
🌹🌹🌹🌹🌹
" Raisa!" teriak Elli sambil membuka pintu kamar dengan kasar. Tak ada lagi kelembutan untuk cucu menantunya itu. Setelah Elli tau apa yang telah di perbuat oleh Raisa. Franklin telah menceritakan semuanya. Menyisakan sesak kala ia mendengar cucunya itu tak bisa berbuat apa-apa tatkala Raisa mengusir Vyn yang dalam keadaan lemah.
"Di mana wanita durjana itu berada?" Elli yang menerobos masuk ke dalam kamar Raisa, sengaja mencari cucu menantu laknatnya itu kau setiap sudut kamar. Elli berniat ingin meminta pertanggungjawaban dari Raisa terhadap pengusiran Vynnitta."
" Ternyata dia sangat jahat terhadap cucu dan juga pelayan terbaikku. Aku tidak bisa diam saja membiarkan Raisa bertingkah seenaknya di dalam mansion ku ini. Mendiang suami anak dan juga menantuku pasti tidak akan tenang di alam sana. Bagaimana seorang Raisa anak dari keluarga Mathew, bisa begitu kejamnya pada keturunan dari keluarga Bou." Eli mencengkram kepala tongkatnya dengan geram.
𝘝𝘺𝘯𝘯𝘪𝘵𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨.
𝘖𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘯𝘢𝘬.
𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯.
𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.
__ADS_1
𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯.
𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘮𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶.
𝘝𝘺𝘯 ...
Elli menunduk, seiring dengan mengalirnya kristal bening dari kedua mata tuanya. Sampai sang perawat memapah raganya yang lunglai keluar dari kamar Raisa yang tak berpenghuni itu.
"Entah siapa yang telah menyebarkan berita bohong itu hingga Raisa memendam dendam kesumat begitu membara terhadap keluarga Bou. Bukankah kau dan aku telah melimpahkan kasih sayang yang tulus pada Matthew dan anak istrinya." Elli bergumam di depan pigura besar yang menampakkan foto keluarga Bou lengkap.
Di antara kebisingan suara musik yang berasal dari racikan jari seorang DJ. Raisa terlihat menggeliat bagaikan cacing kepanasan. Di atas lantai disco tersebut, ia menggerakkan tubuhnya yang hanya terbalut pakaian super duper mini.
Raisa terlihat sudah terbakar alkohol dan narkotika yang di konsumsinya. Ia berjingkrak-jingkrak tak tau malu bersama partner prianya.
Di sudut dari klub tersebut sepasang mata menyala karena amarah. Tatapan penuh kebencian itu kini tengah menatap Raisa jijik. Ia sungguh merutuki nasibnya yang dulu pernah dekat dengan wanita yang memiliki hubungan darah dengannya.
__ADS_1
"Alex, sebenarnya kau dimana? Beberapa pekan ini kau tiada menghubungiku. Apa kau sudah lupa dengan rencana kita. Aku sangat ingin mencakar wajahnya saat ini." Citra bergumam sambil terus mengusap layar ponselnya. Ia berusaha menghubungi nomer ponsel yang tertera dengan nama 𝙨𝙚𝙣𝙟𝙖𝙩𝙖 𝙡𝙖𝙧𝙖𝙨 𝙥𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜.
"Sial kau Lex!" Citra terus mengumpat orang yang ia tak tau kini tengah di makan cacing tanah.
"Aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Aku akan bergerak sendiri. Karena Raisa nampaknya sudah mabuk." Citra menaikkan satu sudut bibirnya ke atas. Ia melangkah pasti dengan segala rencana yang telah ia susun lama.
"Come on, baby!" Raisa mulai meracau. Kandungannya benar-benar kuat, bahkan janin di dalam perutnya sama sekali tak bermasalah. Padahal Raisa telah memasukkan berbagai macam obat serta minuman keras ke dalam lambungnya.
Ia juga sejak tadi bergerak dengan ekstrim. Biasanya dengan gerakan yang gesit seperti itu, janin di trisemester pertama tidak akan kuat. Bahkan, Raisa juga nampak baik-baik saja. Entahlah, sebenarnya ia mengandung anak Franklin atau anak jin.
"Come on. Aku juga sudah tidak tahan baby. Pusat tubuhku telah menegang sejak tadi." Pria yang menari dengan Raisa asik mencumbu tubuh wanita yang telah mabuk itu dengan buas. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Raisa, hingga terlepas dari dekapan pria mesum itu.
"Mau apa kau! Dia milikku tau!"
Bersambung>>>
__ADS_1