya, kenapa matanya seakan mengisyaratkan sesuatu, ah ini membingungkan." Gumam Brandy, ia segera menutup pintu serta menguncinya.
"Tuan, apa yang ... Emmphhh!" Vyn tidak meneruskan kata-katanya. Karena, bibirnya telah dibungkam oleh ciuman dari Franklin. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Tautan keduanya semakin memanas, hingga bulir keringat sedikit demi sedikit, keluar dari pori-pori tubuh Franklin.
"Ssshh ...," desis Vyn, ketika dadanya bertabrakan dengan dada bidang Franklin. Pria itu kini, mendekapnya semakin erat. Seperti tidak ingin melepaskannya sedetik pun.
" Vyn, aku ingin lebih dari ini, tubuhku membutuhkanmu," bisik Franklin lirih. Matanya menatap sendu kepada gadis di atas tubuhnya ini.
"Apa yang kau maksud, Tuan!" Kedua mata Vyn, sontak membola, ketika tangan Franklin memberi remasan ke dadanya.
"A-aku, hanya minta ini. Tubuhmu membuatmu lebih baik, Vyn. Aku mohon ...," pinta Franklin dengan wajah memelas yang membuat Vynnitta tak tega. Ia mencintai pria itu. Sejak oma memintanya menjadi pelayan pribadi Franklin. Meski pun, pria itu sering ketus serta bersikap dingin padanya. Entah apa, yang telah membuat Vyn jatuh cinta pada si polar bear, Franklin Marquise.
"Aโaku malu, Tuan. Belum pernah, ada lelaki yang melihat tubuhku." Vyn bicara sembari menunduk.
"Kau harus membantuku, Vynnitta. Harus!" Franklin membalik posisi mereka berdua. Hingga kini gadis yang polos itu, telah berada di bawah kungkungannya.
"Tuan, aku akan membantumu. Aku hanya ingin kau terbebas dari racun itu. Kau tidak boleh tiada, tidak boleh." Vyn, memejamkan matanya. Membiarkan, Franklin melakukan apa yang ia inginkan dan butuhkan.
๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐๐บ๐ฏ๐ฏ๐ช๐ต๐ต๐ข. ๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ง๐ข๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ง๐ข๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ, ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฑ๐ถ๐ด ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ข๐ช๐ด๐ข. ๐๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ..
Franklin terus menyesap benda di hadapannya, menempelkan wajahnya pada tubuh yang setengah polos itu. Hingga, sesuatu menjadi sesak di bawah sana.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ... ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข! ๐๐ข๐ฑ๐ช ... ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฌ ... ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Franklin semakin menenggelamkan dirinya diantara kedua tonjolan benda padat tersebut. Bagaikan seorang bayi yang kehausan, dirinya menyesap kuat dan rakus kedua puncak yang berwarna pink itu.
๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ถ ๐ฆ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ,๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐๐ข๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ช๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ฎ๐ถ.
Vyn, tak terasa meluruhkan air matanya. Hatinya sangat sakit, ketika dirinya hanya dianggap sebagai obat. Sebagai penawar racun. Tak ada tempat kosong untuk cintanya yang tulus. Majikannya ini sudah cinta buta. Serta mengabaikan perasaannya yang benar-benar murni.
__ADS_1
Keduanya sudah berkeringat, apalagi Franklin. Vyn, hendak mendorong raga tegap itu dari atas tubuhnya. Ia tahu, racun di dalam tubuh Franklin sudah menurun drastis. Kini, hanya tersisa sekitar lima belas persen. Tapi, kenapa pria itu masih asik bermain di atas pusarnya?
Bersambung>>>>