
🌹🌹🌹🌹🌹
Ckiittt!
Duughh!
Lagi-lagi Gill ngerem mendadak membuat Franklin memegangi kembali dahinya sambil menatap tajam menghunus hingga kejiwa raga Gill.
"Ampun, Tuan. Semua karena celetukan Pak Dokter tuh!" elak Gill. Seraya menangkup kedua tangan depan hidungnya. Karena raut wajah Franklin sungguh menyeramkan kali ini. Dahinya bukan lagi kemerahan akan tetapi sudah menjadi kebiruan. Bagus saja tidak benjut, yang kemungkinan besar dapat mengurangi ketampanannya.
"Kenapa aku yang kau salahkan. Kau saja yang bawa mobilnya sambil mabuk!" omel Brandy kesal. Karena kepalanya juga terantuk kursi untuk kedua kali.
"Turun!" titah Franklin pada Gill.
"Ta–tapi, Tuan. Saya--" Gill tak lagi meneruskan kalimatnya karena pandangan Franklin terlalu dingin dan auranya tak bisa di bantah lagi.
"Sana turun!" usir Brandy, yang mana membuat Gill mendengus kesal.
'Semua kan gara-gara dokter melehoy itu. Sehingga tuan menurunkan ku di jalanan begini. Aku harus cari cara, mana tempat ini terlihat sepi. ' Batin Gill bergidik dalam gumaman dalam hatinya.
"Tu–Tuan. Tunggu!" seru Gill seraya memegangi kaca jendela mobil yang di turunkan. Sementara itu Franklin sudah berada di depan kemudi dan hendak menginjak pedal gas.
"Aku tidak butuh alasanmu!" ujar Franklin ketus.
"Aku tidak bermaksud mengelak atau membela diri. Akan tetapi aku hanya ingin mengatakan bahwa apa yang anda alami hari ini. Dapat anda jadikan alasan untuk dapat bertemu dengan nyonya Vynnitta lagi," ucap Gill ngos-ngosan. Karena ia berbicara cukup cepat. Secepat author mengetik naskah yang di kejar deadline.
Sontak Franklin menoleh dan meminta penjelasan singkat pada Gill.
"Dahi anda Tuan." Gill menunjuk pada kening Franklin yang membiru.
"Jelaskan cepat! Jangan membuatku bingung!" ujar Franklin kencang.
"Masa Tuan tidak paham?" pancing Gill. Masa sudah di kasih petunjuk tapi tuannya ini masih saja tak mengerti.
__ADS_1
Karena kesalnya bertambah pada Gill, maka Franklin pun segera menstarter kembali mobilnya. Brooommm ....!
"Anda bisa minta tolong nyonya untuk mengobati luka anda!" teriak Gill karena Franklin telah melajukan kendaraannya.
"Sial! Aku benar-benar di tinggal!" Gill menendang apa saja yang ada di depan kakinya demi melampiaskan kekesalannya.
"Apa yang dia katakan Bran?" tanya Franklin pada sahabatnya yang duduk bagai sultan di kursi belakang.
"Katanya, kau bisa beralasan menemui Vynnitta kembali dengan alasan mengobati luka di dahimu itu. Itulah yang di namakan, mengubah kemalangan menjadi sebuah kemujuran," ucap Brandy dengan santai.
"Apa!"
Cekiiittt ...!
Gabrukk!
"Aww! Astaga!" Brandy yang tak siap ternyata sampai tersungkur ke depan karena Franklin menghentikan tiba-tiba kendaraan roda empatnya itu.
"Kau sama saja dengan Gill. Suka sekali ngerem mendadak!" omel Brandy marah, karena kali ini bukan hanya dahinya yang menjadi korban akan tetapi juga bibirnya.
"Kau harus tanggung jawab. Karena ketampananmu telah kau rusak!" pekik Brandy kepada Franklin, yang mana membuat sahabat nya itu justru melempar tissue sekotak ke wajahnya.
"Penganiayaan!" sungut Brandy.
" Setidaknya bukan hanya aku yang terluka, tapi kau juga. Kita mempunyai alasan yang kuat untuk kembali menemuinya," ucap Franklin dengan senyum penuh arti. Sungguh tidak ada rasa bersalah sama sekali. Padahal Brandy sudah babak belur di buatnya.
"Kenapa berhenti tiba-tiba?" tanya Gill dengan seringai meledek. Entah sejak kapan ia sudah ada di samping mobil.
"Masuk, dan bawa aku menemui Vynnitta. Nanti, katakan padanya jika kita kecelakaan," ucap Franklin dengan rencana brilian nya.
"So jenius!" sindir Gill, seraya mencebikkan bibirnya.
Mereka bertiga pun kembali kerumah Vynnitta, sementara itu ... pak kades baru saja hendak bertolak dari rumah Vyn.
__ADS_1
"Uncle Hero pulang dulu ya cantik. Nanti, kita mainan lagi," ucap Xilondra seraya berniat pamitan pada Alessia. Sudah sejak beberapa jam lalu ia asik bermain dengan gadis kecil yang menggemaskan ini. Meski ia sesekali melirik ke dalam, berharap Vynnitta ikut bergabung bersama mereka berdua. Tentu, akan terlihat seperti keluarga harmonis sungguhan.
