Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Putri Kecil Vynnitta


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


"Semua barang bagus itu memang mahal sayang. Tapi, itu semua sesuai dengan mutu dan juga kualitasnya. Nanti, hasil gambar dan lukisan kamu akan semakin indah," jelas Vynnitta. Karena putrinya sempat keberatan dengan harganya.


"Tapi, Mommy. Mendapatkan uang dengan jumlah segitu banyak bukan hal yang mudah, iya kan?" tukas Alessia. Membuat para Pelayan toko tersebut semakin melongo dibuatnya.


"Anak pintar Mommy." Vyn berjongkok kemudian menciumi kedua pipi chubby putrinya itu.


"Mommy, tolong jangan menciumi aku ditempat umum!" protes Alessia dengan bibir mengerucut dan kedua pipi yang menggembung.


Vyn pun terkekeh kecil seraya berkata. " Maaf ya sayang. Anak pintar, Mommy hanya gemas," ucap Vynnitta dengan senyum bahagianya. Ia tak menyangka dan tak pernah membayangkan. Bahwa suatu hari akan memiliki seorang putri yang sangat pintar dan cantik. Pemikiran Alessia yang lebih dewasa dari usianya membuat Vynnitta semakin merasa beruntung lagi cemas.


Apalagi ketika ia merasa sedikit sifat Franklin melekat pada putrinya. Terkadang, Vynnitta akan kesusahan mencari alasan jika Alessia mulai menanyakan siapa daddy-nya.


"Adik kecil. Nanti besar pasti akan secantik Mommy-nya. Juga akan sukses dan berhasil, karena kau sangat pintar," puji dari pelayan toko tersebut.


"Aku tidak mungkin secantik dan sepintar Mommy. Mungkin hanya kedua setelah Mommy," balas Alessia seraya merangkul lengan Vynnitta erat.


"Tidak sayang, kau harus setingkat di atas Mommy. Kau harus lebih segalanya dari Mommy karena Daddy-mu adalah pria yang hebat. Kau harus seperti dia." Entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Vynnitta. Ia yang menyesal seketika segera menutup mulutnya.


"Memang siapa Daddy-nya Alessia?" Sontak Vynnitta tergagap ketika pertanyaan yang seperti boom waktu itu meledak dari mulut putrinya.

__ADS_1


"Sa–sayang. Beri Mommy waktu untuk menjelaskan padamu nanti ya. Mommy janji di ulang tahunmu yang ke sepuluh, Alessia akan mengetahui siapa Daddy mu yang sebenarnya,"


" Kenapa harus menunggu sampai aku berusia sepuluh tahun? Itu kan masih lama. Kenapa tidak sekarang saja Mommy." Seperti biasa, Alessia akan merajuk jika sudah mengenai cerita tentang daddy-nya. Seketika Vynnitta mengurut pelipisnya, ia harus segera mencari cara untuk kembali mengalihkan pikiran dari putri kecilnya itu.


"Mommy akan jelaskan alasannya setelah kita makan saja, bagaimana. Karena, jika perut lapar itu maka otak akan kesulitan untuk mencari informasi," dalih Vynnitta.


"Baiklah. Ayo kita makan." Alessia pun berhenti bertanya. Ia kembali dengan senyumnya semula. Hingga keduanya keluar dari toko tersebut dan beralih ke sebuah restoran.


______


"Sudah lama rasanya, tidak masuk ketempat seperti ini." Elli bergumam sambil terus melangkah seiring ketukan tongkatnya di atas marmer.


"Mira, jangan kau panggil aku seperti itu. Panggil saja aku Oma seperti yang lainnya!" titah Elli. Karena sejak satu tahun kepergian Vynnitta, dirinya memerintahkan seluruh pekerja di Mansion untuk tidak lagi memanggilnya sebagai nyonya besar.


"Aku, merasa tidak pantas Nyonya. Tidak seperti pekerja lain yang sudah belasan tahun mengabdi pada anda," tolak Mira, sungkan.


"Kau sudah membuktikan baktimu Mira. Kau layak mendapatkan tempat yang sama," ujar Elli seraya menepuk punggung tangan Mira yang setia menuntunnya.


"Baiklah, Oma." Keduanya pun tersenyum seraya melangkahkan kaki memasuki lift, diikuti oleh seorang bodyguard kiriman dari Franklin yang setia berada di belakang keduanya.


________

__ADS_1


"Sayang, Mommy ingin ke toilet. Apa kau mau ikut, atau menunggu di sini?" tanya Vyn yang merasa ingin buang air kecil.


"Alessia di sini saja ya, Mommy. Lagipula, aku kan belum menghabiskan sayurannya," tunjuk putri kecil itu ke arah piring salad nya.


"Oh iya, ya sudah biar Mommy sendiri saja. Alessia jangan kemana-mana, ingat!" pesan Vyn seraya mengambil tas dan juga ponsel di atas meja. Sementara, Alessia hanya mengangguk karena mulut kecilnya penuh dengan cumi tepung.


"Titip perhatikan putri kecil saya di meja nomer sembilan." Vyn meletakkan selembar uang agar pramusaji memperhatikan Alessia sepeninggalnya ke toilet.


"Siap Nona!"


______


"Antar aku toko jas dan dasi. Sebentar lagi cucuku ulang tahun," pinta Elli pada Mira yang menuntunnya.


"Baik, Oma."


Elli pun berjalan melewati sebuah restoran dimana ada seorang gadis kecil yang tengah memperhatikannya. Karena kaca restoran tersebut yang memang tembus pandang.


"Kenapa lukisan Ale hidup?!" Kedua mata indah gadis kecil ini pun berkedip lucu seraya berpikir.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2