
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kau hebat Vynnitta. Kemampuanmu telah menutup segala kekuranganmu. Hingga tak ada satu mulut pun yang mampu berbicara tentang keburukan mu. Lalu, apakah lantas saya harus menutup mata dari itu semua? Sebagai pemimpin yang kedudukannya atas pilihan dari para warga itu sendiri. Haruskah saya bersikap masa bodoh atau berlagak cuek dengan potensi besar yang di miliki oleh salah satu penghuni di desa saya?" cecar Xilondra membuat Vynnitta bungkam seketika.
"Tolong, jangan merasa terbebani dengan sikap baik saya. Karena apa yang telah saya lakukan belum berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang telah kamu lakukan bagi warga sekitar." Xilondra memaksa Vynnitta mengangkat wajah untuk menatapnya. Dengan cara menarik salah satu jari Vynnitta. Yaitu telunjuknya.
Segera Vynnitta menariknya, akan tetapi Xilondra tak melepaskannya.
"Lain kali. Gunakan sarung tangan khusus. Agar jarimu tidak lecet-lecet seperti ini. Hari ini aku akan langsung memesannya dari kota. Sementara itu, sebaiknya suruh orang lain saja untuk menggali umbi dan akar dari dalam tanah." Xilondra menatap dan mengusap luka lecet di jari Vynnitta. Membuat wanita di hadapannya itu risih campur malu. Apalagi di sana masih ada Maria, yang mana sejak tadi asik mendokumentasikan kedekatan keduanya.
𝘠𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵𝘵.
𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘫𝘰𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢.
Maria cekikikan sendiri di antara pohon saga. Sesekali saking gemas, ia pun menarik daun kecil-kecil dari tumbuhan tersebut lalu memakannya. Bagi yang biasanya mengunyah tumbuhan saga ini pasti rasanya akan biasa saja. Beda sama otor yang memang gak doyan karena rasanya yang manis enek campur getir. Kecuali jika minum perasan daun saga tersebut yang sudah di campur dengan madu.
"Saya paling susah minum obat. Akan tetapi semenjak Kak Vynnitta memberitahu khasiat dari daun saga yang banyak tumbuh liar di kebun ibu. Saat itulah saya jadi jarang kambuh karena saya suka rasanya yang manis tapi nyelekit," timpal Maria yang tiba-tiba sudah berada di samping Vynnitta dan merangkul lengannya.
𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢.
__ADS_1
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘫𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘟𝘪𝘭𝘰𝘯𝘥𝘳𝘢.
Maria cengengesan mendapat lirikan tajam dari Vynnitta.
"Sudah sore, sebaiknya kalian pulang. Maaf, bukan tidak mau mengantar kalian. Tapi, saya hanya bawa si Eagle. Jangan lupa panaskan lagi makanannya nanti di rumah ya. Soto buk Menor lebih enak di makan selagi masih mengepulkan uap." Xilondra berucap sebelum ia berlalu dengan kendaraan roda duanya itu. Kendaraan dan juga orang yang mengendarainya nampak begitu sepadan. Sama-sama gagah menantang. Apalagi jika Xilondra telah mengenakan helm full face nya.
Bahkan, aktor film Bret Pitt pun kalah mempesona dibandingkan dengan kharisma yang memancar dari seorang Kades Xilondra.
"Terimakasih --"
"Xilondra. Atau panggil saja Xilo," potongnya sebelum Vynnitta menyelesaikan ucapannya.
𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢.
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.
𝘚𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘪𝘵𝘪𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘩𝘦𝘳𝘢𝘱𝘺.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘝𝘺𝘯?
__ADS_1
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘮𝘶.
𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘥𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴𝘮𝘶.
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘣𝘶.
Begitulah Xilondra, dibalik raga tegap nan gagah serta kewibawaan dalam kepemimpinannya. Dirinya hanyalah seorang anak yang akan sangat manja jika sudah berada di hadapan ibunya.
"Ibu sayang ...." Xilondra langsung menubruk wanita paruh baya yang tengah memberi makan ikan di bawah rumah panggungnya.
"Xilo anak Ibu sudah pulang? Mukanya seneng gitu? Sudah ketemu sama gebetan nih kayaknya?" goda sang ibu yang masih begitu cantik meskipun usianya sudah menanjak senja.
"Xilo mandi dulu ah,"
"Eh, eh. Cerita dulu dong sama ibu. Dia itu anak gadisnya siapa? Apa dia benar gadis yang tulus? Apa dia gadis baik-baik?" cecar wanita yang bernama Prita Nia itu.
"Dia, bukan gadis Bu."
Bersambung>>>
__ADS_1