
🌹🌹🌹🌹🌹
"Dia ... itu--" Vynnitta tak dapat meneruskan kata-katanya. Mana mungkin ia bilang kalau pria yang belakangan ini kembali hadir dalam tidurnya adalah ayah dari anaknya. Bagaimanapun Alessia tidak boleh tau, pikirnya.
"--Bukan siapa-siapa kok sayang. Ale tidak perlu terlalu khawatir lagi ya. Mommy, mungkin terlalu banyak membaca novel jadi terbawa sampai tidur," tutur Vyn, berharap sang putri tidak bertanya lagi. Akan tetapi pikirannya salah.
"Ale pikir, Mommy memimpikan Daddy," ucap gadis kecil itu dengan raut wajah kecewa.
Seketika, Vynnitta terbatuk-batuk. Sebab, tiba-tiba alat vital pernapasannya berhenti memompa udara.
__ADS_1
"Em ... Alessia tidak perlu banyak berpikir dan mengira-ngira. Belum waktunya Ale memikirkan urusan orang dewasa. Jadilah anak yang sehat dan ceria. Selalu bahagia menikmati masa kecilmu. Cukup berdua dengan Mommy, sekarang dan selamanya. Sebab, Mommy janji akan selalu ada untuk Ale serta memberikan senyum kebahagiaan untuk Ale tersayang," ucap Vyn, berharap kali ini putrinya diam dan tak bertanya lagi.
Alessia menyembunyikan raut kecewanya. Ia tak mau lagi melihat wajah bersedih dari sang Mommy, acap kali dirinya membicarakan pasal Daddy. Seperti apa yang pernah di katakan oleh Aunty Maria, bahwa setiap orang dewasa memiliki alasan tersendiri dalam menutupi setiap kisah atau masalah mereka.
"Ale akan sangat sabar menunggu sampai nanti usia aku cukup besar. Agar Mommy mau menceritakan semua masalah Mommy sama Ale. Ale akan banyak makan mulai hari ini. Agar cepat besar dan bisa mengurangi beban pikiran Mommy. Kata Nek Prita masalah itu akan ringan jika di bagi," ucap Alessia polos sambil mengusap wajah Vyn. Membuat hatinya sangat trenyuh, ketika mendengar betapa anak sekecil ini begitu mengerti akan posisinya.
"Terimakasih atas segala pengertian Ale terhadap Mommy. Kehadiran Ale dalam hidup Mommy adalah sebuah anugerah yang sangat indah. Mommy tidak pernah sedikitpun menyesali kehadiran Ale sejak awal berada dalam rahim Mommy. Ketahuilah, kebahagiaan Ale adalah hal paling utama bagi Mommy," tutur Vyn penuh haru.
"Maafkan, Mommy ... jika saat ini belum bisa mengabulkan harapan Ale. Semoga, Ale mendapatkan masa yang tepat untuk mengetahui semuanya. Satu hal yang harus Ale tau, bahwa Mommy melakukan ini semua saat ini hanyalah demi Ale. Bukan demi Mommy," jelas Vyn. Putrinya memang memiliki pikiran selayaknya orang dewasa. Akan tetapi, belum layak ia bebankan dengan masalah yang sebenarnya. Vynnitta ingin putri nya itu menikmati masa kecil layak anak lain seusianya.
__ADS_1
" Mommy kan tidak salah. Kenapa meminta maaf? Bukankah Ale yang selalu merepotkan Mommy. Selalu membuat Mommy sedih dengan permintaan Ale selama ini?" lirih gadis kecil itu seraya terisak. Bahkan Alessia mengusap sudut matanya yang sudah banjir air mata.
"Sayang ... kenapa menangis? Kau justru membuat Mommy sedih jika begini." Vyn mencoba menahan isak-nya. Meski ia mulai merasa kesusahan menelan ludahnya sendiri.
Vyn mengusap kedua pipi Alessia menggunakan ibu jarinya. Mengecup kening putri kecilnya itu demi menentramkan perasaan Alessia yang memang sangat sensitif. Sebab itu, Vyn sangat takut jika putri nya itu sering bertemu dengan Franklin. Kentara, dari kedekatan keduanya padahal baru beberapa kali bertemu.
"Sudah yuk, kita masuk. Nanti, Mommy buatkan pancake strawberry kesukaan Ale. Sepertinya, buah segitiga merah di kebun belakang kita sudah pas jika di panen," bujuk Ale mengalihkan suasana. Karena dadanya sudah mulai ikutan merasa sesak.
"Uncle ganteng juga suka pancake strawberry, sama seperti Ale," ucap gadis kecil itu sembari menyusut hidungnya.
__ADS_1
Bersambung>>>