Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Perang Kata.


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Prita melepas kepergian Ale senja itu dengan berat hati. Sayang, Vynnitta tidak pernah mempermasalahkan putrinya itu untuk menginap di rumahnya. Meskipun Prita beberapa kali memohon pada Vyn. Alasannya, Vyn tidak bisa jauh dari Alessia. Prita pun akhirnya menerima alasan Vynnitta. Karena ia mengerti, jika Alessia adalah keluarga Vyn satu-satunya.


Bukan hanya Xilondra yang menatap kepergian Vynnitta, akan tetapi Franklin pun sama. Bahkan hingga kendaraan roda dua yang dibawa oleh Maria itu berbelok dan menghilang, dua pria gagah nan tampan ini masih saja memandang ke tempat dimana Vynnitta dan Alessia pergi tanpa bekas.


"Lihat mereka berdua, Gill. Menurutmu apa yang sudah terjadi?" tanya Brandy heran pada Gillette. Karena ia melihat tatapan kerinduan yang sama dari kedua pria itu. Tatapan yang sama-sama tengah memendam perasaan yang dalam. Seketika membuat perasaan Brandy menjadi tak enak.


"Firasat saya buruk, Pak Dokter. Sepertinya, cinta dengan rumus phytagoras tengah berlaku," ucap Gill seraya memasang senyum dan mengangkat alisnya naik-turun.


"Dasar asisten laknat! Kau justru nampak senang melihat tuanmu menderita," omel Brandy pelan. Karena ia tak ingin mengganggu Franklin yang tengah melamun.


"Ku harap dirimu belum menjadi milik orang lain Vynnitta. Aku juga sangat berharap bahkan begitu besar, jika Alessia adalah Putri kita.' Batin Franklin seraya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Franklin mencoba mencari kekuatan agar ia dapat menerima kenyataan, sepahit apapun itu nanti.

__ADS_1


"Bagaimana, Tuan Franklin. Apakah sesuai dengan harapan Anda?" tanya Xilondra biasa saja, akan tetapi disalahartikan oleh Franklin sebagai sebuah sindiran.


"Tentu saja. Karena, setiap yang saya inginkan pasti akan saya dapatkan," jawab Franklin, seraya menatap Xilondra dengan sebuah senyum penuh arti.


"Anda luar biasa, Tuan Franklin. Hanya, persiapkanlah diri dan mental anda. Jika sewaktu-waktu apa yang anda harapkan di luar dari kenyataan. Karena, tidak semua apa yang kita inginkan harus kita genggam," ucap Xilondra, kali ini ia tak tahan lagi untuk menyindir manusia sombong di hadapannya ini.


"Itu tidak berlaku untuk saya, Pak Kades yang terhormat. Lihat saja nanti." Setelah mengatakan kalimat terakhir, Franklin pun segera masuk kedalam paviliunnya.


______


"Kak awas!" pekik Maria seraya mengecilkan api kompor. Karena Vynnitta tengah membuat kari, akan tetapi dirinya sibuk melamun. Sehingga Vynnitta lupa untuk mengaduk kuah santan tersebut.


"Upps! Maaf ...," sesalnya. Vynnitta pun segera membersihkan tumpahan santan disekitar kompor dan mejanya.

__ADS_1


"Apa yang sedang Kakak pikirkan? Aku perhatikan seperti sering melamun semenjak pulang dari kota," selidik Maria. Karena, bagaimanapun juga mereka harus saling menjaga. Ia mulai khawatir saat mendapati Vynnitta sering melamun dan tidak fokus. Padahal, selama ini ia mengenal Vynnitta adalah tipikal orang yang sangat teliti dan serius dalam melakukan sesuatu. Perubahan seperti ini tentu saja sangat mencolok.


"Ah, ti–tidak, hanya saja aku sedang berpikir apakah tendangan kita itu sungguh berefek pada lambung si tuan hantu," elak Vynnitta asal.


"Nanti coba Kakak periksa saja. Jangan sampai dia membohongi kita. Lalu mengharap makan malam gratis. Atau--" Maria tidak meneruskan ucapannya lantaran sengaja untuk menggoda Vynnitta. Ia pun tersadar jika tatapan Franklin memiliki makna tersembunyi.


"Atau apa maksudmu, Maria?" tanya Vynnitta dengan tatapan penuh selidik.


"Atau jangan-jangan, tuan hantu naksir sama aku. Jadi alasan saja biar bisa pedekate sama asistennya nona Saga yang imut ini," kekeh Maria.


Vynnitta langsung menghela napasnya lega. " Ah ya, ku kira apa. Mungkin saja, begitu. Sebaiknya kau bersiap melepas masa jomblo-mu," ucap Vyn tentunya dengan kekehan pula.


"Kau setuju Kak, jika aku mendekati tuan hantu?"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2