Hasrat Terlarang Pembantu

Hasrat Terlarang Pembantu
Bertemu Dokter Brandy


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Hemmm ...,"


" Luar Biasa. Kadar racun di dalam tubuhmu menurun, seperti tidak berbahaya sama sekali," ucap Brandy menganalisis. Dia adalah salah satu sahabat Franklin, seorang dokter pria yang gemulai. Meskipun begitu, dia adalah pria tulen. Hanya pembawaannya saja yang seperti itu.


Karenanya, Franklin biasa saja ketika Brandy menyentuh bagian-bagian tertentu tubuhnya. Franklin adalah tipikal pria yang memiliki penyakit kejiwaan COD, ia tak bisa di sentuh sembarang orang.


"Ternyata benar," gumam Franklin pelan. Walaupun begitu, masih bisa di dengar samar oleh Brandy.


"Apa maksudmu!" Brandy memegang kedua bahu Franklin dengan kedua tangannya. Mata nya yang berlapis kaca mata kotak menatap pasien sekaligus sahabatnya ini lamat.


"Apa kau tengah mengkonsumsi obat lain? katakan padaku!" cecar Brandy. Cengkeramannya semakin kencang, dengan tatapan mata yang semakin tajam.


"Tidak, aku hanya minum obat darimu. Itupun, sama sekali tidak berpengaruh ketika rasa itu kambuh." Franklin melengos ke samping. Ia tak suka jika Brandy menatapnya dari dekat. Wajah pria di hadapannya ini bisa di bilang cukup cantik untuk ukuran laki-laki. Franklin sebenarnya agak risih, jika mereka terlalu dekat seperti ini.


"Apa!" Brandy sontak membungkam mulutnya setelah ia memekik nyaring.


"Jadi, kadar racunmu menurun bukan karena obat!" pekik Brandy lagi, sembari bertanya. Sementara, Franklin hanya menggeleng pelan.


"Kau ingat? kasus yang pertama kali, semenjak kau ganti jenis obatku?" Franklin bertanya seraya beranjak dari tempat tidur pasien. Namun, Brandy menahan bahunya agar ia tetap duduk.


"Saat itu ya, kadar racunmu juga tiba-tiba menurun secara drastis." Brandy memegang dagunya seraya berfikir. Sementara sebelah tangannya ia lingkarkan di pinggangnya sendiri.


" HA!! Aku ingat!" Franklin menutup kedua telinganya karena teriakan Brandy yang nyaring.


"Jadi, kau baru saja berciuman lagi dengan gadis itu?" tanya Brandy memastikan.


"Hemmm." Franklin hanya berdehem pelan. Membuat Brandy mengguncang bahunya dengan cepat.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi selengkapnya!" Kali ini Brandy menarik kerah kemeja Franklin. Pria gemulai itu begitu syok rupanya. Ia sangat penasaran, karena kronologisnya sungguh di luar nalar.


" Malam itu, aku menemui Alex di klub tempat kami biasa hang out. Aku ingin bicara baik-baik padanya. Bila ia mau meninggalkan Raisa, maka aku akan melupakan apapun yang telah terjadi. Akan tetapi, Alex justru menantang ku untuk berkelahi. Aku mencoba menghindarinya, meski pria itu terus menghina serta mengintimidasi ku." Franklin menjeda ceritanya, kemudian pria itu menghembuskan napasnya kasar.


"Teruskan!" titah Brandy.


"Tubuhku yang mendadak dingin tak mampu melawan Alex, hingga diriku kehabisan tenaga. Pengawalku di luar juga sedang beradu dengan para pengawal Alex. Dalam keadaan yang semakin lemah, akupun pulang, bersama dengan dua orang pengawal. Ku kira tadi malam adalah akhir dari hidupku. Ketika aku merasakan tangan hangatnya menyentuh tubuhku, saat itulah aku sadar. Entah kenapa, dorongan untuk menciumnya sangat kuat," jelas Franklin jujur, meski ia tak menceritakan kejadian pencurian tadi pagi. Luar biasanya, kejadian itu membuatnya seakan memiliki tenaga ganda.


"Aku, seperti sedang mendengar sebuah dongeng. Sungguh keanehan yang nyata." Brandy mengusap dagunya tanda ia tengah berpikir keras


"Kau tau siapa gadis itu? dan, di mana kau bertemu dengannya? bagaimana bisa terjadi dua kali kebetulan?" cecar Brandy, curiga.


"Dia, gadis itu ...,"


________

__ADS_1


"Vyn," sapa Oma Elli, ketika melihat gadis bertubuh tinggi ramping itu tengah membersihkan karpet dengan penyedot debu.


Melihat kedatangan sang majikan, buru-buru Vynnitta mematikan tombol mesin ๐™ซ๐™–๐™˜๐™ช๐™ข ๐™˜๐™ก๐™š๐™–๐™ฃ๐™š๐™ง tersebut.


"Pagi, Oma cantik," sahut Vyn dengan senyum ramahnya.


"Kenapa, Oma tidak melihatmu di meja makan, pagi tadi?" tanya Elli.


"Kan, ada cucu menantu Oma yang nemenin, jadi aku enggak pantas ada di sana," jawab Vyn jujur.


"Kau, ini. Oma, juga sudah menganggapmu seperti cucu sendiri. Lain kali bergabung saja, jangan pernah sungkan lagi," ucap Elli hangat.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ. ๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข๐˜ต ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช 2 ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช.


"Baik, Oma sayang. Nanti malam, Vyn temani ya." Vyn membalas rangkulan wanita tua yang tak lain adalah majikannya itu. Elli yang sejak awal sudah menyukainya, serta kagum akan keberanian Vyn yang menolongnya.


