
🌹🌹🌹🌹🌹
Sebuah cahaya yang teramat terang mendorong keras tubuh kekar Xilondra hingga ia terpental beberapa meter ke belakang.
"Xilondra!"
"Pak Kades!" pekik bersamaan dari semua orang karena kaget bukan main. Entah, kekuatan seperti apa yang ada di depan sana. Gill dan Brandy segera mendatangi Xilondra untuk membantunya berdiri.
"Anda, baik-baik sajakah?" Brandy dengan sigap memeriksa keadaan Xilondra. Sebuah cairan berwarna merah berbau anyir, keluar dari mulut ketika Xilondra terbatuk-batuk.
"Dorongannya kencang sekali. Dadaku serasa diseruduk banteng," ucap Xilondra sembari meringis sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
"Xilo, minum pil ini. Untuk menyembuhkan luka dalammu." Vynnitta mengeluarkan sebuah tabung berisi kapsul yang ia racik sendiri. Vynnitta memang telah menyiapkan beberapa obat-obatan ketika ingin melakukan perjalanan ini. Ia tau, bahwa di hutan Jatiwarna terdapat banyak bahaya.
Bukan dari hewan-hewan buas, akan tetapi dari kekuatan mistis tak kasat mata. Bukan untuk menyakiti atau hendak menelan korban akan. tetapi ...
"Hutan ini, memiliki Guardians. Kekuatan yang menyerang Xilondra berasal dari perisai pintu masuk. Kekuatan itu, reflek atau otomatis akan menyerang seseorang yang menyimpan kemarahan dan napsu ingin memiliki sesuatu," jelas Vynnitta, yang mana membuat Xilondra menunduk setelah menatapnya.
" Lalu bagaimana cara kita masuk? Apakah Kita semua akan mengalami hal yang serupa?" tanya Gill dengan guratan khawatir yang tercetak jelas di wajah nya.
"Jadi, kekuatan yang kau miliki, akar merambat itu ... apakah kau dapatkan dari tempat ini?" tanya Brandy, yang mana sejak dulu penasaran. Dari mana asal kekuatan magis Vynnitta.
"Kala itu aku di culik, oleh dukun yang ingin mencelakakan ayah dan ibu. Tiba-tiba aku terbangun dalam keadaan terlilit akar menjalar. Ada seorang nenek tua bernama, NYI Laluna. Beliau menyelamatkan nyawaku, dan memberiku kekuatan yang baru aku sadari ketika bertemu dengan ... Franklin," tutur Vynnitta seraya menoleh kearah pria yang ia sebut namanya. Vyn tersenyum tipis kala Alessia tertidur pulas di atas pangkuan Franklin. Bahkan air matanya kembali hendak keluar, saat melihat pria yang setengah ia benci dan setengah lagi ia rindukan itu, sedang mendekap tulus putrinya.
__ADS_1
Begitupun dengan Franklin, pria itu belum pernah menangis untuk apapun kecuali semenjak kehilangan, ayah, ibu, kakek Bou dan juga calon bayinya. Kini, ia kembali mengeluarkan air matanya demi menangisi putri kecilnya yang sedang menderita. "Alessia, Daddy akan melakukan apapun demi dirimu, Nak. Berikan, Daddy kesempatan untuk merawat mu. Oma Elli sangat ingin bertemu denganmu lagi. Daddy, mohon. Berikan daddy menebus kesalahan karena tidak ikut melihat perkembangan mu. Maafkan, Daddy ...," lirih Franklin yang semakin tersedu sambil memeluk erat tubuh Alessia yang semakin panas. Keringat membasahi kemejanya, karena suhu tubuh Alessia meningkat tinggi.
Vynnitta mendekati Franklin, dan bersimpuh karena ingin menyentuh kening Alessia. " Semoga kau kuat, sayang. Maafkan, Mommy. Apapun akan Mommy lakukan untuk menyembuhkan mu. Meskipun, nyawa ini taruhannya," ucap Vynnitta seraya terisak.
"Jangan bicara begitu, aku tidak kan membiarkan kalian berdua meninggalkanku lagi." Franklin berkata sambil menggenggam tangan Vynnitta yang berada di atas dada Alessia.
"Vyn, kita mulai meditasi nya sekarang. Alessia, tidak bisa menunggu lagi. Keadaannya semakin lemah. Katakan, apa yang harus kami lakukan untuk Ale!" Xilondra yang sudah merasa lebih baik, berdiri menghampiri Vynnitta dan Franklin.
"Kita harus membuat pola circle, atau lingkaran. Tunjukkan pada Guardian Portal, bahwa niat kita datang bukanlah untuk merusak," jelas Vynnitta. Mereka semua pun mengikuti apa instruksi dari Vynnitta.
...Bersambung ...
__ADS_1