Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Bertemu Franklin


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Ini foto anak saya. Tolong temukan dia. Alessia adalah satu-satunya harta saya," ucap Vynnitta lirih memohon pada dua orang security tersebut.


"Tenanglah, Nona. Kita akan mencarinya di sekitar sini. Pasti anak sekecil itu tidak akan pergi jauh. Mungkin tadi dia keluar dari restoran karena tertarik melihat sesuatu. Anda tenang saja kawan saya ini akan menyampaikan ke bagian Pusat Informasi. Agar mereka segera melaporkan berita bahwa ada anak yang terpisah dari ibunya," tutur pria berseragam penjaga keamanan tersebut tenang.


"Baiklah, Pak. Terimakasih. Saya sangat khawatir," ucap Vynnitta seraya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Sekelebat bayangan buruk menari di dalam pikirannya.


Sementara itu ...


" Oma, Bagaimana kalau kita bawa saja Alessia ke pusat informasi. Agar mereka segera mengabarkan bahwa gadis ini terpisah dari ibunya," saran dari Mira yang kemudian mendapat anggukan Setuju dari Elli.


"Ale tidak mau bertemu dengan ibu, Ale mau Mommy Er!" teriak Alessia, dengan gaya merajuk khas anak kecil seumurannya. Seketika hilanglah gaya sok dewasanya, karena naluri alami jiwa balitanya keluar kala ia ketakutan. Alessia belum pernah berpisah sedikitpun dari Vynnitta. Karenanya, tadi Vynnitta menawarkan padanya apakah mau ikut ke kamar mandi. Biasanya Alessia akan ikut kemanapun Vynnitta pergi.


"Baiklah, sayang. Oma dan Tante Mira akan membantu Ale mencari Mommy. Ale jangan nangis lagi ya," bujuk Elli, entah mengapa ia merasa begitu dekat dengan gadis kecil ini.

__ADS_1


𝘈𝘭𝘦𝘴𝘴𝘪𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘬𝘶.


𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘌𝘭𝘴𝘢.


𝘔𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘮𝘶.


Batin Elli, terus memperhatikan Alessia sambil mengelus punggung gadis kecil itu yang kini tenggelam dalam dekapannya.


"Ayo, Tante Mira gendong ya. Kita ke pusat informasi," ajak Mira. Namun, Alessia menolaknya.


" Ale sudah besar, bisa jalan sendiri. Tidak boleh manja dan merepotkan orang lain," tutur Alessia kemudian kembali menangis sesenggukan.


"Mommy Er, yang mengatakannya. Kalau Ale harus menjadi gadis yang selalu dapat menghormati orang lain. Huwaaa ...!" Ale kembali menangis ketika mengingat Vynnitta.


Ketika mereka bertiga menuju gedung pusat informasi. Pengawal yang menjaga Oma Elli datang menghampiri bersamaan dengan Franklin dan juga Gill.

__ADS_1


"Oma, apa yang terjadi?" tanya Franklin. Ia secara tengah kebetulan tengah mengadakan pertemuan antar pengusaha di Ball room Mall tersebut. Akan tetapi ajudan kirimannya untuk sang Oma menyusuli dirinya. Karena pria tersebut tak berhasil ketika menghubunginya lewat telepon seluler.


"Frank, gadis kecil ini tersesat. Karena ia mengikuti Oma. Begitu katanya tadi," jelas Elli yang masih tidak begitu mengerti akan alasan Alessia bisa menunggunya di depan toko tadi.


"Kenapa dia mengikuti Oma? Apa Oma mengenalnya?" tanya Franklin heran campur aneh.


"Tidak, Oma belum pernah bertemu dengannya. Tapi, Frank. Matanya sangat mirip denganmu," ujar Elli membuat Franklin sontak mendekat untuk memperhatikan Alessia lebih jelas.


"Halo, princess. Jangan menangis ya, nanti cantiknya hilang," bujuk Franklin seraya menyibak poni Ale yang menutupi wajah imutnya itu.


"Ada Uncle di sini, maka semua akan beres. Janji deh!" ujar Franklin seraya menunjukkan jari kelingkingnya. Ia hanya meniru dari apa yang sepintas pernah ia lihat di dalam drama asia.


"Kenapa Uncle begitu tampan? Mau tidak jadi Daddy-nya Ale?" tanya Alessia yang tangisnya tiba-tiba berhenti saat melihat wajah tampan Franklin di hadapannya.


Dan, pertanyaan Ale pun seketika membuat Franklin tersedak udara.

__ADS_1


"Uhuukk ...!"


Bersambung>>>


__ADS_2