Akan tetapi Vynnitta memilih sibuk mengerjakan tanaman herbalnya. Ia sibuk di depan tungku demi meramu dan meracik obat. Sedangkan, Maria bertugas menggiling tanaman herbal yang telah di keringkan terlebih dahulu.
"Terimakasih, Uncle Hero. Lain kali akan Ale tunjukkan lukisan yang tengah Ale buat ya," ucapnya dengan suara ceria khas anak kecil.
"Kenapa tidak sekarang saja. Membuat Uncle penasaran," sahut Xilo seraya mencubit gemas hidung mancung nan mungil Alessia.
"Oh no! Karena, lukisan itu adalah kado dari Ale untuk Mommy. Nanti, Ale mau minta tolong Uncle untuk memasangkan pigura pada lukisan itu," jelas Ale dengan mata yang berkedip lucu serta bibir yang terus bergerak dengan gaya bicara nya yang ceriwis.
"Wah, anak yang baik. Kau sungguh manis Alessia cantik. Jadi Ale sudah menyiapkan kado untuk mommy? Hem, Uncle saja belum sama sekali," ucap Xilo yang kagum akan pemikiran Ale. Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa mempunyai pikiran seperti itu. Merencanakan sesuatu yang manis untuk sang mommy tercintanya. Siapa yang tidak jatuh cinta pada Alessia, ketika melihat tingkah lakunya yang begitu menggemaskan begini.
"Uncle Jangan memuji Ale berlebihan begitu. Apapun yang Ale lakukan belum tentu setara dengan kebaikan yang mommy berikan untuk Ale. Bahkan, mommy telah banyak berkorban dan berjuang demi Ale. Jadi, apa yang Ale lakukan adalah hal yang wajar. Iya kan Uncle?" tanya Alessia polos, meskipun kalimat yang barusan terlontar dari bibir mungilnya bukanlah hal polos yang seharusnya di ucapkan oleh anak-anak seusianya.
"Tentu saja sayang. Ale benar dan sangat tepat. Sebagai anak, hal yang wajah bagi kita. Bahkan wajib dan suatu keharusan. Mengungkapkan cinta dan kasih sayang kita kepada wanita yang selama sembilan bulan rela membawa kita kemanapun dalam keadaan apapun. Seorang Ibu adalah manusia hebat yang harus kita muliakan. Ale berhati murni. Ale pasti akan menjadi anak yang membanggakan mommy," ucap Xilo dengan jiwa kebapakannya.
Karena itulah Ale sangat betah bermain dengannya. Karena, Xilondra selalu menyisipkan nasihat di setiap obrolan keduanya. Tentu saja sifat Ale yang lebih dewasa dari usianya tak lepas dari pengaruh lingkungan dan juga orang-orang di sekitarnya dan juga Vynnitta.
Keluarga serta lingkungan yang mendukung, akan mencipta dan mencetak kepribadian seorang anak. Baik dan buruknya tergantung bagaimana didikan orang tua dan juga lingkungannya. Karena, seorang anak hanyalah kertas kosong berwarna putih tanpa titik noda. Ia akan menjadi apapun tergantung bagaimana kita melukis karakteristiknya.
'Uncle sangat menginginkan mu untuk menjadi putriku sesungguhnya Alessia. Kau anak yang pintar, sungguh keberuntungan bagi siapapun orangtuamu karena telah di titipkan malaikat kecil berhati murni seperti dirimu.' Batin Xilondra dengan setitik harapan yang membuat nya tetap bersemangat dan tak menyerah dalam mendapatkan hati Vynnitta. Karena ia bukan hanya jatuh cinta pada ibunya, akan tetapi juga pada putrinya. Sejak Alessia bayi, Xilondra tak pernah berada jauh. Xilondra tau betul bagaimana perkembangan Alessia hingga kini.
Xilondra pun beranjak meninggalkan rumah yang hangat itu setelah berpamitan juga dengan Vynnitta. Ia kembali menaiki motor gedenya dan melambaikan tangan pada Alessia setelah mengenakan helm full face.
Tak lama setelah Xilondra pergi, sebuah mobil berhenti di depan gerbang pekarangan rumah Vynnitta. Baru saja Alessia hendak berbalik ke dalam rumah. Wajahnya kembali sumringah tatkala kedua mata indahnya menangkap satu sosok yang sangat ia dambakan.
" Uncle ganteng!" teriak Alessia seraya berlari, kemudian menghambur kedalam pelukan Franklin.
" Uncle, Ale kangen," ucapnya lirih.
" Masa sih? Baru ketemu tadi siang," kekeh Franklin menanggapi rayuan maut gadis berusia empat tahun ini.
" Uncle kok kesini lagi? Kangen sama Ale apa sama Mommy?" cecar Alessia, sehingga membuat dua orang di dalam mobil melongo mendengar pertanyaannya barusan. Kalau soal ekspresi Franklin ya jangan ditanya lagi. Wajah pria itu sudah semerah kepiting rebus.
__ADS_1
"Apa Uncle sakit? Wajah Uncle merah!"
Bersambung>>>