๐˜๐˜บ๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ธ. ๐˜–๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜™๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


Elli tersenyum lagi, sebelum ia meninggalkan Vyn. Tak lama kemudian Vyn kembali menyalakan mesin penyedot debu. Namun, sebuah tangan yang halus menekan kembali tombol ๐™ค๐™›๐™› pada mesin tersebut.


"Eh, kenapa di matikan." Vyn pun kembali menyalakan tombol ๐™ค๐™ฃ. Tanpa memperdulikan sosok cantik nan seksi tengah berdiri dengan angkuh di hadapannya.


"Matikan mesinnya!" titah Raisa.


"Lebih baik, sekarang kau ambilkan camilan dan jus. Lalu, antar ke kamarku." Raisa berkata dengan angkuh , bahkan ia tak menatap ke arah lawan bicaranya.


"Bukannya, Nyonya baru aja sarapan? kenapa harus ngemil? emang gak takut gendut apa?" cecar Vyn. Menyerang langsung ke sudut.


"Hei, pembantu kurang ajar! cemilannya bikinin yang sehat dong!" ujar Raisa dengan penekanan pada kalimat status Vyn di rumah itu.


๐˜š๐˜ช ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข.


" Saya lagi sibuk, minta sama yang lain aja." Vyn dengan santai kembali meneruskan pekerjaannya. Ia hendak memasuki kamar Franklin, tapi Raisa keburu menarik tangannya.


"Kurang ajar! Berani membantah perintah! Apa kau ingin di pecat!" bentak Raisa dengan suara kencangnya.


"Ck, terserah anda mau bilang apa.ย  Sudah, jangan mengganggu pekerjaan saya. Suruh yang lain 'kan bisa." Vyn masih bersikap santai menghadapi istri dari tuan mudanya itu.


"Kau! Benar-benar cari mati ya!" Raisa melayangkan tangannya ke wajah Vyn, tapi gadis itu menangkis dengan cekalan tangannya.


" Kenapa harus memukul? ketika keinginan anda tidak dapat terpenuhi?" sarkas Vyn, dengan senyum ketusnya.


"Kau, dasar pembantu tak tau diri! Jangan mentang-mentang Oma Elli menyukaimu. Sehingga, membuat wanita rendahan sepertimu besar kepala!" Raisa melayangkan tangan satunya lagi, tapi Vynitta kembali menangkisnya dengan sebelah tangannya.


"Berani kau melawanku! Aku pasti akan membuatmu di pecat!" ancam Raisa dengan amarah yang membuat matanya memerah.

__ADS_1


Vyn, mendorong tubuh Raisa ke dinding. Membuat wanita itu, terbelalak dengan perasaan kesal bercampur geram.


"Jangan pernah mengintimidasi orang. Siapa tau, orang itu di atas dirimu. Aku akan sopan padamu, jika kau tidak pernah jahat dengan pembantu. Kau tau, jika saja oma Elli tau siapa dirimu yang sebenarnya. Kau lah yang akan terlempar dari mansion ini." Vyn berkata dengan berani dan tegas. Wanita sejahat Raisa tidak pantas berada di sekitar Franklin dan juga oma Elli yang sangat baik serta ramah dengan para pekerjanya.


"Kau pembantu rendahan, tak tau malu! Berlagak hanya karena, oma Elli menyukaimu!" gertak Raisa. Dengan sekuat tenaga akhirnya ia bisa juga lepas dari cengkeraman Vyn.


"Kau juga berlagak, dengan segala kepura-puraanmu. Sehingga, oma Elli menyukaimu," ketus Vyn dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ.


"Suatu saat, aku akan membuatmu di tendang dari mansion ini." Raisa memasang senyum sinisnya. Dengan sudut bibir yang menukik tajam ke atas.


"Kita lihat saja, siapa yang akan keluar duluan." Vyn, tanpa rasa takut sedikitpun, mencoba membalas tantangan Raisa. Ia tau siapa wanita di hadapannya saat ini. Serta, bagaimana kekuasaan keluarganya. Entah kenapa, pagi ini kekuatan serta keberaniannya meningkat begitu pesat. Ia seakan yakin untuk melawan setiap tekanan dari Raisa.


__________


"Yang benar saja!"


"Dia pembantu di mansion milik mendiang opa-mu. Kenapa kau baru bilang sekarang!" protes Brandy dengan berteriak nyaring.


Franklin mengusap sebelah telinganya yang sakit. " Awalnya, tentu saja aku malu. Karena, tanpa sengaja telah berciuman dengan pembantuku sendiri.


๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Franklin, kau harus mencobanya lagi. Dekati gadis itu baik-baik. Mungkin saja kau ...."


"Aku akan mencobanya lagi, tapi bagaimana caranya? aku tidak ingin di cap sebagai majikan mesum."


" Kau sudah punya sedikit clue untuk memperpanjang umurmu. Jangan di sia-siakan." Brandy berkata dengan cara berbisik di telinga Franklin. Bahkan, jarak mereka sangatlah dekat. Padahal, di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Kenapa Brandy harus berbisik?


"Tuan, Frank ....!" Seorang asisten membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Hingga pemandangan di hadapannya, dimana Franklin dengan kemeja terbuka serta sang Dokter dengan posisi seperti baru saja mencium pipi Franklin. Membuat matanya seketika membola.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?!


Segala pikiran negatif, kiniย  berputar di dalam kepala sang asisten tersebut.


"Ah, sepertinya laporannya nanti saja. Saya, pergi dulu, Tuan! Silakan di lanjut lagi!" Pria berkacamata itu seketika berbalik dan lari. tunggang langgang.


๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜๐˜ถ๐˜ธ๐˜ข๐˜ข๐˜ข!!..


ย 


Bersambung>>>


ย 

__ADS_1


__ADS_2