
🌹🌹🌹🌹🌹
"Aku pernah melakukannya sekali. Aku pasti bisa kembali menemuimu, NYI Laluna ..." Vynnitta berbisik seakan meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan saat ini pasti akan berhasil. Bukankah niat mereka semua tulus untuk menyelamatkan Alessia.
Mereka berenam pun duduk bersila dengan membuat pola lingkaran. Sementara Alessia tetap berada dalam pangkuan Franklin. Pria itu tak ingin sedetik dan seinchi pun putrinya berada jauh. Alessia pun merasa nyaman dan sedikit mengurangi sakit yang ia tahan sejak tadi.
Alessia anak yang kuat luar biasa. Ia tak ingin sang mommy semakin sedih jika melihatnya merintih kesakitan. Sampai ia menggigit bibirnya sendiri. Itu, terjadi ketika Alessia berada dalam pangkuan Franklin, karena itulah hati Franklin sangat sedih dan terluka. Seandainya ia tau, bahwa akibat kejadian malam itu. Akan membuat dua wanita menderita. Maka, ia lebih memilih mati saja saat itu. Akan tetapi semua sudah terjadi. Tidak ada satu manusia pun yang tau kejadian di masa depan.
"Kau anak yang baik sayang. Tenanglah, Daddy akan membuatmu sembuh. Kita, akan membahagiakan Mommy bersama," bisik Franklin pelan di telinga Alessia, yang kemudian diangguki lemah olehnya.
__ADS_1
"NYI Laluna ... ijinkanlah kami masuk. Kami semua memiliki niat yang baik. Putriku ... kami semua di sini ingin menyelamatkan putriku ..." Vynnitta bergumam seakan tengah memanggil seseorang. Sementara yang lainnya memejamkan mata seraya berkata dalam hati. Mengiyakan apa yang digumamkan oleh Vynnitta. Tak lama kemudian, sebuah cahaya yang teramat menyilaukan mata keluar dari salah satu sisi hutan. Di mana terdapat sebuah tanaman dengan daunnya kuningnya yang sangat lebar. Sekilas seperti daun talas.
Sepersekian detik kemudian, cahaya itu seakan tersedot sesuatu, lalu meredup perlahan. Nampak lah, sebuah jembatan pendek dengan kolam teratai di bawahnya. Sementara di ujung jembatan seberang terdapat tanaman merambat yang melingkar di kedua pegangan pada sisi jembatan.
"Huh, akhirnya. Guardian Portal menerima Maksud kedatangan kita. Ayo cepat, sebelum portal atau jalan masuk kita di tutup kembali. Vynnitta bangun, dan langsung mengambil Alessia dari gendongan Franklin. Ia berjalan lebih dulu di depan. Alessia mendekap erat bahu sang Mommy, lalu ia memaksakan tersenyum pada saat Daddy yang mengikuti di belakang mereka.
'Kau bahkan masih bisa tersenyum untuk, Daddy sayang. Padahal, Daddy sudah jahat terhadap kalian berdua. Daddy, kurang bersemangat serta berusaha dalam mencari keberadaan kalian berdua. Daddy, menyesal sayang. Tetaplah kuat, agar kau terus dapat memberikan senyum seperti itu lagi untuk daddy.' batin Franklin yang terus menyalahkan dirinya sendiri.
"NYI--" Baru saja Vynnitta hendak memanggil, seorang kurcaci keluar dari rumah jamur tersebut.
__ADS_1
" Hai, Kakak!" sapa kurcaci berwajah imut itu. Padahal, usianya sudah tiga kali lipat dari Vynnitta. Bahkan mereka hanya satu gender. Yaitu, perempuan. Tubuh mereka kecil, mungil dengan paras seperti anak berusia delapan tahun.
"Tutu! Dimana NYI Laluna?" tanya Vynnitta yang mengenali kurcaci tersebut.
"Nenek berada di dalam menunggu kedatangan mu sejak tadi dengan cemas," ucapnya dengan suara khas kurcaci yang lucu. Ketika Vynnitta terlihat berbicara dengan kurcaci bernama Tutu, Maria dan yang lainnya terlihat membelalakkan mata dengan mulut menganga. Belum lagi, ketika mereka melihat berbagai tumbuhan warna warni. Serta banyaknya tumbuhan jati yang menjulang tinggi dengan daun warna warni yang cantik. Jika di lihat oleh mafia kayu pasti hutan ini akan di babat habis. Karena sangat di yakini dan tidak diragukan lagi, jika kualitas batang jati yang tumbuh di hutan ini berkualitas sangat, sangat baik.
"Masuklah, Kak." Kurcaci bernama Tutu, menekan sesuatu yang menonjol di sebelah pintu rumah jamur. Vynnitta mengangguk, kemudian ia menoleh kebelakang.
"Ikuti aku!" Setelah itu, Vynnitta pun terlihat duduk di depan pintu masuk. Dan ....
__ADS_1
...Bersambung ...