
🌹🌹🌹🌹🌹
Di hari yang cerah ini Vynnitta terlihat berseri, seraya menggandeng seorang balita perempuan yang juga tengah memasang senyum cerianya sejak tadi. Keduanya baru saja keluar dari mobil dan hendak masuk kedalam mall.
"Ma ...," panggil bocah kecil bermata jeli itu itu. Bulu matanya bergerak lucu seiring dengan kedipannya.
"Iya, sayang." Vynnitta menghentikan langkahnya lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan bocah perempuan yang berwajah bak boneka itu.
"Alesya mau mengatakan apa?" tanya Vynnitta lembut, sambil mencolek gemas hidung mancung bocah berusia empat tahun itu.
"Alesya mau minta alat menggambar yang baru boleh tidak?" ucap bocah yang di kepang dua itu menunduk malu.
"Boleh, kamu mau minta apapun nanti di sana akan Mommy belikan. Karena, hari ini adalah ulang tahun Alesya." Vyn berkata dengan senyum yang terus terkembang di wajahnya yang semakin dewasa dan cantik itu. Aura keibuan semakin memancar di tambah dengan karirnya yang semakin cemerlang di dunia pengobatan herbal. Meskipun begitu, tak serta merta merubah stylenya yang sederhana tapi anggun.
__ADS_1
"Terimakasih, Mommy. Tapi, Alesya hanya mau itu," ungkapnya dengan wajah tatapan penuh harap.
"Okey!" Vyn kembali melangkah dan menuntun Alesya. Langkah sang putri semakin cepat ketika mereka telah sampai di lobi. Vynnitta dan putrinya tengah berada di kota, karena kebetulan selama tiga hari ke depan Vyn akan ikut seminar Pengobatan Alternatif Dengan Obat-Obatan Dari Alam.
Kemajuan pengobatannya di desa Cenderawasih, yang mana mampu memanfaatkan khasiat dari tumbuhan. Membuat namanya melambung dalam kurun waktu empat setengah tahun.
Vynnitta bahkan mendapat penghargaan dari Bupati dan juga Gubernur setempat. Meskipun, orang luar tidak mengerti dengan apa Erriana atau nama lain dari Vynnitta meneliti beberapa tanaman asing tersebut.
"Sayang, pilih yang mana kamu suka. Semuanya adalah alat menggambar terbaik," jelas Vynnitta menunjukkan beberapa deretan barang seni menggambar melukis di hadapan Alesya.
"Semuanya bagus, Mommy! Alesya jadi bingung," cengir gadis itu seraya menggaruk poninya. Rambut kepangnya yang di gelung kanan-kiri menyerupai telinga tikus, telah membuatnya semakin terlihat lucu.
"Pilih tiga macam yang paling kamu suka. Karena di desa, kita tidak akan mendapatkan barang sebagus ini lagi. Jadi, lain kali Alesya tak perlu merepotkan Uncle Xilo," pesan Vynnitta. Membuat kedua mata indah putrinya itu berbinar secerah berlian.
__ADS_1
"Aku mau yang ini, ini dan itu. Juga pensil warna ini yang Alesya lihat di internet. Cat air dan kanvas mininya juga ya, Mommy," pinta bocah perempuan yang baru berusia empat tahun itu antusias.
"Bungkus semua yang di pesan oleh anak saya. Lalu antarkan ke hotel Mutiara Dewi!" titah Vyn kepada pelayan toko peralatan melukis tersebut.
"Jadi, ini semua untuk adik kecil ini, Nona?" tanya sang pelayan toko heran. Bagaimana tidak, biasanya anak seusia Alesya akan meminta boneka dan juga aksesorisnya.
"Iya, ini untuk putri kesayangan saya yang mana masuk sekolah pun belum. Karena sejak berusia satu tahun ia sudah memegang alat tulis dan mewarnai," jelas Vyn membuat pelayan toko tersebut berdecak kagum.
"Baiklah, tenaga kurir kami akan segera mengantarnya ke alamat anda. Jadi, biaya semuanya total dua koma tiga juta." Pelayan toko tersebut menyerahkan nota pada Vyn.
"Mommy, kenapa mahal sekali," bisik Alesya sambil menarik lengan baju Vynnitta. Membuat wanita yang melahirkannya di rumah empat tahun lalu itu tersenyum simpul.
Bersambung>>>
__ADS_1