
🌹🌹🌹🌹🌹
"Tenanglah, jangan terlalu tegang." Franklin coba menarik tangan Vynnitta mengajaknya duduk di atas pembaringan. Wanita itu sempat terlonjak hanya karena sebuah genggaman dari Franklin.
'Kenapa dia menjadi seperti ini? Seperti belum pernah dekat denganku sebelumnya? Apakah aku begitu asing baginya saat ini?' berbagai tanya menyembul di permukaan pikiran dan juga rasa Franklin.
Melihat Vyn begitu tegang kala bersamanya. Membuatnya berpikir untuk menjelaskan sesuatu yang sejak bertemu dengan Vynnitta belum sempat ia ceritakan seluruhnya.
"Vyn, aku akan menjelaskan sesuatu padamu. Agar kau tak lagi ragu, jika rasa yang masih bersemayam di hatimu bukanlah sebuah kesalahan apalagi kejahatan. Sejak awal pertemuan kita, kau bukanlah wanita jahat dan perebut. Tidak ada yang berhak menyematkan label itu padamu. Juga untuk saat ini dan kedepannya. Hanya kau satu-satunya, nyonya Marquiese," tutur Franklin tak tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari wajah sendu Vynnitta yang masih setia menunduk itu.
Akan tetapi, kala mendengar kalimat nyonya Marquiese satu-satunya. Vyn, seketika mendongakkan kepalanya menghadap wajah Franklin. "Apa maksudmu? Lalu, bagaimana dengan ... Rai--" Franklin buru-buru menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir Vynnitta. Membuat kedua mata wanita itu sontak membuat karena kaget.
"Jangan sebut nama iblis itu di saat kita berdua, aku telah lama mengakhiri hubungan ku dengan dia. Semenjak, ia membunuh anak kami yang berada dalam kandungannya. Sejak saat itu, aku menghapus semua jejak hubungan kami. Bahkan sejak dari masa lalu sekalipun," jelas Franklin yang mana membuat kedua mata Vynnitta semakin membola.
__ADS_1
"Jadi, kau dan Rai ... juga anak kalian? Maaf, aku telah berpikir lain. Aku--" Vyn tidak meneruskan kata-katanya, karena Franklin telah memeluknya dengan erat. Vyn, kembali membulatkan matanya. Kristal bening itu mendadak mengembung di sudut mata. Telah lama ia merindukan pelukan ini. Kehangatan yang sering mengusik mimpinya. Apalagi ketika ia tengah hamil Alessia, betapa sampai menangis semalaman karena ingin sebuah pelukan dari ayah, anak yang ia kandung.
"Aku sangat merindukanmu, Vyn," ucap Franklin lirih seraya menghirup puas aroma tubuh wanita yang teramat ia di rindukan ini. "Hampir lima tahun aku hidup tanpa pemilik hati. Selama itu juga aku tiada henti mencari jejak kalian. Siapa sangka, ketika keputusasaan itu menghinggapi rongga nestapa. Tiba-tiba, Oma menemukan seorang gadis jelita yang sengaja mengikutinya. Ternyata, takdir lah yang membuat kami di temukan. Bukan aku yang menemukan kalian." Franklin melepas pelukannya, kemudian ia menatap dalam ke manik pekat yang berkaca-kaca milik Vynnitta.
"Kau pasti sangat sengsara ketika mengandung Alessia. Tanpa ada siapapun yang merawat di sisimu. Apa kau muntah dan pusing setiap pagi? Lalu, apa kau selalu lapar setiap tenaga malam? Lalu siapa yang menuruti segala keinginan mu ketika kau menginginkan sesuatu? " cecar Franklin yang membuat air mata menggenang itu seketika tumpah, dan Vyn terisak dengan mulut yang di bungkam oleh tangannya sendiri.
"Maafkan, aku. Maafkan aku dari setiap penderitaan yang kau alami. Maafkan aku, tidak ada di sana demi mengurangi kesusahan mu. Aku tau itu sangat sulit, mengalami mual dan muntah sambil membawa Alessia dalam perutmu." Franklin berkata, seraya mengusap kedua pipi Vynnitta yang basah dengan kedua ibu jarinya secara bersamaan.
"Aku, hanya mengalami morning sicknes parah selama satu bulan lebih. Setelahnya, semua biasa saja. Aku mencoba meredam semua keinginanku. Sebab, itulah Alessia menjadi anak yang sabar ketika menginginkan sesuatu," ucap Vynnitta di sela-sela Isak tangisnya. Ia sengaja tidak jujur, jika yang selalu ada untuknya adalah Xilondra.
"Couverage syndrom? Kau, mengalaminya?" kaget Vynnitta. Ia tak menyangka jika hubungan mereka sedekat itu. Padahal jarak dan waktu telah memisahkan. Pantas saja, Alessia begitu terikat batin dengan Franklin.
"Jadi, semua berakhir ketika hari lahir ku tiba. Ternyata pada saat itu, telah lahir keturunan dari Boudouin. Alessia-ku." Franklin, semakin melebarkan senyumnya karena Vynnitta yang tidak menolak setiap sentuhan darinya. Franklin terus mengelus wajah itu hingga kedua pipi Vyn merona merah. Vyn, membuang pandangannya, sebab hatinya ingin melompat kegirangan.
__ADS_1
Prasangka serta duganya selama ini ternyata salah besar. Ia bukanlah perusak rumah tangga orang lain. Raisa sendiri lah yang membuat lubang besar menganga pada biduk rumah tangganya. Bahkan wanita itu ternyata memang gila. Dengan setega itu ia membunuh darah dagingnya sendiri.
"Apakah Oma Elli mengetahui semuanya? Aku, telah mengecewakannya," lirih Vynnitta. Wajah itu kembali suram. Membuat Franklin menarik dagu Vynnitta, agar wajah cantik itu menghadapnya.
"Oma justru merasa bersalah, dan sangat ingin kau kembali ke Mansion utama," jelas Franklin.
"Aku merindukannya, aku akan mengabulkan keinginannya," ucap Vynnitta yakin dengan kedua mata yang berbinar-binar.
"Baiklah. Sebelum pulang kembali. Kita harus menyembuhkan Alessia terlebih dahulu." Franklin dengan berani mengedipkan sebelah matanya kearah Vynnitta.
"Jangan ragu lagi. Aku akan membuat pesta sungguhan untuk mengikrarkan kembalinya nyonya Marquiese. Satu-satunya, menantu di keluarga Bou." Sontak, ucapan Franklin barusan membuat Vynnitta mendapat kepercayaan serta keyakinan diri yang begitu besar. Vynnitta pun, menjatuhkan tubuhnya pada pria yang kini menjadi suaminya. Keinginan yang sejak dulu ia impikan. Memiliki status yang jelas, juga mendapat hati dan cinta Franklin seutuhnya.
"Miliki aku, Franklin. Aku ingin pulang," lirih Vynnitta. Tentu saja, hal itu membuat senyum bahagia kembali merekah dari wajah Franklin. Ia pun mengeratkan pelukannya. Melabuhkan berkali-kali kecupan dalam di pucuk kepala Vynnitta. Dengan sepenuh rasa, Vynnitta melingkarkan lengannya memeluk pinggang Franklin.
__ADS_1
"Vyn," Franklin menatap manik yang penuh cinta dan kerinduan itu dengan lekat.
...Bersambung ...