
🌹🌹🌹🌹🌹
"Atur semuanya, Gill. Aku akan hadir di acara itu besok!" perintah Franklin pada asistennya itu.
"Aku juga mau, belikan sekalian tiketnya!" tukas Brandy, yang tiba-tiba muncul di ruang kerja Franklin.
"Haihh, kau itu kenapa tiba-tiba muncul begitu! Seperti hantu saja!" protes Franklin yang sedikit kaget.
"Kau ini laki-laki atau bukan? Kenapa kagetan sekali!" ujar Brandy membalas ledekan Franklin padanya.
"Gill, segera pesankan tiket juga untuknya!" Titah Franklin kepada asistennya itu.
"Tapi, Tuan. Bukan perkara mudah untuk mendapatkan tiket tersebut. harganya pun sepuluh kali lipat lebih mahal, karena saya harus membelinya dari calon tamu," jelas Gill yang mana ikutan pusing selama beberapa tahun ini.
" Hei, Gill! Sejak kapan uang menjadi masalah bagi bos-mu ini. Kau lihatkan! Bahkan hartanya tak kunjung habis. Selama beberapa tahun menggunakan jasa detektif untuk mencari kekasihnya yang hilang. Kini, setelah ia ditemukan, apa uang akan menjadi tolak ukur bagi Franklin. Ku rasa, bahkan dia rela menukar Lamborghini-nya dengan tiket itu." Brandy menepis keras pernyataan yang dilontarkan oleh asisten sahabatnya itu. Membuat Franklin terkekeh pelan, membenarkan apa yang diutarakan oleh Brandy.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mencari orang yang mau menjual tiketnya." Gill, mendengus sebal, gara-gara Brandy pekerjaan menjadi bertambah. Padahal ia sudah ingin sekali pulang sejak tadi.
_______
"Mobilnya sudah sampai sayang. Ayo kita pulang!" ajak Vynnitta seraya menoleh sebelum ia benar-benar keluar dari hotel.
𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩.
𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬𝘬𝘶.
𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘦𝘴𝘴𝘪𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘟𝘪𝘭𝘰𝘯𝘥𝘳𝘢?
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
__ADS_1
𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘭𝘦𝘴𝘴𝘪𝘢.
𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯, 𝘟𝘪𝘭𝘰𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘦𝘴𝘴𝘪𝘢.
Batin Vynnitta risau dan gelisah. Hingga tanpa terasa, sang putri kini telah terlelap di atas pangkuannya.
𝘈𝘭𝘦 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳.
𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘺𝘪.
𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘦 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺.
Vynnitta, memandangi wajah damai Alessia putrinya yang tengah terlelap itu. Menyibak surai poni yang menutupi sebagian wajah cantik putri kecilnya. Memandangi lamat-lamat bagian pada wajah Alessia yang memang mirip dengan Franklin. Terutama pada kedua matanya. Inilah yang justru membuat dirinya tak bisa melupakan mantan majikannya itu. Vyn merasa Franklin selalu ada bersamanya dan mengawasi hidupnya.
𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢𝘮𝘶, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨.
𝘈𝘭𝘦 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺.
𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘡𝘰𝘮𝘣𝘪𝘦.
𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘭𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺.
𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?
__ADS_1
𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯, 𝘈𝘭𝘦 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘥𝘺.
𝘔𝘢𝘢𝘧, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨.
𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
Vynnitta terus berbicara dalam hatinya. Hingga tanpa terasa ia pun ikut terlelap. Vyn berharap setelah bangun semua akan kembali seperti semula. Seperti sebelum Alessia bertemu dengan daddy kandungnya.
______
Keesokan harinya di sebuah ball room hotel, di mana seminar Pengobatan Herbal Dari Alam. Mampukah Menandingi Pengobatan Medis.
Franklin mengepalkan tangannya pertanda geram. Setelah ia ketahui jika Erriana alias Vynnitta tidak hadir sebagai narasumbernya. Terlihat di sebuah layar bahwa Erriana hanya mengirimkan sebuah vidio penjelasan dimana ia menemukan sebuah akar tumbuhan yang dapat mengobati kanker atau leukimia.
Menurutnya penderita penyakit tersebut tak perlu lagi susah-susah mencari donor tulang sum-sum. Hanya saja, akar tumbuhan tersebut agak sukar untuk di ambil. Karena letak tanamannya yang biasa tumbuh di pinggir jurang.
"Jhonny. Sekarang tugasmu untuk melacaknya. Gali informasi dimana ia tinggal, secepatnya!" titah Franklin tanpa memberi celah untuk sebuah bantahan dari anak buah kepercayaannya itu.
"Baik Tuan," jawab Jhonny lugas. Pria berkaca mata itu pun langsung serius menatap layar pada laptop di atas pangkuannya.
Hingga akhirnya sebuah senyum tercetak sebagai tanda bahwa ia telah berhasil menemukan sasarannya.
"Aku menemukanmu nona. Ternyata anda selama ini berada di desa kecil yang indah tapi sedikit terisolir dari dunia luar. Pantas saja, kemampuan anda begitu cepat berkembang. Di desa itu masih sangat jarang yang namanya pengobatan medis. Anda sangat hebat." Jhonny terus saja bergumam seraya memasang senyumnya. Tanpa ia sadari bahwa sejak tadi, Franklin memandanginya jengah.
"Sampai kapan kau akan memandangi wajah Vynnitta!" hardik Franklin membuat Jhonny seketika sadar dari terkesimanya.
"Maaf, Tuan. Saya hanya memikirkan rencana kita selanjutnya," ucap Jhonny beralasan.
"Ya tentu saja, kita datangi desa itu besok pagi! Apa lagi!" ketus Franklin.
Bersambung>>>>
__ADS_1